4/201. Ibnu Mas’ud RA mengatakan bahwa Rasulullah SAWbersabda,
إنَّ
أوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِي إسْرَائِيلَ أنَّهُ كَانَ
الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ ، فَيَقُولُ : يَا هَذَا، اتَّقِ الله ودَعْ
مَا تَصْنَعُ فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ لَكَ ، ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الغَدِ
وَهُوَ عَلَى حَالِهِ ، فَلا يَمْنَعُهُ ذلِكَ أنْ يَكُونَ أكِيلَهُ
وَشَريبَهُ وَقَعيدَهُ ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذلِكَ ضَرَبَ اللهُ قُلُوبَ
بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ )) ثُمَّ قَالَ : { لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ
بَنِي إِسْرائيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ
بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ
مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ تَرَى كَثِيراً
مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ
أَنْفُسُهُمْ } – إِلَى قوله – { فاسِقُونَ } [ المائدة : 78- 81 ] ثُمَّ
قَالَ : (( كَلاَّ، وَاللهِ لَتَأمُرُنَّ بالمَعْرُوفِ ، وَلَتَنْهَوُنَّ
عَنِ المُنْكَرِ ، وَلَتَأخُذُنَّ عَلَى يَدِ الظَّالِمِ ،
وَلَتَأطِرُنَّهُ عَلَى الحَقِّ أطْراً ، وَلَتَقْصُرُنَّه عَلَى الحَقِّ
قَصْراً ، أَوْ لَيَضْرِبَنَّ اللهُ بقُلُوبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ ،
ثُمَّ ليَلْعَننكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ ))
‘Sesungguhnya kerusakan
pertama yang terjadi pada Bani Isra’il ialah ketika seseorang bertemu
kawannya yang sedang berbuat kejahatan lalu ditegur, ‘Ya fulan!
Bertakwalah pada Allah dan tinggalkan perbuatan yang tidak halal itu’.
Kemudian pada esok harinya mereka bertemu lagi, sedangkan ia masih
berbuat maksiat lagi, maka ia tidak mencegah kemaksiatannya. Bahkan ia
menjadi teman makan minum dan teman duduknya. Jika demikian keadaan
mereka, maka Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana firman-Nya,
‘Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Isra’il dengan lisan Daud
dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, dikarenakan mereka durhaka dan
selalu melampui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang
tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa
yang selalu mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka
tolong-menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat
buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan
Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya
mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya (Nabi), tentu tidak menjadikan orang-orang
musyrikin sebagai pemimpin, tapi kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang fasik’. ” (Qs. Al Maaidah(5): 78-81).
Kemudian Rasulullah SAW
bersabda, “Janganlah seperti mereka. Demi Allah! kalian harus menyuruh
kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan menahan kejahatan orang zhalim,
dan kalian kembalikan ke jalan yang hak dan kalian batasi dalam hak
tersebut. Kalau kalian tidak berbuat demikian, maka Allah akan menutup
hati kalian, kemudian melaknat kalian, sebagaimana Allah melaknat
mereka.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”) .
Sedangkan lafazh hadits yang diriwayatkan Tirmidzi adalah Rasulullah SAW bersabda,
لَمَّا وَقَعَتْ بَنُو إسْرَائِيلَ في المَعَاصي نَهَتْهُمْ عُلَمَاؤهُمْ
فَلَمْ يَنْتَهُوا ، فَجَالَسُوهُمْ في مَجَالِسِهمْ ، وَوَاكَلُوهُمْ
وَشَارَبُوهُمْ ، فَضَربَ اللهُ قُلُوبَ بَعضِهِمْ بِبعْضٍ ، وَلَعَنَهُمْ
عَلَى لِسانِ دَاوُد وعِيسَى ابنِ مَرْيَمَ ذلِكَ بما عَصَوا وَكَانُوا
يَعتَدُونَ )) فَجَلَسَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – وكان
مُتَّكِئاً ، فَقَالَ : (( لا ، والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى
تَأطِرُوهُمْ عَلَى الحَقِّ أطْراً )) .
Ketika kemaksiatan sudah
melanda Bani Isra’il, maka ulama-ulama mereka mencegahnya, tapi mereka
tetap melakukannya. Sehingga ulama-ulama mereka ikut serta dalam
majelis mereka, dan makan minum bersama, maka Allah menutup hati mereka
dan melaknat mereka, dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam, karena
kemaksiatan mereka yang melampui batas. Ketika itu Rasulullah duduk
bersandar, dan bersabda, ”Tidak, demi Allah yang jiwaku ada
ditangan-Nya, kalian harus membelokkan mereka dan menghentikannya kepada
yang benar”.
Keterangan:
Hadits ini sanadnya dha’if
karena ada Abu Ubaidah bin Abduliah bin Mas’ud; ia tidak mendengar
sendiri riwayat hadits tersebut, melainkan dari bapaknya, sebagaimana
dijelaskan oleh At-Tirmidzi, sehingga hadits ini ke munqati’ (terputus
sanadnya). Ibnu Hibban menegaskan bahwa ia (Abu Ubaidah) sama sekali
tidak pernah mendengar sesuatupun dari bapaknya”. Hal ini juga diakui
oleh Al Hafizh AI Mazzi (di Tahdzib At-Tahdzib), dan Al Hafizh Ibnu
Hajar Al Asqalani.
Lihat Silsilah Al Ahadits
Adh-Dhaifah hadits no. 1105; Dhaif Sunan At-Tirmidzi hadits no. 582;
Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 932; Dha ‘if Sunan Ibnu Majah hadits
no. 867; Al Misykah hadits no. 5148; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 196,
dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 196
5/292. Ummu Salamah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
أيُّمَا امْرَأةٍ مَاتَتْ ، وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الجَنَّةَ
”Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “hadits ini hasan”).
Keterangan:
Hadits ini Mungkar, karena
didalam sanadnya terdapat dua perawi majhul (tidak dikenal), yaitu
Musawir Al Himyari dan ibunya (karena Musawir membawa kabar ini dari
ibunya). Ibnu Al Jauzi dalam Al Wahiyat (2/141) berkata, “Musawir dan
ibunya adalah majhul.” Adz-Dzahabi berkata dalam Al Mizan, “Dalam
sanadnya ada perawi yang majhul dan khabar (hadits) itu munkar”.
Meskipun hadits tersebut dha’if
tetapi ada hadits lain yang shahih -yang memberikan makna bahwa
ketaatan seorang istri akan mengantarkannya ke surga- yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Bazzar, Nabi SAW bersabda,
“Jika seorang wanita telah
melaksanakan shalat lima waktu, puasa selama satu bulan (Ramadhan),
menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka ia masuk surga
dari pintu mana saja yang ia inginkan“. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bazzar; Shahih Al Jami’ hadits no. 660 dan 661).
Lihat Silsilah Al Ahadits
Adh-Dhaifah hadits no. 1426. Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 200;
Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 407; Dha’if Al Jami’ hadits no.
2227; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 286; dan Takhrij Riyadhush-Shalihin
hadits no. 286
6/337. Salman bin Amir RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,
إِذَا أفْطَرَ أحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطرْ عَلَى تَمْرٍ ؛ فَإنَّهُ بَرَكةٌ ،
فَإنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً ، فالمَاءُ ؛ فَإنَّهُ طَهُورٌ )) ، وَقالَ :
(( الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ ، وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ
: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
‘‘Jika salah seorang kalian
berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena kurma itu berkah.
Kalau tidak ada kurma maka dengan air, karena ia suci”. Beliau
bersabda, “Sedekah kepada orang miskin berarti hanya sedekah, sedangkan
sedekah kepada kaum kerabat mempunyai (pahala) dua; yaitu sedekah dan
hubungan persaudaraan.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, Hadits ini hasan ).
Keterangan:
Lafazh hadits Nabi,
إِذَا
أفْطَرَ أحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطرْ عَلَى تَمْرٍ ؛ فَإنَّهُ بَرَكةٌ ،
فَإنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً ، فالمَاءُ ؛ فَإنَّهُ طَهُورٌ
(Jika Salah seorang kalian
berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena ‘kurma itu berkah.
Kalau tidak ada kurma maka dengan air, karena ia suci) adalah
hadits dha’if dari segi sanad dan shahih dilihat dari perbuatan Nabi
SAW; yaitu jika berbuka beliau berbuka dengan kurma, dan apabila tidak
ada maka dengan air putih. Sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Sunan
At-Tirmidzi hadits no. 560, yaitu:
“Dari Anas bin Malik, dia
berkata bahwa Rasulullah SAW jika berbuka -sebelum melaksanakan shalat-
maka beliau berbuka dengan beberapa buah kurma matang. Jika tidak ada,
maka dengan beberapa buah kurma kecil kering. Jika tidak ada, maka
beliau berbuka dengan meminum air secara sedikit-sedikit.” (HR. At-Tirmidzi)
Lanjutan hadits tersebut yaitu,
الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ ، وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَة
(Sedekah kepada orang
miskin berarti hanya sedekah, sedangkan sedekah kepada kaum kerabat
mempunyai (pahala) dua; yaitu sedekah dan hubungan persaudaraan) adalah hadits hasan. Matan hadits ini mempunyai syahid pada no. 331.
Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi
-dengan ringkasan sanad, nomor 531, dan Shahih Sunan Abu Daud- dengan
ringkasan sanad, nomor hadits 2065. Shahih Sunan Ibnu Majah -dengan
ringkasan sanad, nomor hadits 1494-, Dha’if Sunan Ibnu Majah, -dengan
nomor 374-, dan Irwa ‘ul Ghalil -dengan nomor hadits 922-.
7/347. Abu Usaid Malik bin Rabiah As-Sa’idi RA berkata,
بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – إذ جَاءهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ ،
فَقَالَ : يَا رسولَ اللهِ ، هَلْ بَقِيَ مِنْ برِّ أَبَوَيَّ شَيء أبرُّهُما بِهِ بَعْدَ مَوتِهمَا ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، الصَّلاةُ عَلَيْهِمَا ، والاسْتغْفَارُ لَهُمَا ، وَإنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِما ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتي لا تُوصَلُ إلاَّ بِهِمَا ، وَإكرامُ صَدِيقهمَا
فَقَالَ : يَا رسولَ اللهِ ، هَلْ بَقِيَ مِنْ برِّ أَبَوَيَّ شَيء أبرُّهُما بِهِ بَعْدَ مَوتِهمَا ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، الصَّلاةُ عَلَيْهِمَا ، والاسْتغْفَارُ لَهُمَا ، وَإنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِما ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتي لا تُوصَلُ إلاَّ بِهِمَا ، وَإكرامُ صَدِيقهمَا
“Ketika kami duduk di sisi
Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salimah, ia
bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah masih ada jalan untuk berbakti kepada
kedua orang tuaku sesudah mereka meninggal?’ Nabi bersabda,
‘Ya, dengan jalan mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya,
melaksanakan janji (wasiat) keduanya, menjalin silaturrahim yang hanya
dapat dilakukan dengan keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya”. (HR. Abu Daud)
Keterangan:
Sanad hadits ini dha’if, karena
dalam periwayatan hadits ini ada seorang perawi yang bemama Ali bin
Ubaid As-Sa’idi, dia adalah orang yang tidak dikenal. Sedangkan perawi
lainnya adalah tsiqah (terpercaya).
Lihat dalam kitab
Bahjatun-Nazhirin hadits no. 343 oleh Syaikh Salim bin Id Al Hilali;
Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 343 oleh Syaikh Syuaib Al
Arnauth.
8/360. Maimun bin abi Syabib berkata,
أنَّ عائشة رَضي الله عنها مَرَّ بِهَا سَائِلٌ ، فَأعْطَتْهُ كِسْرَةً ،
وَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ عَلَيهِ ثِيَابٌ وَهَيْئَةٌ ، فَأقْعَدَتهُ ،
فَأكَلَ ، فقِيلَ لَهَا في ذلِكَ ؟ فقَالتْ : قَالَ رَسُول الله – صلى
الله عليه وسلم – : (( أنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ )) رواه أبو داود
. لكن قال : ميمون لم يدرك عائشة . وقد ذكره مسلم في أول صحيحه تعليقاً
فقال : وذكر عن عائشة رضي الله عنها قالت : أمرنا رسول الله – صلى الله
عليه وسلم – أن ننزل الناس منازلهم ، وَذَكَرَهُ الحَاكِمُ أَبُو عبد الله
في كتابه (( مَعرِفَة عُلُومِ الحَديث )) وَقالَ : (( هُوَ حديث صحيح )) .
