".Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Q.S. Az-Zumar:9)
Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas
terletak pada kualitas ma'rifat (pengetahuan) dan pola fikir mereka.
Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan yang tinggi.
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan.
Pesan Islam tentang pentingnya peningkatan intelektual dan keilmuan akan
banyak kita dapati di berbagai rujukan tradisional yang tidak terhitung
jumlahnya. Sebagai contoh, hadis yang berbunyi,: "Tafakur sesaat lebih
utama dibanding ibadah tiga puluh tahun."
Sedemikian tinggi nilai ma'rifat di mata Islam, sehingga ia
dikategorikan sebagai paling mulianya ibadah, yang jika dibandingkan
dengan ibadah sekian puluh tahun lamanya dan tanpa didasari ilmu dan
ma'rifat, maka ia jauh lebih baik dari pada ibadah tersebut.
Allah swt dalam al-Quran menjelaskan bahwa salah satu fungsi diutusnya
rasul adalah untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan pola fikir
manusia, " ..dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah .." (Q.S.
Jum'ah : 2).
Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari
tingkat ma'rifat si pelakunya. Jika pelaku tidak melandasi perbuatannya
dengan pengetahuan atau ma'rifat, perbuatannya itu tidak bernilai sama
sekali.
Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai
dengan derajat ma'rifat pelakunya. Semakin tinggi derajat ma'rifat
seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan
itu secara
lahiriah nampak remeh, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat "Tidurnya orang alim adalah ibadah."
Di sisi lain, penekanan Islam dalam pengutamaan kualitas ibadah
dibanding kuantitasnya sangat mencolok, seperti yang kita amati dari
ayat 2 surat Al-Mulk: "... supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu
yang lebih baik amalnya... "
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah swt lebih menekankan amal yang terbaik,
bukan yang terbanyak. Jelas bahwa amal terbaik adalah amal yang
dilandasi dengan ma'rifat.
Imam Abu Ja'far a.s. bersabda, "Wahai anakku! Ketahuilah bahwasanya
derajat syiah (pengikut) kita akan sesuai dengan kadar ma'rifat mereka
karena aku pernah melihat di dalam "Kitab Ali" (Mushaf Ali) tertulis
bahwa nilai kesempurnaan seseorang ditentukan oleh kadar ma'rifat-nya"
(Ma'ani al-Akhbar).
Tentu saja, riwayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan ayat yang
mengatakan, ". Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu ." (Q.S.
Al-Hujurat :
13) karena kalau ditelusuri lebih dalam lagi kita akan ketahui bahwa
ketakwaan diperoleh berkat amal saleh dan amal saleh sendiri tidak akan
lahir kecuali dari sumber keimanan, sedangkan keimanan ini mustahil
dicapai tanpa landasannya, yaitu ma'rifat.
Ringkasnya, ketakwaan tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu dan
ma'rifat. Di samping itu, kemuliaan manusia yang dinilai dengan
ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ketakwaannya tersebut; yaitu
ma'rifat.
Maka, betapa besar perhatian dan penekanan ajaran Islam terhadap nilai
ilmu dan ma'rifat, sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt dalam
hadis qudsi berikut ini: "Aku ibarat harta yang terpendam, maka Aku
senang untuk diketahui. Oleh karena itu, Kuciptakan makhluk agar diriku
diketahui" (Bihar al-Anwar).
Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang
memiliki berbagai potensi, adalah untuk ber-ma'rifat kepada Allah yang
merupakan tujuan utama penciptaan. Imam Ja'far Shadiq a.s. dengan
menukil riwayat dari kakek beliau, Imam Ali Zaenal Abidin a.s.
menafsirkan kata "al-Ibadah" yang tercantum dalam ayat "Tidaklah
Kucipta-kan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Q.S
Al-hujarat : 13), bersabda, "Wahai para manusia! Sesung-guhnya Allah swt
tidak menciptakan hamba-hamba-Nya
kecuali untuk mengenal (ber-ma'rifat) kepada-Nya" (Biharul Anwar).