“Seorang peminta lewat di
depan Aisyah, maka dia memberinya sepotong roti. Kemudian tidak lama
datang seorang peminta yang lebih sopan, dipersilakannya duduk dan
diberi makan. Ketika Aisyah ditegur tentang perbedaan dalam
memperlakukan kedua peminta tersebut, ia berkata, ‘Rasulullah SAW
bersabda, ”’Tempatkanlah masing-masing orang menurut kedudukannya”.’” (HR. Abu Daud, ia berkata, “Maimun tidak bertemu dengan Aisyah RA”).
Muslim menyebutkan di awal
kitab Shahih-nya, secara mu’allaq disebutkan dari Aisyah RA bahwa ia
berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk menempatkan setiap
orang pada tempatnya”. Al Hakim Abu Abdillah menyebutkan dalam kitab
(nya) Ma’rifat Ulum Al Hadits, dia berkata, “Hadits tersebut shahih”.
Keterangan:
Hadits ini sanadnya terputus,
yaitu antara Maimunah dengan Aisyah RA. Juga ada seorang perawi yang
bemama Habib bin Abu Tsabit, dia seorang mudallis dan meriwayatkan
sanad dengan kata “Fulan an fulan. Sedangkan riwayat Muslim di awal
kitab Shahih-nya, bahwa syarat perawi yang dipakai Muslim pada hadits
tersebut bukan syarat yang ditetapkan pada kitab shahih-nya.. Sedangkan
perkataan Al Hakim tidak mempunyai dasar, karena sanad hadits tersebut
terputus dan terjadi tadlis di dalamnya.
Lihat Al Misykah hadits no. 4989 Bahjatun-Nadzirin hadits no. 356).
9/363. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
مَا أكْرَمَ شَابٌّ شَيْخاً لِسِنِّهِ إلاَّ قَيَّضَ الله لَهُ مَنْ يُكْرِمُهُ عِنْدَ سِنِّه
‘Tidaklah seorang pemuda
menghormati orang yang lebih tua karena usianya. Kecuali Allah akan
mendatangkan untuknya orang yang menghormatinya ketika dia sudah tua. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini gharib”)
Keterangan:
Hadits ini dha’if dan mempunyai
dua cacat. Di dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Yazid bin
Bayan Al Muallim Al Uqaili. Adz-Dzahabi mengatakan (dalam Al Mizan)
bahwa Ad-Daruquthni berkata, “Dia (Yazid) adalah perawi yang lemah”. Al
Bukhari berkata, “Dalam sanad hadits itu ada perawi yang perlu
diteliti. Begitu juga gurunya Abu Rihal; Abu Hatim berkata tentang dia:
dia seorang yang tidak kuat (hafalannya) dan munkar Haditsnya.
Lihat Adh-Dhaifah hadits no. 304 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 359.
10/378.Umar bin Khaththab RA berkata:
اسْتَأذَنْتُ
النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – في العُمْرَةِ ، فَأذِنَ لِي ، وَقالَ :
(( لاَ تَنْسَنا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ )) فَقَالَ كَلِمَةً مَا
يَسُرُّنِي أنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا
وفي رواية : وَقالَ أشْرِكْنَا يَا أُخَيَّ في دُعَائِكَ
حديث صحيح رواه أَبُو داود والترمذي، وَقالَ: حديث حسن صحيح
وفي رواية : وَقالَ أشْرِكْنَا يَا أُخَيَّ في دُعَائِكَ
حديث صحيح رواه أَبُو داود والترمذي، وَقالَ: حديث حسن صحيح
“Aku minta izin kepada Nabi SAW untuk melakukan umrah, dan beliau mengizinkanku. Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Jangan engkau lupakan kami hai saudaraku dalam doamu’.” Umar berkata, “Sungguh, itulah suatu ucapan yang menyenangkan bagiku, daripada aku memiliki dunia ini”.
Dalam riwayat lain: Nabi berpesan, “Sertakanlah (sebutkanlah) kami dalam doa-doamu hai saudaraku”. (An-Nawawi berkata, “Hadits shahih”. Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih)
Keterangan:
Hadits ini sanadnya dha’if
karena ada perawi yang bernama Asim bin Ubaidillah, seorang yang dha’if
Jadi Imam An-Nawawi menshahihkan hadits ini seakan-akan ia bertaqlid
kepada At-Tirmidzi, dimana hadits itu seakan-akan tidak nampak oleh
beliau kedha’ifannya.’
Lihat rincian takhrij hadits ini dalam kitab Al Misykah hadits no. 2248 dan Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 264.
11/413. Abu Hurairah RA berkata,
قَالَ
: قرأ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : { يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ
أَخْبَارَهَا } [ الزلزلة : 4 ] ثُمَّ قَالَ : (( أتَدْرونَ مَا
أخْبَارهَا )) ؟ قالوا : الله وَرَسُولُهُ أعْلَمُ . قَالَ : (( فإنَّ
أخْبَارَهَا أنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلّ عَبْدٍ أَوْ أمَةٍ بما عَمِلَ عَلَى
ظَهْرِهَا تَقُولُ : عَملْتَ كَذَا وكَذَا في يَومِ كَذَا وكَذَا فَهذِهِ
أخْبَارُهَا )) رواه الترمذي ، وَقالَ : (( حديث حسن صحيح ))
“Ketika RasuluHah SAW membaca (ayat) ‘Pada hari itu bumi menceritakan beritanya‘, beliau bersabda, ”Tahukah kalian apakah kabar bumi itu? Sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Nabi SAW bersabda, ”Kabar
bumi itu ialah, bumi akan menjadi saksi atas setiap perbuatan manusia,
baik laki atau perempuan, sebagaimana yang dikerjakan di atasnya‘. Bumi berkata, “Engkau telah berbuat ini dan itupada hari ini dan hari ini“. Itulah kabar beritanya’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”)
Keterangan:
Sanad hadits ini dha ‘if.
Karena ada perawi yang bernama Yahya bin Abi Sulaiman Al Madani, orang
yang lemah dalam periwayatan haditsnya.
Lihat Adh-Dha’ifah hadits no. 4834 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin Syu’aib Al Arnauth, hadits no. 408.
12/486. Abu Amru (Utsman) bin Affan RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,
لَيْسَ
لاِبْنِ آدَمَ حَقٌّ في سِوَى هذِهِ الخِصَالِ : بَيْتٌ يَسْكُنُهُ ،
وَثَوْبٌ يُوارِي عَوْرَتَهُ ، وَجِلْفُ الخُبز وَالماء )) رواه الترمذي ،
وقال : (( حديث صحيح ))
”Tiada hak bagi seorang
manusia (anak turun Adam) dalam semua hal kehidupan ini, selain rumah
(tempat tinggal), pakaian yang menutup auratnya, roti kering serta air“. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini shahih’).
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada
perawi yang bernama Harits bin As-Sa’ib, sebagaimana Ibnu Qudamah
menyebutkan dalam Al Muntakhab (10/1/2) dari Hambal, dia berkata, “Aku
bertanya kepada Abu Abdillah (Al Imam Ahmad) tentang Harits bin
As-Salb, maka dia berkata, ‘Tidak ada halangan terhadapnya, melainkan
dia meriwayatkan hadits munkar, (dikatakan hadits dari Utsman, dari
Nabi SAW, padahal tidak dari Nabi SAW), untuk hadits tersebut’”.
Qatadah juga meriwayatkan dan ia menyelisihinya, yaitu ia meriwayatkan
dari Al Hasan, dari Hamran, dan dari seorang ahli kitab.
Lihat Adh-Dhaifah hadits no. 1063 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 482.
13/488. Abdulah bin Mughaffal RA berkata,
قَالَ رجل للنبي – صلى الله عليه وسلم – :
يَا رسولَ الله ، وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ ، فَقَالَ : (( انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ ؟ )) قَالَ : وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ ، ثَلاَثَ مَرَّات ، فَقَالَ : (( إنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تِجْفَافاً ، فإنَّ الفَقْرَ أسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّني مِنَ السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))
يَا رسولَ الله ، وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ ، فَقَالَ : (( انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ ؟ )) قَالَ : وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ ، ثَلاَثَ مَرَّات ، فَقَالَ : (( إنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تِجْفَافاً ، فإنَّ الفَقْرَ أسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّني مِنَ السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))
“Seorang berkata kepada Nabi SAW, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, aku cinta kepadamu’. Nabi menjawab, ‘Perhatikan, apa yang kamu katakan itu”
Orang tersebut berkata lagi, ‘Demi Allah, aku cinta kepadamu, ya
Rasulullah. Kata-kata tersebut diulanginya sampai tiga kali. Lalu Nabi
SAW bersabda, “Jika engkau memang benar-benar cinta kepadaku, maka
bersiap-siaplah engkau menghadapi kemiskinan sebagai perisai kehidupan,
karena kemiskinan lebih cepat datangnya kepada orang yang cinta
kepadaku, melebihi kecepatan banjir yang mengalir ke dalam jurang”.‘ (Riwayat At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan gharib”).
Keterangan:
Hadits ini dha’if karena ada
dua perawi yang bernama Syidad bin Thalhah Ar-Rasibi dan Abul-Wazi’,
mereka berdua dha’if Matan (redaksi) haditsnya mungkar. Banyak riwayat
hadits shahih yang menjelaskan dan memuji harta yang halal ketika harta
itu berada di tangan orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, Nabi SAW
bersabda,
“Tidak dianggap suatu hasad
jika seseorang iri dalam dua hal, orang yang diberi pemahaman oleh
Allah dalam Al Qur’an, dan ia menegakkannya sepanjang malam dan siang,
dan seorang yang diberi harta oleh Allah. Lalu ia bersedekah dengan
harta itu sepanjang malam dan siang”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 409; Bahjatun-Nazhirin hadits
no. 484; Takhrij Riyadhush-Shalihin no hadits 484 oleh Syaikh Syu’aib
Al Amauth.
14/524. Asma’ binti Yazid RA berkata,
كَانَ كُمُّ قَمِيصِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الرُّصْغِ . رواه أَبو داود والترمذي ، وقال : حديث حسن
“Lengan baju Rasulullah SAW panjangnya sampai pergelangan tangan”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan)
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bemama Syahar bin
Husyaib. Al Hafizh berkata (dalam kitab At-Taqrib), “la orang yang
jujur (Shaduq), tetapi banyak meriwayatkan hadits secara
mursal(periwayatan yang disandarkan langsung kepada Nabi SAW). la juga
banyak meriwayatkan dengan periwayatan yang meragukan”. Aku katakan (Al
Albani), “Syahar adalah orang yang lemah riwayatnya dan buruk
hafalannya.”
Lihat Adh-Dhai’fah hadits no. 2458 dan Bahjatun no . hadits 519.
Mengingat Kematian dan Mengurangi Angan-angan
15/583. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,
بادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعاً ، هَلْ تَنْتَظِرُونَ إلاَّ
فَقراً مُنسياً ، أَوْ غِنىً مُطغِياً ، أَوْ مَرَضاً مُفسِداً ، أَوْ
هَرَماً مُفْنداً ، أَوْ مَوتاً مُجْهزاً ، أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ
غَائِبٍ يُنْتَظَرُ ، أَوْ السَّاعَةَ فالسَّاعَةُ أدهَى وَأَمَرُّ
Segeralah beramal sebelum datangnya tujuh macam
keadaan: apakah yang kamu nantikan selain kemiskinan yang dapat
melalaikan, atau kekayaan yang dapat membuat orang sombong, atau suatu
penyakit yang dapat merusak badan, atau masa tua yang melelahkan, atau
datangnya kematian dengan cepat, atau kedatangan dajjal sejahat-jahat
yang dinantikan, atau hari kiamat padahal hari kiamat itu sangat pedih
dan dahsyat“. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan
Disunnahkan Ziarah Kubur Bagi Laki-laki dan berdoa ketika berziarah
16/589. Ibnu Abbas RA berkata,
مرَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بِقُبورٍ بالمدِينَةِ
فَأقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ ، فَقَالَ : السَّلامُ عَلَيْكُمْ يَا
أهْلَ القُبُورِ ، يَغْفِرُ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ ، أنْتُمْ سَلَفُنَا
وَنَحنُ بالأثَرِ )) رواه الترمذي ، وقال : حديث حسن )) .
“Nabi SAW berjalan di kuburan Madinah, lalu beliau
menghadap ke kuburan tersebut sambil berdoa, ‘Selamat sejahtera kepada
kalian hai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian
telah mendahului kami dan kami berikutnya’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bernama Qabus bin
Abi Zhabyan. An-Nasa’i berkata, la (Qabus) tidak kuat hafalannya.” Ibnu
Hibban berkata, “la buruk hafalannya dan ia sendiri yang
meriwayatkannya dari bapaknya, yang tidak mempunyai sandaran untuknya”.