Jelas, dilihat dari sisi definisi, ibadah berbeda dengan ma'rifat.
Namun, jika kita lihat hubungan keduanya, maka kita akan dapat menilai
eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan beribadah
kepada Zat yang
tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat
Mahasempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk
kesempurnaan jiwa kita, sementara kita tidak melakukan ibadah
kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa mustahil dicapai
tanpa ibadah.
Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah membuka khutbah pertamanya dengan
ucapan, "Awal agama adalah mengenal-Nya." Maka, awal yang harus diraih
seorang hamba dalam ber-ma'rifat adalah pengetahuan tentang penciptanya
yang melahirkan suatu keyakinan. Ia tidak akan mencapai suatu keyakinan
tanpa pengetahuan.
Lawan ma'rifat adalah taqlid. Kata ini berarti mengikuti ucapan
seseorang tanpa landasan argumen. Maka, taqlid tidak dikategorikan
sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan.
Sehubungan dengan ma'rifatullah dalam pandangan Islam, khususnya mazhab
Ahlul Bayt, setiap manusia harus meyakini keberadaan Allah swt dengan
berbagai konsekuensi ketuhanan-Nya, karena keyakinan tidak mungkin
muncul tanpa landasan ilmu dan argumen. Oleh karena itu, Islam melarang
taqlid
dalam masalah ini.
Tentu saja, manusia tidak mungkin ber-ma'rifat dan mengenal Zat Allah
SWT haqqu ma'rifatih (secara utuh dan sempurna), sebagaimana yang
dibuktikan oleh akal. Karena, bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas
(makhluk) dapat mengetahui dan menjangkau zat yang tidak terbatas
(al-Khaliq) dari berbagai sisi-Nya. Oleh sebab itu, rasul sebagai
makhluk yang paling sempurna pernah bersabda dalam penggalan munajatnya,
"Wahai Tu-hanku, diriku takkan pernah
mengetahui-Mu sebagaimana mestinya."
Hal ini tidak berarti kita bebas dari kewajiban mengenalnya, Imam Ali
a.s. pernah menegaskan, "Allah swt tidak menyingkapkan hakikat sifat-Nya
kepada akal, kendati Dia pun tidak menggugurkan kewajibannya untuk
mengenal
diri-Nya" (Nahjul Balaghah).
Setiap ilmu dan ma'rifat, khususnya ma'rifatullah, yang dimiliki oleh
setiap individu ataupun suatu komunitas sangat berpengaruh pada perilaku
moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita bisa bandingkan mereka
yang
meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut pandangan
dunia materialis. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia
tidak memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh,
anggapan yang
bermuara dari keyakinan bahwa kebermulaan alam ini dari shudfah
(kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa kematian merupakan titik
akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian.
Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim
maupun adil,
berbudi luhur maupun tercela.
Maka, ketika anggapan-anggapan tersebut menjadi dasar pengetahuan,
sekaligus menjadi dasar keyakinan, mereka hidup sebagai hedonis yang
selalu berlomba untuk mencari segala bentuk kenikmatan duniawi dan
menganggapnya
sebagai kesempurnaan sejati yang harus dicari oleh setiap orang, sebelum
ajal mencengkeram mereka. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lebih
sakral dibanding kenikmatan hidup ini, dan nilai-nilai moral seseorang
akan terus berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi dunia
dengan berbagai atributnya, sehingga standar etika mereka adalah segala
hal yang berkaitan dengan prinsip materialisme dan hedonisme.
Berbeda dengan pandangan agama samawi, khususnya Islam. Bertolak dari
prinsip tauhid3 muncullah keyakinan-keyakinan, seperti adanya
tujuan-tujuan pasti yang tak pernah sia-sia di balik penciptaan alam
semesta ini,
termasuk penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT, "Apakah
engkau menyangka bahwa telah kami ciptakan dirimu (manusia) dengan
kesia-siaan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (Q.S.
Al-Mu'minun : 115)
Oleh karena itu, kematian menurut mereka bukanlah akhir dari kehidupan.
Sebaliknya, ia lebih merupakan gerbang awal dari kehidupan abadi. Maka,
suatu keniscayaan bagi Allah swt Zat yang Maha adil dan Maha tahu akan
setiap gerak perilaku makhluk-Nya, untuk menjadikan suatu alam selain
alam dunia ini sebagai tempat pertanggung-jawaban atas setiap perbuatan
manusia selama masa hidupnya di dunia.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hanya Allah swt satu-satunya Zat
yang Mutlak dari berbagai sifat kesempurnaan, sehingga jika kita dapati
kebaikan dan keindahan di alam fana ini, maka itu merupakan bentuk
manifestasi penjelmaan) kebaikan dan keindahan-Nya.
Yang dimaksud dengan "manusia sempurna" adalah suatu derajat di mana
manusia telah mampu mencapai bentuk penjelmaan sifat-sifat Ilahi dalam
dirinya, sekaligus berhasil menjauhkan diri dari berbagai sifat yang
harus
dijauhkan dari sifat-sifat Allah swt. Hal inilah yang selalu dianjurkan
oleh Rasul dalam sabda beliau: "Berakhlaklah dengan akhlak Allah."
Dalam konteks ibadah sehari-hari, kita selalu dianjurkan berniat untuk
taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya. Taqarub di sini
mengisyaratkan pada tasyabbuh (penyerupaan diri dengan sifat-sifatNya).
Semakin bertambah kualitas dan kuantitas manisfestasi sifat-sifat
kesempurnaan Ilahi dalam
diri asyiq (seorang pecinta Tuhan), niscaya ia semakin dekat dengan
ma'syuq-nya (kekasih), begitu pula sebaliknya. Jika manifestasi itu
minim dan pudar, atau bahkan tidak ada sama sekali, ia akan selalu jauh
dari penciptanya.
Berbicara tentang penyerupaan sudah menjadi hal yang wajar bagi
seseorang mencintai sesuatu. Ia akan selalu berusaha untuk melakukan
hal-hal yang mengingatkan dirinya kepada kekasihnya seperti; meniru gaya
hidup, mencintai apa yang dicintai kekasihnya dan seterusnya. Begitu
juga jika ia
membenci sesuatu, maka ia selalu berusaha untuk melupakan dan menjauhkan
diri dari apa yang ia benci. Demikian pula yang dialami oleh pecinta
Ilahi.
Perlu ditekankan bahwa jauh-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya bukan
berupa jarak materi, tapi merupakan tingkat manifestasi sifat-sifat
Ilahi pada diri hamba tersebut, karena kesempurnaan Ilahi tidak teratas,
sementara manusia diliputi oleh berbagai macam keterbatasan. Oleh sebab
itu, perjalanan untuk liqa' (bertemu) dengan Allah swt pun tidak berbatas.
Untuk sampai dan bertemu dengan Tuhannya, para salik akan melalui banyak
rintangan, berupa hijab (tabir-tabir penghalang) yang harus ia
singkirkan untuk sampai pada tujuan yang dia rindukan. itu semua perlu
usaha optimal,
baik berupa pengetahuan yang bersifat teoritis ataupun aplikatif nyata.
Karena, tanpa pengetahuan yang maksimal, suluk seorang hamba tidak akan
bisa terwujud. Bekal ilmu seorang salik yang terbatas akan menjauhkan
diri dari tujuannya. Imam Shadiq a.s. bersabda, "Seorang pelaku
perbuatan tanpa landasan pengetahuan ibarat berjalan di luar jalur yang
akan ditempuh. Semakin cepat ia bergerak, tidak akan menambah (cepat
sampai tujuan), akan tetapi malah semakin menjauh (dari tujuan)." (Ushul
al-Kafi)
Kegagalan perjalanan seorang hamba dalam mencapai tujuannya disebabkan
oleh bekal pengetahuan yang tidak cukup, karena pengetahuan yang minim
menyebabkan kerancuan memilah baik dari buruk, keyakinan yang benar dari
yang salah, juga niat yang tulus dari yang tercemar oleh syirik atau
bisikan setan; memperdaya dan menipu dengan berbagai angan dan khayalan,
sehingga menerjang apa yang harus dihindari dan meninggalkan apa yang
harus dilakukan. Maka, bagaimana mungkin seorang hamba yang rindu
bertemu dengan kekasih sejatinya dan mendapatkan keridhoan-Nya,
sementara ia menempuh jalan yang tidak diridhai, bahkan dibenci oleh
sang kekasih.