Mungkin At-Tirmidzi mengatakan Hadits tersebut hasan karena ada
pertimbangan bahwa hadits tersebut ada Syawahidnya (hadits-hadits lain
yang semakna, yang memperkuatnya). Makna hadits tersebut shahih, kecuali
matan (redaksi) hadits yang berbunyi: فَأقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ
(maka Nabi SAW menghadap ke kuburan tersebut) periwayatan matan ini
mungkar, karena Qabus meriwayatkan sendiri dari bapaknya. Hadits shahih
yang semakna dengan hadits tersebut antara lain:
“Buraidah RA berkata, “Nabi SAW mengajarkan sahabatnya
jika pergi ke kuburan supaya membaca, ‘Selamat sejahtera bagimu penduduk
kaum mukminin dan muslimin, dan kami insya Allah akan mengikuti kalian.
Aku memohon pengampunan kepada Allah untuk kami dan kalian’.” (HR. Muslim).
Lihat Ahkamul-Jana’iz halaman 197 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 584.
Wara’ (kesederhanaan) dan Menjauhi Syubhat
17/601. Athiyah bin Urwah Assa’di RA berkata, Rasullullah SAW bersabda,
لاَ يَبْلُغُ الْعَبدُ أنْ يَكُونَ منَ المُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأسَ بِهِ ، حَذَراً مِمَّا بِهِ بَأسٌ
رواه الترمذي ، وقال : حديث حسن .
رواه الترمذي ، وقال : حديث حسن .
“‘Seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat takwa yang
sempurna, hingga ia meninggalkan apa-apa yang tidak dilarang karena
khawatir terjerumus ke dalam hal yang dilarang (diharamkan)’‘ (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bemama Abdullah
bin Yazid, ia di-dha’if-kan oleh jumhur ulama hadits. Al Hafizh berkata
(di dalam At-Taqrib) “la adalah orang yang lemah dalam periwayatan
hadits”. Meskipun hadits ini dha’if tetapi maknanya mempunyai dasar yang
menjiwai tentang wara’ (kesederhanaan) dan menjauhi syubhat,
sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:
An-nu’man bin Basyir RA mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda,
‘‘Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram
juga telah jelas, dan diantara keduanya ada hal-hal yang menyerupai
(meragukan), tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Jadi siapa yang
berhati-hati dari syubhat maka akan terjaga agama dan kehormatannya, dan
siapa yang terjerumus ke dalam syubhat maka akan terjerumus ke dalam
yang haram“. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Lihat kitab Takhrij Al Halal wal Haram hadits no. 178 Bahjatun-Nazhirin hadits no. 596
Tentang Dajjal dan Tanda-tanda – Hari Kiamat
63/1841. Abu Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah menetapkan
beberapa kewajiban, maka jangan kalian abaikan, dan menetapkan beberapa
hukum, maka jangan kalian langgar, dan menetapkan beberapa yang haram,
maka jangan kalian langgar. Sedangkan mendiamkan beberapa hal
dikarenakan adanya kasih sayang untuk kalian bukan dikarenakan hal itu
terlupakan, maka jangan kalian mencari-carinya (menyelidiki lebih dalam)” (HR. Ad-Daruquthni dan lainnya, hadits hasan).
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat),
sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab di dalam kitab Syarah Al Arba’in
An-Nawawiyah (halaman 200, sebagai berikut:
-
Sebenarnya perawi yang bernama Makhul tidak mendengar dari Abu Tsa’labah.
-
Meskipun benar dia mendengar dari Abu Tsa’labah, tetapi ia melakukan dan meriwayatkannya secara mu’an’an dari Abu Tsa’labah.
-
Adanya perselisihan pendapat ahli hadits tentang kedudukan haditsnya yang disandarkan kepada Abu Tsa’labah,
Riwayat hadits tersebut ada syahidnya lewat dua jalur
periwayatan dari Abu Ad-Darda seperti yang diriwayatkan oleh
Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni:
Apa saja yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitab-Nya
maka menjadi halal, apa yang diharamkannya maka ia menjadi haram, dan
apa yang didiamkannya darinya maka itu termaafkan. Jadi kalian terimalah
apa yang dimaafkannya, karena sesungguhnya Allah tidak lalai akan
segalanya.” Kemudian Nabi SAW membacakan ayat yang berbunyi, ”Tidaklah
Tuhanmu menjadi lupa” (Surah Maryam ayat 64); (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni)
Namun hadits ini lemah sekali karena pada jalur periwayatan
Ath-Thabrani ada perawi yang bernama Ashram bin Hausyib, dia seorang
pendusta Jalur periwayatan dari Ad-Daruquthni ada perawi yang bernama
Nahsyal Al Khurasani, yang juga seorang pendusta.
Namun ada riwayat hadits hasan dari riwayat At-Tirmidzi dan
Ibnu Majah yang memberikan makna seperti hadits tersebut, ketika Nabi
SAW ditanya tentang hukum samin (lemak) dan jubn (keju), maka Nabi SAW
menjawab,
Yang halal sudah ditetapkan kehalalannya oleh Allah di
dalam kitab-Nya, yang haram sudah ditetapkan keharamannya di dalam
kitab-Nya, dan apa saja yang didiamkannya maka itu perkara yang di
maafkan-Nya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 1410)
Lihat Ghayatul Maram fi Takhrij Ahadits Halal wal Haram hadits no. 4,
Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1832, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin
hadits no. 1832Larangan Mendatangi Dukun dan Ahli Nujum
58/1679. Qabishah bin Al Mukhariq RA mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,
(( العِيَافَةُ ، وَالطِّيَرَةُ ، والطَّرْقُ ، مِنَ الجِبْتِ )) . رواه أبو داود بإسناد حسن .
Corat-coret (menggaris menebak nasib) atau menebak
nasib dengan burung atau melempar burung supaya terbang; kalau terbang
ke arah kanan bertanda baik, sedangkan kalau ke kiri bertanda sial,
merupakan perbuatan tukang ramal.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang hasan)
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang majhul
(tidak diketahui identitasnya) yaitu Hayyan bin Al Alla, walaupun
demikian, ada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan
tentang syiriknya perbuatan meramal, khurafat, atau yang lainnya,
diantaranya adalah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,
‘Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, dan shafar”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan tambahan: dan tidak ada na’u serta ghul”.
Adwa: penjangkitan atau penularan
penyakit. Sabda Nabi SAW bermaksud menolak anggapan masyarakat
jahiiiyah, bahwa penyakit berjangkit atau menular tidak terjadi dengan
sendirinya, melainkan dengan kehendak dan takdir Allah SWT.
Thiyarah‘. merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.
Hamah’. burung hantu. Orang-orang
jahiliyah merasa bernasib sial jika melihatnya. Jika burung hantu
hinggap di suatu rumah, maka mereka berkeyakinan bahwa akan ada berita
kematian dirinya atau anggota keluarganya.
Shafar: orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan shafar akan membawa kesialan atau mendatangkan hal-hal yang tidak menguntungkan.
Na’u’ tenggelam atau terbitnya suatu
bintang: Masyarakat jahiliyah menisbatkan kepada bintang dalam suatu
urusan, misalnya turunnya hujan (kepada suatu bintang)
Ghul‘. makhluk halus (hantu/salah satu
makhluk jenis jin). Masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa hantu
tersebut (dengan perubahan bentuk maupun warna) dapat menyesatkan
seseorang dan mencelakakannya. Padahal anggapan tersebut dalam Islam
tidak benar, karena celakanya seseorang atau lainnya berasal dari
kekuasaan Allah SWT.
Lihat Ghayatul Maram hadits no. 301, Dha’if Sunan Abu Daud
hadits no. 842, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1670, dan Takhrij
Riyadhush-Shalihin hadits no. 1670.
Kewajiban Jihad
43/1343. Uqbah bin Amir Al Juhani RA berkata,
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ
ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ
الْخَيْرَ وَالرَّامِيَ بِهِ وَمُنْبِلَهُ وَارْمُوا وَارْكَبُوا وَأَنْ
تَرْمُوا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا لَيْسَ مِنْ اللَّهْوِ
إِلَّا ثَلَاثٌ تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتُهُ أَهْلَهُ
وَرَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا
عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ تَرَكَهَا أَوْ قَالَ
كَفَرَهَا
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah
akan memasukkan tiga orang ke dalam surga karena satu panah. Pembuatnya
dengan niat kebaikan dalam membuatnya; orang yang memberikan anak panah
kepada orang yang melemparkannya, dan orang yang melemparkannya. Untuk
itu berlatihlah melempar dan menunggang. Menurutku berlatih melempar
akan lebih baik daripada hanya menunggang. Siapa yang meninggalkan
kepandaian melempar setelah ia lihai karena rasa jemu, berarti ia
meninggalkan suatu nikmat atau mengabaikannya’ (Riwayat Abu Daud).
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat).
Pertama, dalam sanadnya ada dua orang perawi yang majhul (tidak
diketahui identitasnya), yaitu Khalid bin Zaid dan Abdullah bin Al
Azraq. Kedua, dalam sanadnya idhtirab yaitu yang berlawanan cara-cara
periwayatannya, menyelisihi periwayatan Syaikh Abu Salam, sebagaimana
dijelaskan oleh Al Hafizh Al Iraqi di dalam Takhrij Al Ihya’. Lihat
Takhrij Albani di dalam Takhrij Fiqhus-Sirah (halaman 225),
Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1335, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits
no. 1335.
Tentang Doa-doa
48/1495. Imran bin Al Hushain RA berkata,
“Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat
untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri
nafsi’”. (Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari
kejahatan diriku). (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, bahkan At-Tirmidzi sendiri
mendha’ifkannya hadits tersebut pada kesempatan lainnya, dengan
mengatakan, Hadits gharib, yaitu dha ‘if karena ada perawi yang bernama
Syabib bin Syaibah, orang yang jujur tapi banyak kebimbangan pada
dirinya (wahm) dalam periwayatan suatu hadits, begitu ada perawi lainnya
pada hadits tersebut (yaitu Al Hasan), ia melakukan tadlis (hadits yang
disembunyikan cacat sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di
dalamnya. -Peny.) Ia juga meriwayatkan hadits tersebut dengan mu’an’an
(hadits yang disanadkan dengan kata ‘an Namun ada riwayat hadits dengan
jalur lain yang sanadnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim, yang
dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Nabi SAW mengajarkan doa:
Ya Allah, jauhkan kejahatan pada diriku dan tetapkan bagiku segala kebenaran untuk urusanku”. (HR. Imam Ahmad)
Begitu pula hadits dengan jalur lain yang sanadnya Jayyid, Nabi SAW mengajarkan doa:
“Ya Allah, ampunilah aku akan dosaku, kesalahanku, dan
perbuatanku yang disengaja. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon
petunjuk-Mu, agar segala kebenaran ada pada urusanku, dan aku mohon
perlindungan-Mu dari segala kejahatan yang ada pada diriku”. (HR. Imam Ahmad).
Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 690, Dha’if Al
Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4098, Al Misykah hadits no. 2476,
Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1487, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits
no. 1487.
HASIL CARIAN BAGI PERKATAAN/FRASA
sabda ajak arah cakap firman ujar hadis kata perintah pidato seru suruh syarah ucap BERJAYA MENCAPAI 2223 HADIS DARI KOLEKSI SAHIH BUKHARI SAHIH MUSLIM SUNAN AN-NASAI SUNAN IBNU MAJJAH
( madah titah tiada dalam koleksi )
| 1 |
Hadis Sunan An-Nasai Jilid 1. Hadis Nombor 0437.
Kata Yazid bin Abi Malik: "Anas bin Malik pernah bercerita pada kami: "Pada suatu kali Rasulullah saw bersabda:
"Telah didatangkan padaku seekor binatang yang besarnya hampir sama
dengan, kuda, langkah binatang itu sejauh mata memandang. Aku
dipersilakan naik diatasnya, kemudian aku diajak pergi oleh Jibril. Ketika tiba disuatu tempat, maka aku disuruh turun dan disuruh
mengerjakan solat. Setelah aku laksanakan, maka Jibril bertanya:
"Tahukah kamu dimanakah tadi kamu solat?, Tempat ini adalah Madinah,
tempat ini akan menjadi tempat hijrahmu". Kemudian aku melanjutkan
perjalanan. Setelah itu Jibril memerintahkan aku turun dan memerintahkan aku mengerjakan solat. Kemudian Jibril memberitahu bahawa tempat ini Thur Shina, di tempat inilah Allah pernah berfirman pada Musa. Tidak lama setelah kami melanjutkan perjalanan kami, maka Jibril menyuruh aku untuk mengerjakan solat. Kemudian Jibril memberitahu
bahawa tempat itu adalah Bethlehem, di tempat ini Isa as dilahirkan.
Ketika aku sampai di Baitul Maqdis, aku dapatkan para Nabi as telah
berkumpul di tempat itu. Aku diperintahkan Jibril untuk menjadi imam solat dengan para Nabi. Kemudian aku diajak menuju ke langit dunia, iaitu langit pertama. Di langit pertama aku menemui Adam as. Selanjutnya aku diajak meneruskan perjalanan hingga ke langit kedua. Di langit kedua aku menemukan Isa dan Yahya as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga ke langit ke tiga. Di langit ke tiga aku menemui Yusuf as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga langit ke empat. Di langit ke empat ini aku menemui Harun as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga langit ke lima. Di langit kelima ini aku bertemu dengan Idris as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga langit keenam. Dilangit keenam aku menemui Musa as. Dan akhirnya aku diajak melanjutkan perjalanan hingga dilangit ke tujuh. Di langit yang ketujuh aku bertemu dengan Ibrahim as. Setelah itu aku diajak
melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi hingga sampai di
Sidratil Munthaha. Di tempat ini aku diliputi oleh awan. Kemudian aku
bersujud. Di saat itulah Allah berfirman:
"Sejak Aku jadikan langit dan bumi, Aku telah menetapkan bagimu dan
umatmu 50 kali solat fardhu. Kerana itu kerjakanlah olehmu dan umatmu".
Ketika aku melalui di tempat Nabi Ibrahim, aku tidak mendapat pertanyaan
apapun dari Ibrahim. Ketika aku melalui tempat Musa, maka Musa
bertanya: "Berapa solat yang difardhukan Tuhanmu bagi umatmu?" Kata
Musa :"Sesungguhnya kewajiban itu terlalu berat bagimu dan umatmu,
kerana itu kembalilah pada Tuhanmu dan mohonlah keringanan". Ketika aku
kembali pada Tuhanku untuk memohon keringanan, maka tuhanku memberi
keringanan 10. Setelah aku kembali pada Musa, maka oleh Musa aku
dianjurkan untuk kembali pada Tuhanku guna memohon keringanan lagi.
Demikianlah seterusnya hingga diringankan bagiku hingga menjadi 5 kali
solat. Ketika aku beritahukan pada Musa, maka Musa berkata:
"Kembalilah pada Tuhanmu dan mohonlah keringanan sekali lagi.
Sesungguhnya telah diwajibkan atas Bani Israil hanya 2 kali solat, akan
tetapi mereka tidak mampu mengerjakannya". Ketika aku kembali pada
Tuhanku untuk memohon keringanan. Maka Allah berfirman:
"Sejak Aku jadikan langit dan bumi telah Aku tetapkan bagimu dan umatmu
50 kali solat. Kini telah Aku ringankan menjadi 5 kali solat. Solat 5
kali itu Aku samakan dengan 50 kali solat, kerana itu terimalah
kewajiban ini dan kerjakan dengan sebaiknya." Setelah aku tahu bahawa
ketetapan Tuhanku tidak dapat dirobah, maka aku kembali pada Musa.
Ketika Musa menganjurkan aku untuk mohon keringanan kembali, maka aku
katakan bahawa: "Ketetapan akhir yang sudah ditetapkan tak akan diubah
lagi oleh Tuhanku."
|
| 2 |
Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1255.
Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. ke luar dalam masa peperangan Hudaibiyah. Ketika telah sampai di suatu jalan, Nabi s.a.w. bersabda:"Sesungguhnya
Khalid bin Walid di Ghamim dalam pasukan berkuda orang Quraisy menjadi
pengintip, maka ambillah jalan ke sebelah kanan". Demi Allah, Khalid
tiada mengetahui. sehingga ketika dalam debu tentera berangkatlah Khalid
memacu kudanya untuk memberi peringatan kepada orang Quraisy. Dan Nabi
s.a.w. terus berjalan, hingga ketika beliau berada di puncak bukit yang
akan dituruni menghadap mereka. Unta beliau bersimpuh (berhenti). Orang
banyak berkata: "Hal, hal!" (ucapan menghalau unta). Unta itu tiada mahu berjalan. Mereka berkata: "Qashwa mogok, Qashwa mogok!" Nabi berkata:" Qashwa bukan mogok, dan itu bukan sifatnya. Melainkan ia ditahan oleh yang menahan gajah (yang datang untuk meruntuh Kaabah)". Kemudian Nabi s.a.w. bersabda:
"Demi Tuhan yang diri ku di tanganNya, setiap mereka minta pada ku satu
rencana buat membesarkan kehormatan Tuhan, selalu aku berikan kepada
mereka." Kemudian beliau mengherdik unta beliau, lalu ia melompat. Kata Rawi (yang meriwayatkan hadis):
Kemudian beliau berpaling dari mereka sehingga berhenti di tengah
padang Hudaibiyah. Di situ ada lobang yang berisi sedikit air. Orang
banyak menyauknya sedikit-sedikit dan tinggal di situ, sehingga mereka
menghabiskan air itu. Maka diadukanlah kehausan kepada Rasulullah s.a.w.
Lalu beliau mengambil anak panah dari tabungnya, kemudian beliau suruh
mereka mencacakkannya dalam lobang itu. Maka demi Allah, memancarlah
air dengan derasnya sehingga mereka kembali. Ketika mereka dalam keadaan
demikian, tiba-tiba datanglah Budail bin Warqa' Al Khuzai dalam satu
rombongan dengan kaumnya suku Khuzaah. Mereka adalah kepercayaan
Rasulullah s.a.w. di antara penduduk Tihamah. Kata
Budail: "Saya meninggalkan Kaab bin Luai dan Amir bin Luai, berhenti di
tempat-tempat air Hudaibiyah dan dengan mereka ada unta yang masih
menyusukan anaknya. Mereka akan memerangi dan melarang tuan untuk
mengunjungi Baitullah. Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bahawa sesungguhnya kami datang bukanlah untuk memerangi seseorang,
akan tetapi kami datang untuk mengerjakan 'umrah. Sesungguhnya orang
Quraisy itu telah dilemahkan dan dirusak oleh peperangan. Kalau mereka
menghendaki, saya beri tempoh kepada mereka dan mereka dibiarkan tidak
perang antara saya dan mereka, biarpun saya akan menang. Kalau mereka
hendak masuk ke dalam apa yang dimasuki orang banyak, iaitu perang,
mereka boleh melakukannya! Kalau tidak, maka mereka dapat berehat. Kalau
mereka tiada mahu, maka Tuhan yang, diri ku di tanganNya, mereka akan
saya perangi atas dasar tugas , sampai leher saya putus. Sesungguhnya
Tuhan akan melaksanakan pekerjaanNya". Budail berkata: "Nantilah saya sampaikan kepada mereka apa yang tuan katakan itu". Kata Rawi: Lalu ia berjalan hingga ditemuinya orang Quraisy. Katanya: "Bahawa sesungguhnya kami datang kepada mu dari laki-laki itu (Nabi Muhammad s.a.w.) dan kami dengar beliau mengucapkan sabdanya. Kalau kamu menghendaki supaya kami sampaikan kepada mu, kami lakukan". Orang-orang bodoh di antara mereka berkata: "Satu pun tidak perlu bagi kami untuk engkau khabarkan sabdanya itu". Orang cerdas di antara mereka berkata: "Terangkanlah apa katanya yang engkau dengar! Jawab Budak: "Saya dengar beliau bersabda begini dan begitu". Terus diceritakannya kepada mereka semua yang disabdakan Nabi s.a.w. Urwah bin Masuud lalu berdiri, katanya: "Hai kaumku! Bukankah kamu sebagai bapa?" Jawab mereka: "Ya!" Katanya: "Bukankah saya sebagai anak?" Jawab mereka: "Ya!" Katanya: "Kamu curigaikah saya'!" Jawab mereka: "Tidak!" Katanya:
"Bukanlah kamu telah mengetahui bahawa saya meminta bantuan kepada
penduduk 'Ukaz tatkala mereka tiada membantu saya, lalu saya datang
kepada mu bersama-sama dengan keluarga, anak dan orang yang mengikut
saya'? "Mereka menjawab:"Benar!" Seterusnya ia berkata:
"Orang itu (Nabi Muhammad s.a.w.) sebenarnya telah memberikan rencana
yang benar untuk kamu; hendaklah kamu terima dan biarkanlah saya datang
menghadap beliau!" Jawab mereka: "Datanglah menghadapnya.". Lalu ia
datang menghadap Nabi . berunding dengan Nabi s.a.w. sebagaimana sabda
beliau kepada Budak!. Waktu itu "Urwah berkata:
"Hai Muhammad! Bagaimana pendapat tuan jika tuan hapuskan 'kebiasaan
kaum tuan'? Adakah tuan dengar seseorang di antara orang Arab yang telah
menghapuskan keluarganya'! Kalau sekiranya terjadi, maka sesungguhnya,
demi Allah, saya tiada akan melihat pemimpin-pemimpin, dan sesungguhnya
saya lihat percampuran dari orang banyak, bahawa mereka akan lari dan
meninggalkan tuan". Abu Bakar berkata
kepadanya: "Hisaplah kemaluan Lata. Adakah kami akan lari ,meninggalkan
beliau'!" Tanya 'Urwah: "Siapakah ini'!" Orang banyak menjawab: "Abu
bakar!" Katanya: "Demi Tuhan yang diri ku ditanganNya! Kalau tidaklah kerana jasa-jasa engkau kepada saya yang tiada terbalas. nescaya saya jawab".Kata
Rawi: Dan ia terus berunding dengan Nabi s.a.w. Setiap kali ia
berbicara dijangkaunya janggut Nabi, sedangkan Mughirah bin Syuubah
berdiri di belakangnya dengan memegang pedang dan bertopi waja. Setiap
'Urwah menghulurkan tangannya ke janggut Nabi s.a.w., Mughirah memukul
tangannya dengan ujung sarung pedangnya, katanya:
"Jauhkan tangan engkau dari janggut Rasulullah s.a.w." 'Urwah
mengangkat kepalanya lalu bertanya: "Siapakah ini?" . Orang banyak
menjawab: "Mughirah bin Syuubah!" Kata
Urwah: 'Hai penipu! Bukankah saya telah berusaha menolak tipuan engkau?
Mughirah pada masa jahiliyah bersahabat dengan suatu kaum, maka ia
membunuh dan mengambil harta mereka. kemudian ia datang kepada Nabi
s.a.w., lalu ia masuk Islam". Waktu itu Nabi s.a.w. bersabda:
"Adapun untuk masuk Islam, saya terima. Adapun harta, itu bukan urusan
saya". Sesudah itu 'Urwah menatap sahabat-sahabat Nabi s.a.w. dengan
kedua matanya. Kata 'Urwah: "Demi Allah,
kalau Rasulullah s.a.w.meludah dan jatuh di telapak tangan seseorang di
antara mereka, digosokkannya ke muka dan kulitnya. Apabila beliau
memberi perintah, mereka cepat melakukan perintah itu. Apabila beliau berwuduk, hampir-hampir mereka berkelahi berebutan air bekas wuduk beliau. Apabila beliau bersabda,
mereka merendahkan suara di sisi beliau dan mereka tiada menunjukkan
pandangan pada beliau kerana membesarkannya. Kemudian 'Urwah kembali
kepada kawan-kawan lalu berkata:"Hai
kawan-kawanku! Demi Allah. saya pernah menjadi utusan menemui raja-raja
dan pernah menjadi utusan menemui Kaisar (Raja rom). Kisra (Raja
Parsi),dan Najasi (Raja Habsyah). Demi Allah, belum pernah saya lihat
sekali pun seorang raja yang dibesarkan oleh sahabat-sahabatnya
(pengikutnya) sebagaimana Muhammad s.a.w. dibesarkan oleh
sahabat-sahabat beliau. Demi Allah, jika Rasulullah s.a.w. meludah dan
jatuh di telapak tangan seseorang di antara mereka, mereka
menggosokkannya ke muka dan kulitnya. Apabila beliau memberi perintah kepada mereka, dengan cepat mereka melakukan perintah itu. Apabila beliau berwuduk, hampir-hampir mereka berkelahi berebut air bekas wuduk beliau. Apabila beliau bersabda,
mereka merendahkan suara di sisi beliau dan mereka tiada menujukan
pandangan kepada beliau kerana membesarkan beliau. Dan sesungguhnya
beliau telah memberikan kepada kamu satu usul yang , maka terimalah!"
Seorang laki-laki dari Bani Kinanah berkata:
"Biarkanlah saya menemui beliau!" Mereka menjawab: "Temuilah!" Setelah
ia berada dekat Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabat, Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Si Anu ini dari kalangan kaum yang membesarkan (memuliakan) unta.