Seperti yang telah kita ketahui ilmu tanpa amal ibarat pohon tak
berbuah. Ilmu tidak akan memberi manfaat apapun bila tidak diamalkan.
Allah swt berfirman dalam surat Al-Jatsiah ayat 23, "Maka pernahkan kamu
melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya." Ayat ini
menjelaskan bahwa ilmu tidak menjamin orang untuk mendapatkan hidayah
(petunjuk). Sedangkan penyesatan yang dilakukan oleh Allah swt terhadap
orang yang berilmu tadi, hanya karena ketaatan mereka kepada hawa nafsu
dan ketidaksesuaian amal mereka dengan pengetahuannya.
Allamah Thabatha'i r.a. dalam tafsir al-Mizan dalam mengomentari ayat di
atas menjelaskan bahwa pertemuan ilmu --tentang jalan yang harus
ditempuh-- dengan kesesatan bukan suatu kemustahilan. Bukankah Allah swt
berfirman, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan,
padahal hati mereka sungguh meyakini kebenarannya" (an-Naml:14)..
Tidak ada konsekuensi antara ilmu dan hidayah atau antara kejahilan dan
kesesatan. Akan tetapi, petunjuk (hidayah) merupakan penjelmaan ilmu di
mana si empunya (alim) selalu komitmen dengan ilmunya, namun jika tidak,
maka kesesatan akan menimpanya walaupun ia berilmu.
Dalam kehidupannya, terkadang manusia melupakan apa yang disebut dengan
maslahat universal yang harus ia raih, sehingga ia lebih mengedepankan
maslahat semu di depan matanya dibanding maslahat jangka panjang yang
hakiki. Dalam meraih hal semu tersebut tak jarang ia menggunakan dengan
cara-cara yang bertentangan dengan perintah Allah dan lebih mengikuti
hawa nafsunya, "Terangkan kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai Tuhannya." (Q.S. Al-furqan : 43).
Oleh karena itu, dalam menuju kesempurnaan abadi dan maslahat hakiki,
selain diperlukannya ma'rifat sebagai pondasinya, juga tarbiyah yang
dalam bahasa al-Quran disebut tazkiyah (penyucian diri) sebagai salah
satu fungsi
diutusnya rasul, ".Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
menyucikan mereka dan mengajarkannya .." (Q.S. Al-jum'ah : 2). Tazkiyah
inilah sebagai pilar utama dari tegaknya bangunan kesem-purnaan jiwa
manusia.
Semoga Allah swt selalu memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dengan perantara Rasul dan keluarga suci beliau. Amin.
Dalam panggung sejarah manusia, pernah hidup dua orang saudara kandung.
Awalnya perjalanan hidup keduanya diwarnai keharmonisan dan saling
pengertian. Kondisi seperti ini berubah ketika keduanya mencapai usia
berkeluarga.
Sang ayah memerintahkan si kakak agar menikah dengan saudari kembar
adiknya, sementara adiknya dijodohkan dengan saudari kembarnya. Pada
titik ini nafsu buruk mulai mencuat dan berperan. Tidak seperti adiknya,
si kakak menolak perintah, lantaran pilihan sang ayah tak cocok dengan
harapannya. Kemudian sang ayah memerintahkan keduanya untuk berkorban.
Si kakak yang petani menyiapkan hasil tanamannya yang jelek . sebaliknya
adiknya yang peternak memilih yang terbaik diantara hewan peliharaanya.