Bawalah unta korban itu kepadanya!" Lalu dibawa unta itu, dan orang
banyak pun menyambutnya sambil mengucapkan ucapan selamat datang. Setelah dilihatnya hal demikian itu, ia berkata: "Subhanallah, tiada sepantasnya mereka ini dihalangi mengunjungi Bait (Kaabah) . Setelah ia kembali kepada kawan-kawannya, ia berkata:
"Saya lihat unta korban telah diberi kalung dan diberi tanda. Saya
berpendapat jangan mereka diha1angi mengunjungi Bait (Kaabah)" Seorang
laki-laki di antara mereka yang bernama fdikraz bin Hafs berdiri, lalu berkata: "Biarkanlah saya menemui beliau! Kata mereka: "Temuilah!" Setelah dia hampir tiba, Nabi s.a.w. bersabda:
Ini Mikraz! Dia seorang laki-laki yang jahat! Lalu dia berunding dengan
Nabi s.a.w. Ketika dia berunding dengan beliau itu tiba-tiba Suhail bin
Amr datang. Maamar berkata: Maka Ayyub menceritakan kepada saya tentang Ikrimah, bahawa ketika Suhail bin 'Amr datang, Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya telah mudah semua pekerjaan kamu!" Maamar berkata lagi: Zuhri mengatakan dalam hadisnya: Maka datanglah Suhail bin 'Amr dan berkata: "Marilah kita membuat sebuah surat perjanjian antara kami dan kamu". Kemudian Nabi s.a.w. memanggil seorang penulis, maka disabdakan oleh Nabi s.a.w.: "Bismillahir Rahmanir Rahim". (Dengan nama Allah yang pemurah dan penyayang). Kata
Suhail: "Adapun Rahman, maka demi Allah, saya tiada mengerti apakah
itu? Akan tetapi tulislah "Bismikallahumma" (Dengan nama Engkau, hai
Allah) sebagaimana yang biasa engkau tulis". Kata orang-orang Islam: "Demi Allah, kami tiada akan menuliskan melainkan "Bismillahir Rahmanir Rahim". Nabi s.a.w. bersabda: "Tulislah Bismikallahumma!" Kemudian beliau bersabda: "Inilah yang telah diputuskan oleh Muhammad Rasullullah". Kata
Suhail : "Demi Allah. kalau kami mewakili tuan Rasullullah, tiadalah
kami akan melarang tuan mengunjungi Baitullah dan tiada pula kami akan
memerangi tuan. Akan tetapi tulislah "Muhammad bin Abdullah", Nabi
s.a.w. bersabda: "Demi Allah, bahawa
sesungguhnya saya Rasulullah, tetapi kalau sekiranya kamu mendustakan
saya, tulislah "Muhammad bin Abdullah". Kata
al-Zuhri: Dan hal itu mengingat sabda Nabi: "Kalau mereka minta kepada
ku garis untuk membesarkan agama Allah nescaya aku berikan". Seterusnya
Nabi s.a.w. bersabda: "Kamu jangan menghalangi kami mengunjungi Bait, supaya kami dapat tawaf di situ". Kata
Suhail: "Jangan-jangan nanti orang-orang Arab menceritakan bahawa kami
ditekan (mundur). maka yang demikian itu baiklah dilakukan pada tahun di
muka". Lalu dituliskan. Kata Suhail: "Dan
lagi kalau seseorang di antara kami datang kepada tuan, walaupun ia
memeluk agama tuan, hendaklah tuan kembalikan kepada kami". Kata
orang-orang Islam: "Subhanallah! Mengapa dia dikembalikan kepada orang
Musyrik, sedangkan dia datang sebagai orang Islam?" Ketika mereka dalam
keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin Amr
dalam keadaan terbelenggu. la keluar dari hilir Mekah sehingga sampai di
hadapan orang Islam. Kata Suhail: "inilah hai Muhammad! Buat pertama kali, apa yang saya Minta untuk tuan, kembalikan kepada saya", Nabi s.a.w. bersabda: '.Sesungguhnya kita belum lagi selesai membuat perjanjian". Kata Suhail: "Demi Allah! Kalau begitu selamanya saya tidak mahu berdamai dengan tuan dalam hal apa jua pun;'. Nabi s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia bersama saya!" Katanya: "Saya tiada akan membiarkannya bersama tuan". Sabda beliau: "Ya, mesti engkau lakukan!" Jawabnya: "Saya tidak akan melakukan". Kata Mikraz: "Baiklah kami biarkan dia bersama tuan", Kata
Abu Jandal: "Hai kaum Muslimin, akan dikembalikankah saya kepada
orang-orang musyrik, sedangkan saya datang untuk masuk agama Islam!
Bukankah telah kamu ketahui apa yang saya derita?" Dan dia disingkir
kerana agama Allah dengan seksa yang hebat. Kata Rawi: Umar bin Khattab berkata:Lalu saya datang menghadap Nabi s.a.w. Kata saya: "Bukankah tuan sebenarnya Nabi Allah?" Jawab beliau: "Ya". Kata saya: "Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita menurut yang batil'?" Jawab beliau: "Ya!" Kata
saya: "Kalau begitu apakah tuan masukkan yang kurang baik dalam ugama
kita?" Jawab beliau: "Sesungguhnya saya Rasulullah dan saya tidak pernah
mendurhakaiNya, Dialah yang menolong saya". Kata
saya: "Bukankah tuan pernah menceritakan pada kami, bahawa sesungguhnya
kita akan mengunjungi Baitullah dan kita tawaf di situ'!" Jawab beliau:
"Ya! Adakah saya mengkhabarkan kepada mu bahawa kita akan
mengunjunginya tahun ini'?" Jawab saya: "Tidak!" Umar berkata: "Lalu saya datang menemui Abu Bakar. kata saya: "Hai Abu Bakar! Bukankah orang ini sebenarnya Nabi Allah? Jawabnya: "Ya!" Kata saya: "Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita menurut yang batil?" Jawabnya: "Ya!" Kata saya:"Kalau begitu, mengapa kita datangkan yang kurang baik dalam agama kita?" Kata
Abu Bakar: "Hai Umar! Sesungguhnya beliau sebenarnya Rasulullah s.a.w.
dan beliau tiada mendurhakai Allah. Dialah yang menolong beliau. Maka
peganglah (patuhilah) perintah beliau! Demi Allah! Sesungguhnya beliau atas yang benar!" Kata
saya: "Bukankah beliau pernah menceritakan kepada kita. bahawa
sesungguhnya kita akan mengunjungi Baitullah dan tawaf di situ?" Katanya: "Ya! Adakah beliau mengkhabarkan kepada engkau bahawa engkau akan mengunjungi tahun ini?" Kata saya: "Tidak !" Katanya: "Sesungguhnya engkau akan mengunjunginya lain tahun. Kata Rawi: Setelah selesai membuat surat perjanjian, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabat :"Berdirilah (siaplah Dan sembelihlah korbanmu, kemudian ,bercukurlah" Kata Rawi: Demi Allah! Tiada seorang pun di antara mereka yang berdiri, sehingga beliau ulang ucapan
yang demikian sampai tiga kali. Tatkala tidak ada seorangpun di antara
mereka yang berdiri, beliau lalu masuk ke tempat Ummu Salamah, lantas
beliau khabarkan kepadanya apa yang ditemuinya (dialaminya)dari orang
banyak. Kata Ummu Salamah: "Hai Nabi Allah! Adakah tuan menghendaki yang demikian? Keluarlah tuan. kemudian janganlah tuan berkata
sepatah juapun terhadap seseorang di antara mereka melainkan tuan
sendiri lebih dahulu menyembelih korban tuan, dan tuan panggil tukang
cukur untuk mencukur rambut tuan". Beliau lalu ke luar dan tiada berkata
sepatah pun terhadap seseorang di antara mereka, sehingga beliau
melakukan yang demikian itu. Beliau sembelih korban beliau dan beliau
panggil tukang cukur, lalu dicukurnya rambut beliau. Setelah mereka
melihat yang demikian itu, mereka pun berdiri lalu menyembelih korbannya
dan sebahagian mereka mencukur yang lain, sehingga hampir-hampir
sebahagian mereka membunuh kawannya, kerana cemas (takut terlambat)
menurut perintah. Setelah itu,
perempuan-perempuan yang beriman datang menghadap Rasulullah. Tuhan yang
Maha Tinggi menurunkan ayat. yang ertinya: "Hai orang-orang yang
beriman! Apabila perempuan-perempuan yang beriman datang kepada kamu
berpindah (meninggalkan negerinya), hendaklah mereka kamu uji"- sampai
dengan - "perempuan yang tiada beriman" (Al Quran surat Al Mumtahanah,
10). Waktu itu Umar menceraikan dua orang isterinya yang telah ada pada
waktu syirik (mempersekutukan Tuhan). Kemudian seorang di antaranya
dikahwini oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, dan yang seorang lagi oleh
Safwan bin Umaiyah. Sesudah itu Nabi s.a.w. kembali ke Madinah. Abu
Basil' salah seorang di antara orang Quraisy datang kepada beliau, dia
beragama Islam. Lalu kaum Quraisy menyuruh dua orang laki-laki untuk mencarinya. Kata
perutusan itu kepada Nabi: "Penuhilah janji yang telah dibuat antara
tuan dan kami!" Beliau lalu menyerahkan Abu Basir kepada dua orang
laki-laki tadi. Keduanya lalu berangkat bersama-sama dengan dia sehingga
sampai di Zulhulaifah. Lalu mereka berhenti dan makan kurma. Kata
Abu Basir kepada salah seorang yang berdua tadi: "Demi Allah,
.sesungguhnya saya lihat pedang engkau ini amat bagus!" Laki-laki itu
lalu menghunuskannya, katanya: "Ya, demi Allah, sesungguhnya amat bagus, telah banyak kali saya cuba". Kata
Abu Basil': "Perlihatkanlah kepada saya supaya dapat saya perhatikan!"
Lalu diberikannya. Abu Basil' lalu menetaknya dengan pedang itu sehingga
ia mati. Yang seorang lagi terus lari ke Madinah, dan sampai di Madinah
ia berlari masuk masjid. Ketika Rasulullah s.a.w. melihatnya, beliau bersabda: Sesungguhnya orang ini ketakutan". Setelah ia sampai menghadap Nabi s.a.w. ia berkata: "Demi Allah, ia telah membunuh kawan saya dan saya akan dibunuhnya pula". Dalam pada itu Abu Basil' datang lalu berkata:
"Hai Nabi Allah! Demi- Allah! Tuhan telah menyempurnakan janji tuan!
Sesungguhnya tuan telah mengembalikan saya kepada mereka. kemudian Tuhan
melepaskan saya dari mereka". Nabi s.a.w. bersabda:
"Wahai celaka! Sumber api peperangan! Kalau begitu. perlu seorang
pembantu". Tatkala didengarnya yang demikian itu, mengertilah ia bahawa
sesungguhnya beliau akan mengembalikannya kepada mereka. Lalu ia keluar
sehingga sampai di pantai laut. Kata Rawi:
Abu Jandal bin Suhail menghilang, lalu berhubungan dengan Abu Basir.
Dan seterusnya di antara orang Quraisy yang telah Islam keluar (pergi)
dari Mekah terus berhubung dengan Abu Basir sehingga mereka berkumpul
menjadi satu golongan. Kalau mereka mendengar khabar keberangkatan
rombongan kafilah orang Quraisy pergi ke Syam (Syria), mereka merampas,
membunuh dan mengambil harta mereka. Maka dikirimlah utusan oleh orang
Quraisy menghadap Nabi s.a.w. bermohon kerana Allah dan kerana pertalian
keluarga, membawa pesan. bahawa siapa yang datang kepada Nabi. bahawa
dia dinyatakan aman (tidak dikembalikan ke Mekah). Nabi s.a.w. mengutus
orang memanggil mereka. Lalu Tuhan Yang Maha Tinggi menurunkan ayat yang
ertinya: "Dialah yang telah mencegah tangan mereka terhadap kamu, dan
tangan kamu terhadap mereka di tengah kota Mekah. Sesudah dia
memenangkan kamu di atas mereka sampai dengan kesombongan itu ialah
kesombongan (kebencian) masa jahiliyah". (Surat Al Fath, 24 - 26).
Kesombongan jahiliyah itu ialah kesombongan mereka yang menyebabkan
tiada mahu mengakui Muhammad Rasul Allah dan tidak mahu mengakui Tuhan
yang Pemurah lagi Penyayang serta menghalangi orang Islam mengunjungi
Baitullah (Kaabah).
|
| 3 |
Hadis Sahih Muslim Jilid 1. Hadis Nombor 0005.
Dari Anas bin Malik r.a., katanya:
"Kami dilarang Rasulullah saw. bertanya sesuatu kepadanya. Kerana itu
kami mengharapkan kedatangan orang dusun yang cerdas yang hendak
bertanya kepada beliau, sehingga kami dapat mendengarkannya. Lantas,
pada suatu ketika datang seorang lelaki penduduk dusun. Dia berujar,
"Ya, Muhammad telah datang kepada kami utusan Anda. Dia mengatakan
kepada kami, bahawa Anda utusan Allah." Jawab Nabi saw., "Ya, benar!"