Tentu saja kurban yang baik secara kualitas dan kuantitaslah yang
diterima Allah. Rasa iripun menguasai si kakak, lantas ia mengancam
untuk membunuhnya adiknya. Lantaran rasa takutnya kepada Allah, adiknya
tak mau meladeni dan membalas ancaman tersebut meskipun ia lebih
perkasa. Akhirnya, tumpahlah darah manusia untuk pertama kalinya.
Dibunuhlah sang adiknya, sekalipun setelah itu sang kakak merasakan
penyesalan yang amat dalam.
Itulah episode Qobil dan Habil, putera manusia dan Nabi Pertama , Adam
as. Qobil dan habil kini telah tiada dan tak mungkin hidup kembali. Akan
tetapi dua karakter manusia yang berbeda dan paradoksal itu akan tetap
eksis dan hidup pada diri anak cucu keturunan Adam as.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam dua dimensi jiwa. Ia memiliki
karakter , potensi, orientasi dan kecenderungan yang sama untuk mlakukan
hal-hal positif dan negatif. Inilah salah satu ciri spesifik manusia
yang membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya. Sehingga manusia
dikatakan sebagai makhluk alternatif, artinya ia bisa menjadi baik dan
tinggi derajatnya di hadapan Allah. Sebaliknya, ia pun bisa menjadi
jahat dan jatuh terperosok pada posisi yang rendah dan buruk. Ia bisa
bagai hewan, bahkan lebih jelek lagi. Dalam kaitan ini, manusia
dbierikan oleh Allah kekuatan ikhtiar atau usaha untuk bebas menggunakan
potensi positif dan negatifnya. Namun ia tak boleh melupakan, bahwa
semua pilihan dan tindakannya akan dipertanggung jawabkan di hadapan
pengadilan tinggi Allah Yang Maha Adil, kelak di akhirat. Lantaran itu,
bukanlah pada tempatnya manakala manusia menjadikan takdir sebagai
alasan dan kambing hitam bila ia melakukan perbuatan negatif, dengan
mengatakan bahwa segala sesuatunya telah ditakdirkan Allah SWT. Seakan
manusia itu wayang yang tak biasa berperan kecuali bila diperankan sang
dalang. Padahal Allah tak akan merubah keadaan suatu kaum kalau mereka
tidak berusaha merubahnya.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS Ar-Ra’d:
11)
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seorang pencuri, yang diajukan
kepada Umar bin Khattab ra., mengatakan bahwa dirinya melakukan
pencurian karena sudah ditakdirkan Allah. Lalu dengan tangkas Umar bin
Khattab menjawab bahwa bila tangannya dipotong , juga merupakan takdir
Allah. Namun di pihak lain, Allah pun tak biasa dipersamakan dengan
pembuat arloji. Setelah arloji itu dibikin dan dilempar ke pasar maka ia
tak tahu lagi bagaimana nasib arloji tersebut, apakah masih berputar
atau sudah mati. Allah senantiasa memonitor dan mengontrol makhluk-Nya.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang
Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk
dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada
yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah
mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan
mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang
dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak
merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(QS Al-Baqarah: 255)
“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus
mengurusi (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur” (QS. 2:255).
Dua dimensi jiwa manusia senantiasa saling menyaingi, mempengaruhi dan
berperang. Kemungkinan jiwa positif manusia menguasai dirinya selalu
terbuka, seperti yang dialami Habil. Dan jiwa negatifpun tak tertutup
kemungkinan untuk mengontrol diri manusia, seperti yang terjadi pada
Qobil. Tataplah sosok seorang Mush’ab bin Umair ra yang hidup di masa
Rasulullah SAW. Ia putera seorang konglomerat Makkah. Namanya menjadi
buah bibir masyarakat, terutama kaum mudanya. Sebelum masuk Islam ia
dikenal dalam lingkaran pergaulan jet set. Namun, suatu hari mereka tak
lagi melihat sosoknya. Mereka kaget ketika mendengarnya sudah menjadi
pribadi lain. Benar, ia sudah bersentuhan dengan dakwah Rasulullah SAW
dan hidup dalam kemanisan iman dan kedamaian risalahnya. Sehingga cobaan
beratpun ia terima dengan senyuman dan kesabaran. Kehidupan glamour ia
lepaskan. Bahkan dialah yang terpilih sebagai juru dakwah kepada
penduduk Madinah. Disisi lain , tengoklah pribadi Musailamah
Al-Khadzdzab. Setelah mengikuti kafilah dakwah Rasulullah SAW, jiwa
negatifnya masih menonjol, ketamakan akan kedudukan dan kehormatan
membawanya pada pengakuan diri sebagai nabi palsu. Akhrinya ia mati
terbunuh dalam kondisi tak beriman di tangan Wahsyi dalam suatu
peperangan.
Manusia tentu saja memiliki harapan agar jiwa positifnya bisa menguasai
dan membimbing dirinya. Sehingga ia bisa berjalan pada garis-garis yang
benar dan haq. Akan tetapi seringkali harapan ini tak kunjung tercapai,
bahkan bisa jadi justru kondisi sebaliknya yang muncul. Ia terperosok ke
dalam kubangan kebatilan. Disinilah betapa besar peranan lingkungan
yang mengelilingi diri manusia baik keluarga kawan, tetangga, guru
kerabat kerja, bacaan, penglihatan, pendengaran, makanan, minuman,
ataupun lainnya. Semua itu memberikan andil dan pengaruh dalam mewarnai
jiwa manusia.
Islam , sebagai Din yang haq, memberikan tuntunan ke pada manusia agar
ia menggunakan potensi ikhtiarnya untuk memilih dan menciptakan
lingkungan yang positif sebagai salah satu upaya pengarahan,
pemeliharaan , tazkiyah atau pembersihan jiwa dan sebagai tindakan
preventif dari hal-hal yang bisa mengotori jiwanya. Disamping itu,
diperlukan pendalaman terhadap tuntunan dan ajaran Islam serta
peningkatan pengalamnnya. Evaluasi diri dan introspeksi harian terhadap
perjalanan hidupnya, tak kalah pentingnya dalam tazkiyah jiwa. Manakala
jalan ini ditempuh dan jiwanya menjadi bersih dan suci, maka ia termasuk
orang yang beruntung dalam pandangan Allah SWT. Sebaliknya , apabila
jiwanya terkotori oeh berbagai polusi haram dan kebatilan, maka ia
termasuk orang yang merugi menurut kriteria Allah SWT.
“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu jalan kefasikan dan ketakqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah
orang yang mesucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang
mengotorinya”(QS. 91:7-10).
Dua suasana jiwa yang berbeda itu akan tampak refleksinya masing-masing
perilaku keseharian manusia, baik dalam hibungannya dengan Allah,
lingkungan maupun dirinya. Jiwa yang suci akan memancarkan perilaku yang
suci pula, mencintai Alah dan Rasul-Nya dan bermanfaat bagi lingkungan
sekitarnya. Sedangkan jiwa yang kotor akan melahirkan kemungkaran dan
kerusakan.adalah benar bahwa Allah tidak melihat penampilan lahir
seseorang, tetapi yang dilihat adalah hatinya, sebagaimana disebutkan
dalam satu hadits. Tetapi ini dimaksudkan sebagai penekanan akan
pentingnya peranan niat bagi sebuah amal, bukan untuk menafikan amal
lahiriah. Sebuah amal ibadah akan diterima Allah manakala ada
kesejajaran antara perilau lahiriah dan batiniah, disamping sesuai
dengan tuntunan Din. Lebih dari itu, secara lahiriah, manusia bisa saja
tampak beribadah kepada Allah. Dengan khusyu’ ia melakukan ruku’ dan
sujud kepada-Nya. Namun jiwanya belum tunduk ruku dan sujud kepada Allah
Yang Maha Besar dan Perkasa , kepada tuntunan dan ajaran-Nya.
Tazkiyah jiwa merupakan suatu pekerjaan yang sungguh berat dan tidak
gampang. Ia memerlukan kesungguhan, ketabahan dan kontinuitas.