Tanya orang itu, "Siapa yang menjadikan langit?" Jawab Nabi
saw.,"Allah!" Dia bertanya pula, "Siapa yang menjadikan bumi?" Jawab
Nabi saw., "Allah!" Tanyanya lagi, "Siapakah yang memasakkan
gunung-gunung ini, dan yang menjadikan segala isinya?" Jawab Nabi saw.,
"Allah!" Ujar orang itu, "Demi Yang
menjadikan langit dan bumi, dan Yang memasakkan gunung-gunung ini,
sungguhkah Allah yang mengutus Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Kata orang itu pula, "Utusan Anda mengatakan, kami wajib solat lima kali sehari semalam." Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Ujar orang itu, "Demi Yang telah mengutus Anda, sungguhkah Allah yang memerintahkan kepada Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Kata orang itu pula, "Utusan Anda mengatakan, bahawa kami wajib membayar Zakat harta kami." Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Kata orang itu, "Demi Yang telah mengutus Anda, sungguhkah Allah yang memerintahkan kepada Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Ujar orang itu pula, "Utusan Anda mengatakan, bahawa kami wajib puasa sebulan Ramadhan setiap tahun." Jawab Nabi saw. "Ya, benar!" Kata orang itu, "Demi Yang mengutus Anda, sungguhkah Allah yang memerintahkannya kepada Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar" Kata
orang itu pula, "Utusan Anda juga mengatakan, bahawa kami wajib Haji ke
Baitullah, apabila kami sanggup melaksanakannya." Jawab Nabi saw.,
"Ya,benar!" Kata Anas, "Sesudah itu, orang itu pun berlalu sambil berujar: Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, aku tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi semuanya." Maka bersabda Nabi saw., "Jika apa yang dikatakannya itu benar-benar ditepatinya, nescaya dia masuk syurga."
|
| 4 |
Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis Nombor 0005.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahawa Abu Sufyan bin Harb bercerita kepadanya, bahawa Heraelius berkirim surat kepada Abu Sufyan menyuruh
ia datang ke Syam bersama khalifah saudagar Quraisy. Waktu itu
Rasulullah saw. sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan
dengan orang-orang kafir Quraisy. Mereka datang menghadap Heraelius di
Ilia terus masuk ke dalam majlisnya, dihadapi oleh pembesar-pembesar
Rumawi. Kemudian Heraelius memanggil orang-orang Quraisy itu beserta
Jurubahasanya. Heraelius berkata, Siapa di
antara Anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki
yang mengaku dirinya Nabi itu?" Jawab Abu Sufyan. "Saya ! Saya keluarga
terdekat dengannya." Berkata Heraelius (kepada jurubahasanya), "Suruh dekat dekatlah dia kepada ku. Dan suruh pula para sahabatnya duduk di belakangnya." Kemudian berkata Heraelius kepada Jurubahasanya, "Katakan kepada mereka bahawa saya akan bertanya kepada orang ini (Abu Sufyan). Jika dia berdusta, suruhlah
mereka mengatakan bahawa dia dusta." Pertanyaannya yang pertama,
"Bagaimanakah turunannya di kalanganmu?" Aku jawab, "Dia turunan
bangsawan di kalangan kami." Heraelius, "Pernahkah orang lain sebelumnya
mengumandangkan apa yang telah dikumandangkannya?" Jawab ku, "Tidak
pernah." Heraelius, "Adakah di antara nenek moyangnya yang menjadi
raja?" Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Apakah pengikutnya terdiri dari
orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa?" Jawab ku, "Hanya terdiri
dari orang-orang biasa." Heraelius, "Apakah pengikutnya semakin
bertambah atau berkurang?" Heraelius, "Adakah di antara mereka yang
murtad, kerana mereka benci kepada agama yang dipeluknya itu?" Jawab ku,
"Tidak!" Heraelius, "Apakah kamu menaruh curiga kepadanya dia berdusta
sebelum dia mengumandangkan ucapan yang diucapkannya
sekarang? Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Pernahkah dia melanggar
janji?" Jawab ku, "Tidak! Dan sekarang, kami sedang dalam perjanjian
damai dengan dia. Kami tidak tahu apa yang akan diperbuatnya dengan
perjanjian itu." Kata Abu Sufyan
menambahkan, "Tidak dapat aku menambahkan kalimat lain agak sedikit pun
selain kalimat itu." Heraelius, "Pernahkah kamu berperang dengannya?"
Jawab ku, "Pernah." Heraelius, "Bagaimana peperanganmu itu?" Jawab ku,
"Kami kalah dan menang silih berganti. Dikalahkannya kami dan kami
kalahkan pula dia." Heraelius, "Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?" Kata Heraelius kepada jurubahasanya, "Katakan
kepadanya (Abu Sufyan), saya tanyakan kepada mu tentang turunannya
(Muhammad), kamu jawab dia bangsawan tinggi. Begitulah Rasul-rasul yang
terdahulu, diutus dari kalangan bangsawan tinggi kaumnya." Saya
tanyakan, "Adakah salah seorang di antara kamu yang pernah
mengumandangkan ucapan sebagai yang diucapkannya sekarang?" Jawabmu, "Tidak!" Kalau ada seseorang yang pernah, mengumandangkan ucapan yang diucapkannya sekarang, nescaya aku katakan, "Dia meniru-niru ucapan yang diucapkan
orang dahulu itu." Saya tanyakan, "Adakah di antara nenek moyangnya
yang jadi raja?" Jawabmu, "Tidak ada!" Kalau ada di antara nenek
moyangnya yang menjadi raja, nescaya ku katakan,
"Dia hendak menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya." Saya tanyakan,
"Adakah kamu menaruh curiga kepadanya bahawa ia dusta, sebelum ia mengucapkan apa yang diucapkannya
sekarang?" Jawabmu, "Tidak!" Saya yakin, dia tidak akan berdusta,
terhadap manusia apa lagi kepada Allah. Saya tanyakan, "Apakah
pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa?"
Jawabmu, "Orang-orang biasa." Memang, mereka jugalah yang menjadi
pengikut Rasul-rasul. Saya tanyakan, "Apakah pengikutnya makin bertambah
banyak atau semakin kurang?" Jawabmu, "Mereka bertambah banyak."
Begitulah halnya iman hingga sempurna. Saya tanyakan, "Adakah di antara
mereka yang murtad kerana benci kepada agama yang dipeluknya, setelah
mereka masuk ke dalamnya?" Kamu jawab, "Tidak." Begitulah iman, apabila
ia telah berdarah daging sampai ke jantung
hati. Saya tanyakan, "Adakah ia melanggar janji?" Kamu jawab, "Tidak."
Begitu jugalah segala Rasul-rasul yang terdahulu, mereka tidak suka
melanggar janji. Saya tanyakan, "Apakah yang disuruhkannya kepada kamu sekalian?" Kamu jawab, "Ia menyuruh menyembah Allah semata-mata, dan melarang mempersekutukanNya. Dilarangnya pula menyembah berhala, disuruhnya menegakkan solat, berlaku jujur dan sopan (teguh hati)." Jika yang kamu terangkan itu betul , semuanya, nescaya dia akan memerintah
sampai ke tempat aku berpijak di kedua telapak kaki ku ini.
Sesungguhnya aku telah tahu bahawa ia akan lahir. Tetapi aku tidak
mengira bahawa dia akan lahir di antara kamu sekalian. Sekiranya aku
yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan
berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, akan ku
cuci kedua telapak kakinya. Kemudian Heraelius meminta surat Rasulullah
saw. yang diantarkan oleh Dihyah kepada pembesar negeri Bushra, yang
kemudian diteruskannya kepada Heraelius. Lalu dibacanya surat itu, yang
isinya sebagai berikut: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari Muhammad, Hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Heraelius,
Kaisar Rumawi. Kesejahteraan kiranya untuk orang yang mengikut petunjuk.
Kemudian, sesungguhnya saya mengajak Anda
memenuhi panggilan Islam. Islamlah! Pasti Anda selamat. Dan Allah akan
memberi pahala Anda dua kali lipat. Tetapi jika anda enggan, nescaya
anda menanggung dosa seluruh rakyat. Hai,
Ahli Kitab! Marilah kita dalam satu kalimah prinsip sama antara kita,
iaitu supaya tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan jangan
mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan janganlah sebahagian kita
menjadikan sebahagian yang lain menjadi Tuhan selain daripada Allah.
Apabila Anda enggan menuruti ajakan ini, akuilah bahawa kami ini Muslim! Kata Abu Sufyan, "Selesai ia mengucapkan perkataannya dan membaca surat itu, ruangan menjadi heboh dan hiruk pikuk; kami pun disuruh orang keluar. Sampai di luar, aku berkata
kepada kawan. "Sungguh menjadi masalah besar urusan Anak Abu Kabsyah.
Sehingga raja bangsa kulit kuning itu pun takut kepadanya. Aku yakin,
Muhammad pasti menang hingga oleh kerananya Allah memasukkan Islam ke
dalam hatiku." Ibnu Nathur, pembesar negeri Ilia, sahabat Heraelius dan
Uskup(kepala pendeta) Nasrani di Syam, dia menceritakan, "Ketika
Heraelius datang ke Ilia, ternyata fikirannya sedang kacau. Oleh sebab
itu banyak di antara para pendeta yang berkata:
"Kami sangat hairan melihat sikap Anda." Selanjutnya kata Ibnu Nathur,
"Heraelius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan
perjalanan bintang- bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta
yang bertanya kepadanya. Pada suatu malam ketika saya mengamati
perjalanan bintang-bintang, saya melihat Raja Khithan telah lahir.
Siapakah di antara umat ini yang telah dikhatan?" Jawab para pendeta
itu. "Yang berkhatan hanyalah orang Yahudi. Janganlah Anda risau kerana
orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh
negeri dalam kerajaan Anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri itu
dibunuh." Ketika itu dihadapkan kepada Heraelius seorang utusan Raja
Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah saw. Setelah orang
itu selesai bercerita, lalu Heraelius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhatan atau tidak. Setelah diperiksa, ternyata memang dia berkhatan. Lalu diberitahukan
orang kepada Heraelius. Heraelius bertanya kepada orang itu tentang
orang-orang Arab lainnya, "Dikhatankah mereka atau tidak?" Jawabnya,
"Orang-orang Arab itu dikhatan semuanya." Heraelius berkata,
"Inilah raja umat. Sesungguhnya dia telah lahir." Kemudian Heraelius
berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Rome, yang ilmunya setaraf
dengan Heraelius (menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw.).
Dan sementara itu ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hims. Tetapi
sebelum dia sampai di Hims, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba
lebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraelius bahawa
Muhammad telah lahir dan beliau memang seorang Nabi. Heraelius
mengundang para pembesar Rome supaya datang ke tempatnya di Hims.
Setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraelius memerintahkan supaya mengunci setiap pintu. Kemudian dia berkata,
"Wahai, bangsa Rome! Mahukah Anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan
yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita?
Kalau mahu, akuilah Muhammad itu sebagai Nabi!" Mendengar ucapan
itu mereka lari bagaikan keldai melihat keadaan demikian, padahal semua
pintu telah terkunci. Heraelius jadi putus harapan yang mereka akan
iman (percaya kepada Nabi Muhammad saw.). Lalu diperitahkannya supaya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan
saya tadi, hanya sekedar menguji keteguhan hati Anda semua. Kini saya
telah melihat keteguhan itu. Lalu mereka sujud di hadapan Heraelius dan
mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraelius.
|
| 5 |
Hadis Sahih Muslim Jilid 2. Hadis Nombor 1188.
Dari Ja'far bin Muhammad r.a., dari bapanya, katanya:
"Kami datang ke rumah Jabir bin 'Abdullah r.a., lalu dia menanyai kami
satu persatu, siapa nama kami masing-masing. Sampai giliranku ku
sebutkan nama ku Muhammad bin Ali bin Husein. Lalu dibukanya kancing
baju ku yang atas dan yang bawah. Kemudian diletakkannya tapak tangannya
antara kedua susu ku. Ketika itu aku masih muda belia. Lalu dia berkata,
"Selamat datang wahai anak saudara ku! Tanyakanlah apa yang hendak
engkau tanyakan. Lalu aku bertanya kepadanya. Dia telah buta. Ketika
waktu solat tiba, dia berdiri di atas sehelai sejadah yang selalu
dibawanya. Tiap kali sejadah itu diletakkannya ke bahunya, pinggirnya
selalu lekat padanya kerana kecilnya sejadah itu. Aku bertanya
kepadanya, "Terangkanlah kepada ku bagaimana caranya Rasulullah saw.
melakukan ibadah haji." Lalu dia bicara dengan isyarat tangannya sambil
memegang sembilan buah anak jarinya. Katanya, "Sembilan tahun lamanya beliau menetap di Madinah, namun beliau belum haji. Kemudian beliau memberitahukan
bahawa tahun kesepuluh beliau akan naik haji. Kerana itu
berbondong-bondonglah orang datang ke Madinah, hendak ikut bersama-sama
Rasulullah saw. untuk beramal seperti amalan beliau. Lalu kami berangkat
bersama-sama dengan beliau. Ketika sampai di Zulhulaifah, Asma' binti
'Umais melahirkan puteranya, Muhammad bin Abu Bakar. Dia menyuruh tanyakan kepada Rasulullah saw. apa yang harus dilakukannya (kerana melahirkan itu). Sabda
Rasulullah saw. "Mandi dan pakai kain pembalut mu. Kemudian pakai
pakaian ihram mu kembali." Rasulullah saw. solat dua rakaat di masjid
Zulhulaifah, kemudian beliau naiki untanya yang bernama Qashwa. Setelah
sampai di Baida', ku lihat sekeliling ku, alangkah banyaknya orang yang
mengiringkan beliau, yang berkenderaan dan yang berjalan kaki, di kanan
kiri dan di belakang beliau. Ketika itu turun Al-Quran (wahyu), di mana
Rasulullah saw. mengerti maksudnya, iaitu sebagai petunjuk amal yang
harus kami amalkan. Lalu beliau teriakkan bacaan talbiyah: "Labbaika
Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika; innal hamda wan
ni'mata laka, wal mulka la syarika laka labbaika." Maka talbiyah pula
orang ramai seperti talbiyah Nabi saw. itu. Rasulullah saw. tidak
melarang mereka membacanya, bahkan sentiasa membacanya terus menerus.
Niat kami hanya untuk mengerjakan haji, dan kami belum mengenal 'umrah.
Setelah sampai di Bait Allah, beliau cium salah satu sudutnya (hajar
aswad), kemudian beliau tawaf, lari-lari kecil tiga kali dan berjalan
biasa empat kali. Kemudian beliau terus menuju ke maqam Ibrahim 'alaihis
salam. Lalu beliau baca ayat: "Jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat
solat.." (Al Baqarah:125). Lalu ditempatkannya maqam itu di antaranya dengan Bait. Sementara itu ayah ku berkata
bahawa Nabi saw. membaca dalam solatnya "Qul huwallahu ahad..." (Al
Ikhlas: 1-4) dan "Qul ya ayyuhal kafirun " (Al Kafirun: 1-6). Kemudian
beliau kembali ke sudut Bait (hajar aswad) lalu di ciumnya pula.
Kemudian melalui pintu beliau pergi ke Safa. Setelah dekat ke bukit Safa
beliau membaca ayat: "Sesungguhnya saai antara Safa dan Marwah termasuk
lambang-lambang kebesaran agama Allah." (Al Baqarah: 158). Kemudian mulailah dia melaksanakan perintah
Allah. Maka dinaikinya bukit Safa. Setelah kelihatan Baitullah, lalu
dia menghadap ke kiblat seraya mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya.
Ujarnya : "La ilaha illallahu wahdahu la
syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syaiin qadir.
La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa'dahu wa nashara 'abdahu wa hazamal ahzaba wahdahu." Kemudian beliau mendoa. Ucapan
tahlil itu diulangnya sampai tiga kali. Kemudian beliau turun ke
Marwah. Ketika sampai di lembah, beliau berlari-lari kecil. Dan sesudah
itu beliau menuju bukit Marwah, sambil berjalan kembali. Setelah sampai
di puncak bukit Marwah, beliau perbuat apa yang diperbuatnya di bukit
Safa. Tatkala beliau mengakhiri saainya di bukit Marwah, beliau berujar:
"Kalau aku belum lakukan apa yang telah ku perbuat, nescaya aku tidak
membawa hadiah,dan menjadikannya umrah." Lalu bertanya Suraqah bin Malik
bin Ju'syum, katanya: "Ya, Rasulullah!
Apakah untuk tahun ini saja ataukah untuk selama-lamanya?" Rasulullah
saw. memperpancakan jari-jari tangannya yang satu ke jari-jari tangannya
yang lain seraya berkata: Memasukkan
'umrah ke dalam haji? (2x) Tidak! Bahkan untuk selama-lamanya."
Sementara itu 'Ali datang dari Yaman membawa haiwan korban Nabi saw.
didapatinya Fatimah termasuk orang yang tahallul; dia mengenakan pakaian
bercelup dan bercelak mata. Ali melarangnya berbuat demikian. Jawab
Fatimah, "Ayahku sendiri yang menyuruh ku berbuat begini." Kata
'Ali, "Aku pergi menemui Rasulullah saw. minta fatwa beliau terhadap
perbuatan Fatimah itu. Ku jelaskan kepada beliau bahawa aku mencegahnya
berbuat demikian." Sabda beliau, "Fatimah
benar! Fatimah benar!" Kemudian tanya beliau, "Apa yang engkau baca
ketika hendak melakukan haji?" Jawab 'Ali, aku membaca "Wahai Allah! Aku
niat menunaikan ibadah haji seperti yang dicontohkan Rasul Engkau."
Tanya 'Ali, "Tetapi aku membawa haiwan korban, bagaimana itu?" Jawab
beliau, "Engkau jangan tahallul." Kata
Ja'far, "Jumlah hadiah yang dibawa Ali dari yaman dan yang dibawa Nabi
saw., ada seratus ekor. Para jemaah telah tahallul dan bercukur
semuanya, melainkan Nabi saw. dan orang-orang yang membawa hadiah
beserta beliau. Ketika hari Tarwiyah (8 Zulhijah) tiba, mereka berangkat
menuju Mina untuk melakukan ibadah haji. Rasulullah saw. menunggang
kenderaannya. Di sana beliau solat Zohor, Asar, Maghrib, Isyak, dan
Subuh. Kemudian beliau menanti sebentar hingga terbit matahari;
sementara itu beliau menyuruh orang lebih
dahulu ke Namirah untuk mendirikan khemah di sana. Sedangkan orang
Quraisy mengira bahawa beliau tentu akan berhenti di Masy'aril Haram
(sebuah bukit di Muzdalifah). sebagaimana biasanya orang-orang
jahiliyah. Tapi ternyata beliau terus saja menuju 'Arafah. Sampai ke
Namirah didapatinya khemah-khemah telah didirikan orang. Lalu beliau
berhenti untuk istirehat di situ. Ketika matahari telah condong, beliau
menaiki untanya meneruskan perjalanan. Sampai di tengah-tengah lembah
beliau berpidato. Sabdanya: "Sesungguhnya menumpahkan darah
dan merampas harta sesama mu haram, sebagaimana haramnya berperang pada
hari ini, Pada bulan ini, dan di negeri ini. Ketahuilah! Semua yang
berbau jahiliyah telah dihapuskan di bawah undang-undang ku, termasuk
tebusan darah masa jahiliyah. Tebusan darah yang pertama-tama ku hapuskan ialah tebusan darah
Ibnu Rabi'ah bin Harits yang disusukan oleh Bani Sa'ad, lalu ia dibunuh
oleh Huzail. Begitu pula telah ku hapuskan riba jahiliyah; yang
mula-mula ku hapuskan ialah riba yang ditetapkan 'Abbas bin Abdul
Muththalib. Sesungguhnya riba itu ku hapuskan semuanya. Kemudian jagalah
diri mu terhadap wanita. Kamu boleh mengambil mereka sebagai amanah
Allah dan mereka halal bagi mu dengan mematuhi peraturan-peraturan
Allah. Setelah itu kamu punya hak atas mereka, iaitu supaya mereka tidak
membolehkan orang lain menduduki tikar mu. Jika mereka melanggar,
pukullah mereka dengan cara yang tidak membahayakan. Sebaliknya mereka
punya hak terhadap mu. Iaitu nafkah dan pakaian yang patut. Ku wariskan
kepada mu sekalian suatu undang-undang yang jika kamu pegang teguh, kamu
tidak akan tersesat sepeninggal ku, iaitu Kitabullah! Kamu semua akan
ditanya mengenai diri ku. Apakah akan jawab mu?" Jawab mereka, "Kami
menjadi saksi bahawa engkau telah menyampaikan risalah ini kepada kami,
telah menunaikan tugas mu dan telah memberi nasihat kepada kami." Lalu
beliau bersabda sambil mengangkat
telunjuknya ke langit, dan menunjuk kepada orang ramai. "Wahai Allah!
Saksikanlah!" (3x). Sesudah itu beliau azan, kemudian qamat lalu solat
Zohor, kemudian qamat lagi, lalu solat Asar tanpa solat sunat antara
keduanya. Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan menuju ke tempat
wukuf. Sampai di sana, dihentikannya unta Qashwa di tempat berbatu-batu
dan orang-orang yang berjalan kaki berada di hadapannya. Beliau
menghadap ke kiblat dan sentiasa wukuf sampai matahari terbenam dan mega
merah hilang. Kemudian beliau teruskan pula perjalanan dengan
membonceng Usamah di belakangnya, sedang beliau sendiri memegang
kendali. Beliau tarik tali kekang unta Qashwa, sehingga kepalanya hampir
menyentuh bantal palana. Beliau bersabda
dengan isyarat tangannya, "Hai, orang ramai! Tenang! Tenang!" Tiap-tiap
beliau sampai ke pinggang bukit dikendurkannya tali unta sedikit untuk
memudahkannya mendaki. Sampai di Muzdalifah beliau solat Maghrib dan
Isyak dengan satu kali azan dan dua qamat, tanpa solat sunat antara
keduanya. Kemudian beliau tidur hingga terbit fajar. Setelah tiba waktu
Subuh, beliau solat Subuh dengan satu azan dan satu qamat. Kemudian
beliau tunggangi pula Qashwa meneruskan perjalanan sampai ke Masy'aril
Haram. Sampai di sana beliau menghadap ke kiblat, mendoa, takbir, tahlil
dan membaca kalimah tauhid. Beliau wukuf di sana hingga langit
kekuning-kuningan dan berangkat sebelum matahari terbit sambil
membonceng Fadhal Ibnu 'Abbas. Fadhal seorang lelaki berambut indah dan
berwajah putih. Ketika beliau berangkat, berangkat pulalah orang-orang
besertanya. Fadhal menengok kepada mereka, lalu mukanya ditutup
Rasulullah dengan tangannya. Tetapi Fadhal menoleh ke arah lain untuk melihat. Rasulullah saw. menutup pula mukanya dengan tangan yang lain, sehingga Fadhal mengarahkan
pandangannya ke tempat lain. Sampai di tengah lembah Muhassir,
dipercepatnya untanya melalui jalan tengah yang langsung menembus ke
Jumratul Kubra. Sampai di Jumrah yang dekat dengan sebatang pohon,
beliau melempar dengan tujuh buah batu kerikil sambil membaca takbir
pada setiap lemparan. Kemudian beliau terus ke tempat penyembelihan
korban. Di sana beliau menyembelih enam puluh tiga haiwan korban dengan
tangannya dan sisanya diserahkannya kepada 'Ali untuk menyembelihnya,
iaitu sebagai haiwan korban bersama-sama dengan anggota jemaah yang
lain. Kemudian beliau suruh ambil dari setiap haiwan korban itu sepotong kecil, lalu disuruhnya
masak dan kemudian beliau makan dagingnya serta beliau minum kuahnya.
Sesudah itu beliau naiki kenderaan beliau menuju ke Baitullah untuk
tawaf. Beliau solat Zohor di Mekah. Sesudah itu beliau datangi Bani
'Abdul Muththalib yang sedang menimba sumur Zamzam. Beliau bersabda
kepada mereka, "Hai Bani Abdul Muththalib! Berilah kami minum! Kalaulah
orang ramai tidak akan salah tanggap, tentu akan ku tolong kamu menimba
bersama-sama. Lalu mereka timbakan seember, dan beliau minum
daripadanya."
|
| 6 |
Hadis Sahih Muslim Jilid 4. Hadis Nombor 2377.
Dari 'Aisyah r.a., isteri Nabi saw. katanya:
"Biasanya apabila Rasulullah saw. hendak melakukan suatu perjalanan
jauh, beliau mengadakan undian di antara para isteri beliau. Siapa yang
menang undiannya dialah yang berhak ikut mendampingi Rasulullah saw.
dalam perjalanan itu. Pada suatu ketika Rasulullah saw. mengundi kami
untuk ikut mendampingi beliau dalam suatu peperangan yang dipimpin
beliau sendiri. Aku beruntung, kerana undian ku lah yang keluar sebagai
pemenang. Kerana itu akulah yang berhak pergi bersama beliau. Peristiwa
ini terjadi sesudah turunnya Ayat Hijab (lihat surat Ahzab, 33:53-59).