Sebagaimana amal baik lainnya, tazkiyah adalah bagai membangun sebuah
gedung, disana banyak hal yang harus dikerahkan dan dikorbakan.
Sedangkan pengotoran jiwa, seperti amal buruk lainnya, adalah semisal
merobohkan bangunan, ia ebih mudah dan gampang serta tak banyak menguras
tenaga.
“Jalan menuju surga di rintangi dengan berbagai kesulitan. Sedangkan
jalan menuju neraka ditaburi dengan rangsangan hawa nafsu”, demikian
sabda Rasulullah SAW.
Tazkiyah jiwa ini menjadi lebih berat lagi ketika manusia hidup dalam
era informatika dan globalisasi dalam kemaksiatan dan dosa. Dimana
kreasi manusia begitu canggih dan signifikan. Mansusia seakan tak
berdaya mengikuti irama dan gelombangnya.
Sebenarnya Islam memiliki sikap yang akrab dan tidak menolak sains dan
tekhnologi, sementara sains dan tekhnologi tersebut tidak bertentangan
dan merusak lima hal prinsip (ad – dkaruriyat al khams); Din , jiwa
manusia, harta, generasi dan kehormatan. Sehingga tidak ada paradoksal
antara jiwa positif dan bersih serta nilai-nilai kebaikan dengan
perkembangan dan kemajuan zaman. Pengalaman tuntunan dan akhlak Islami,
meski tanpa pemerkosaan dalam penafsirannya, tidak pernah bertentangan
dengan alam sekitar. Lantaran keduanya lahir dari satu sumber, Allah
SWT, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Salah faham terhadap
konsep ini akan mengakibatkan kerancuan pada langgam kehidupan
manusia.maka yang tampak adalah bukit hingar bingar dan menonjolnya
sarana pengotoran jiwa manusia. Akhirnya, nilai nilai positif dan
kebenaran seringkali tampak transparan dan terdengar sayup-sayup.
Benarlah apa yang menjadi prediksi junjungan kita, Nabi Muhammad SAW:
“Orang yang sabar dalam berpegang dengan Din-nya semisal orang yang memegang bara api”.
Mereka acapkali mengalami banyak kesulitan dalam mengamalkan Din-nya.
Sehingga mereka merasa asing dalam keramaian. Namun demikian, tidaklah
berarti mereka boleh bersikap pesimis dalam hidup. Bahkan sebaliknya,
mereka harus merasa optimis. Sebab dalam situasi seperti ini, merekalah
sebenarnya orang yang meraih kemenangan dalam pandangan Islam.
“Islam mulai datang dalam keterasingan dan akan kembali dalam
keterasingan pula sebagaimana mulanya. Maka berbahagialah orang – orang
yang terasing”. (Al Hadist).
Dalam fenomena seperti ini, tak tahu entah dimana posisi kita. Yang
jelas, manusia senantiasa dianjurkan oleh Allah agar meningkatkan
kualitas dan posisi dirinya di hadapan Nya. Dan Allah tak pernah menolak
setiap hamba yang benar-benar ingin kembali kepada jalan-Nya. Bahkan
lebih dari itu, manakala hamba Nya datang dengan berjalan, maka Ia akan
menjemputnya dengan berlari. Sungguh Allah benar-benar Maha Pengasih
lagi Maha Pengampun. Kita berharap, semoga kita termasuk orang-orang
yang mau mendengar panggilan-Nya yang memiliki jiwa muthmainnah, jiwa
yang tenang. Sehingga kita akhirnya berhak meraih panggilan kasih sayang
–Nya.
“Hai jiwa yang tenang . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang
puas dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan
masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.99:27-30)
Di dalam diriku ada hati yang baru
Yang dipenuhi dengan semangat menyatu
Di dalam batinku ada roh yang bersuka
Yang bergembira di tengah alam terbuka
Di dalam relung hatiku ada gairah
Dan alunan kidung pujian yang indah
Di dalam kehidupanku ada hid
Rabu, 25 April 2012
marifat
06.32
No comments






0 komentar:
Posting Komentar