Lalu aku dinaikkan ke dalam sebuah sekedup dan diturunkan dalam setiap
perhentian (tanpa aku keluar tetapi sekedupnya yang diturun naikkan).
Setelah selesai perang, Rasulullah saw. serta rombongan pulang kembali
ke Madinah (membawa kemenangan). Hampir sampai ke Madinah, beliau
memberi izin seluruh pasukan istirehat
malam. Ketika istirehat itu, aku keluar dari sekedup dan berjalan
menjauhi pasukan untuk buang hajat. Setelah selesai buang hajat aku
segera kembali ke pasukan. Ketika aku menyentuh dada ku terasa kalung ku
yang terbuat dari permata zhafar buatan Yaman telah putus. Kerana itu
aku kembali mencari kalung ku sehingga aku terlambat kembali ke pasukan.
Sedangkan para pengawal yang bertugas menjaga ku selama dalam
perjalanan telah mengangkat sekedup ku dan menaikkannya ke punggung unta
yang ku kenderai (tanpa memeriksa lebih dahulu apakah aku ada di dalam
atau tidak) lalu mereka berangkat. Mereka menyangka bahawa aku berada
dalam sekedup. Ketika itu berat badan ku sangat ringan. Sehingga
kalaupun aku berada dalam sekedup, para pengawal tidak akan merasa lebih
berat bila mereka mengangkat sekedup itu. Dan ketika itu aku masih
merupakan wanita muda usia. Mereka terus berjalan menggiring unta ku
(tanpa aku). Aku mendapatkan kalung ku kembali setelah pasukan berjalan
agak jauh. Ketika aku sampai di tempat peristirahatan, ku dapati di sana
telah sepi. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di tempat ku semula.
Kerana aku berpendapat, bila rombongan tidak menemukan ku tentu mereka
akan kembali mencari ku. Ketika aku duduk menunggu mereka di tempat itu,
aku mengantuk dan tertidur. Kebetulan Shafwan bin Mu'aththal As Sulami
ketinggalan pula oleh rombongan kerana dia tertidur. Ketika terbangun
dia segera menyusul mereka dan lewat di dekat tempat ku menunggu. Ketika
dia terlihat sesusuk tubuh sedang tidur, dia menghampiri dan mengenali
ku, dia memang sudah pernah melihat ku sebelum ayat hijab turun. Aku
terbangun ketika dia dengan terkejut mengucapkan
kalimah istirja' (inna lillaahi wa inna ilaihi raji'un) setelah dia
mengenali ku. Dan aku segera menutup muka ku dengan jilbab (kain penutup
muka). Demi Allah! Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kalimat pun kepada ku selain kalimah istirja' yang menyebabkan aku terbangun. Dia segera menyuruh
untanya menunduk, dan aku disilakannya menaiki kenderaan itu. Sedangkan
dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai induk pasukan tersusul
oleh kami sesudah mereka berhenti berehat dari terik panas tengah hari.
Tetapi sungguh celakalah orang yang sengaja membuat fitnah terhadap diri
ku mengenai peristiwa itu, yang diikhtiarkan oleh pemimpin mereka
'Abdullah bin Ubay bin Salul. Setelah kami sampai di Madinah aku jatuh
sakit sebulan lamanya. Sementara itu dalam masyarakat telah meluas
khabar bohong mengenai diri ku. Sedangkan aku tidak tahu berita itu
telah meluas sedemikian rupa kerana aku sedang sakit. Tetapi ada suatu
hal yang membimbangkan ku, ialah sikap Rasulullah saw. yang tidak
memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya kalau aku sedang sakit.
Beliau pernah datang menengok ku sekali, setelah memberi salam beliau
bertanya, "Bagaimana keadaan mu?" Itulah yang membimbangkan ku. Aku
tidak mengetahui sama sekali heboh mengenai diri ku, sampai pada suatu
hari setelah aku agak sembuh, aku pergi bersama Ummu Misthah ke lapangan
di pinggir kota untuk buang hajat. Kerana memang di sanalah tempat kami
buang hajat. Dan kami tidak pergi ke sana kecuali hanya pada malam hari
saja. Yang demikian itu ialah sebelum kami membuat tempat tertutup di
sekitar rumah kami. Memang sudah menjadi kebiasaan orang Arab pada masa
dahulu, kalau buang hajat pergi ke lapangan di pinggir kota. Kerana
mereka merasa jijik membuat tempat tertutup di sekitar rumah mereka.
Ummu Misthah (nama aslinya Salma), ialah anak perempuan Abu Ruhma bin
Muththalib bin Abdu Manaf. Sedangkan ibunya ialah anak perempuan Shakhar
bin Amir bibi Abu Bakar Siddiq. Anak lelakinya ialah Misthah Ibnu
Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Ketika kami pulang setelah selesai
buang hajat, Ummu Misthah tersandung sandalnya lalu dia menyumpah:
"Celaka si Misthah." katanya. Maka ku tegur dia, "Tidak baik berkata
begitu. Bukanlah engkau memaki orang yang ikut dalam peperangan Badar?"
Jawab Ummu Misthah, "Alangkah bodohnya engkau! Apakah engkau tidak
mendengar apa yang dikatakannya?" Tanya ku, "Apa yang dikatakannya?"
Dia menghabarkan kepada ku omongan tukang-tukang fitnah (yang
memburuk-burukkan diri mu)." Semenjak aku mendengar berita Ummu Misthah
itu, sakit ku semakin menjadi-jadi. Ketika Rasulullah saw. datang ke
rumah ku, beliau memberi salam, lalu dia bertanya, "Bagaimana keadaan
sakit mu?" Lalu aku bertanya kepada beliau, "Sudikah Tuan mengizinkan
aku pulang ke rumah orang tua ku?" Kata
'Aisyah, "Sebenarnya aku ingin hendak menanyakan kepada orang tua ku
kebenaran berita yang disampaikan Ummu Misthah kepada ku." Ternyata
Rasulullah saw. mengizinkan ku, lalu aku pulang ke rumah orang tua ku
dah bertanya kepada ibu ku, "Wahai ibu! Benarkah ada berita buruk yang dipercakapkan
orang mengenai diri ku?" Jawab ibu, "Wahai anak ku sayang! Jangan
engkau hiraukan. Demi Allah, jarang sekali wanita cantik yang disayangi
suaminya, padahal dia mempunyai banyak madu yang tidak diomongi orang."
"Subhanallah!" kata ku. "Kalau begitu, memang benarlah kiranya orang
banyak mempercakapkan ku." Malam itu aku menangis semalam-malaman sampai Subuh. Air mata ku mengalir tak dapat ditahan dan aku tak dapat tidur kerananya. Sementara itu Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah dengan mereka - kerana waktu itu wahyu terhenti - Beliau bermusyawarah
dengan keduanya apakah beliau harus menceraikan ku atau tidak. Usamah
bin Zaid menyatakan pendapatnya, bahawa dia tahu benar para isteri
Rasulullah saw. semuanya suci (setia) dan dia tahu benar mereka semuanya
mencintai Rasulullah saw. Katanya, "Mereka adalah para isteri Anda. Aku yakin benar bahawa semuanya adalah para isteri yang setia." Adapun 'Ali bin Thalib berkata,
"Allah Ta'ala tidak akan mempersulit Anda. Masih banyak wanita selain
dia ('Aisyah). Tika Anda menghendaki seorang gadis, tidak seorang pun
yang akan menolak Anda." Kemudian beliau panggil pula Barirah (pembantu
rumah tangga 'Aisyah), lalu beliau bertanya, "Hai Barirah! Adakah engkau
melihat sesuatu yang mencurigakan mengenai diri 'Aisyah?" Jawab
Barirah, "Demi Allah yang mengutus Anda dengan agama yang benar.
Sungguh, aku tidak melihat sedikit pun yang mencemarkan dirinya, selain
hanya dia itu seorang wanita muda yang manja, yang pergi tidur
meninggalkan adonan kuih, lalu datang haiwan peliharaan (kucing atau
kambing) memakan adonan itu." Kemudian Rasulullah saw. berpidato di mimbar, menyatakan keberatannya atas tuduhan yang diprarasai Abdullah bin Ubay bin Salul." Sabda
beliau di mimbar, "Hai kaum muslimin! Siapakah di antara tuan-tuan yang
setuju dengan penolakan ku atas tuduhan yang telah mencemarkan nama
baik keluarga ku? Demi Allah, aku yakin keluarga ku bersih dari tuduhan
kotor yang tidak benar itu. Mereka juga telah menyebut-nyebut seorang
lelaki (Shafwan bin Mu'aththai As Sulami) yang aku yakin bahawa dia itu
orang baik. Dia tidak pernah masuk ke rumah ku kecuali bersama ku." Maka
berdirilah Sa'ad bin Mu'adz Al Anshari, lalu dia berkata,
"Aku membela Anda dalam masalah ini, ya Rasulullah! Jika tuduhan itu
datang dari suku Aus, kami penggal lehernya. Dan jika datangnya dari
saudara-saudara kami suku Khazraj, kami menunggu perintah Anda. Apa yang Anda perintahkan
segera kami laksanakan." Maka berdiri pula Sa'ad bin Ubadah, pemimpin
suku Khazraj dan seorang yang soleh tetapi diperdayakan oleh rasa
kesukuan. Lalu dia berkata kepada Sa'ad
bin Mu'adz, "Engkau bohong! Demi Allah, engkau tidak boleh membunuhnya
dan memang engkau tidak sanggup melakukannya." Maka bangun pula Usaid
bin Hudhair, anak pakcik Sa'ad bin Mu'adz. Katanya
kepada Sa'ad bin Ubadah, "Engkaulah yang bohong! Demi Allah! Bila saja
dan di mana saja kami sanggup membunuhnya! Engkau munafik, kerana engkau
membela orang-orang munafik!" Pertengkaran antara suku Aus dan Khazraj
itu menjadi hangat, sehingga hampir terjadi perkelahian antara mereka.
Tetapi Rasulullah saw. yang masih berdiri di mimbar dapat menenangkan
mereka sehingga mereka diam. Kata Aisyah
selanjutnya, "Sehari-harian kerja ku hanya menangis dan menangis siang
malam. Sehingga kedua orang tua ku cemas, kalau-kalau jantung ku pecah
kerana menangis. Selama aku menangis, kedua orang tua ku selalu berada
di samping ku. Tiba-tiba seorang perempuan Ansar minta izin hendak
bertemu dengan ku, lalu ku izinkan dia masuk. Setelah dia masuk, dia pun
menangisi ku (menambah kesedihan ku). Sementara itu Rasulullah saw. pun
datang. Beliau memberi salam, lalu duduk di samping ku. Sejak berita
bohong itu tersiar, beliau tidak pernah duduk di samping ku. Dan sudah
sebulan wahyu tidak turun kepada beliau. Iaitu semenjak peristiwa ku
ini. Ketika beliau duduk di samping ku, mula-mula beliau membaca
tasyahhud. Kemudian beliau bersabda: "Hai
'Aisyah! Telah sampai kepada ku berita mengenai diri mu begini dan
begitu. Jika engkau bersih dari tuduhan itu maka Allah Ta'ala akan
membebaskanmu. Jika engkau memang berdosa, Minta ampunlah kepada Allah
Ta'ala dan taubatlah kepadaNya. Kerana apabila seorang hamba sadar
bahawa dia telah berdosa, kemudian dia taubat, nescaya Allah menerima
taubatnya." Setelah ucapan beliau itu selesai diucapkannya, air mata ku mengambang dan tak tertahankan oleh ku dia jatuh berderai. Aku berkata kepada bapa ku. "Pak, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah." Jawab bapa ku, "Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus ku ucapkan
kepada Rasulullah." Kemudian ku minta ibu ku, "Ibu, tolonglah aku
menjawab sabda Rasulullah sebentar ini." Jawab ibu ku, "Demi Allah! Aku
tidak tahu apa yang harus ku katakan kepada Rasulullah." Maka
terpaksalah aku sendiri yang harus menjawabnya. Kata
ku, "Aku ini adalah seorang wanita muda usia yang belum banyak
mengetahui isi Al Quran. Demi Allah! Sekarang aku telah tahu bahawa Anda
telah mendengar berita mengenai tuduhan terhadap diri ku, sehingga
tuduhan itu tertanam dalam diri Anda dan nampaknya Anda seperti
membenarkan berita itu. Walaupun aku mengatakan kepada Anda aku bersih
dari tuduhan itu - demi Allah, hanya Allah sajalah yang maha tahu bahawa
aku memang bersih Anda tentu tidak akan mempercayai ku juga. Dan
seandainya aku mengatakan bahawa aku telah bersalah dan berbuat dosa, -
demi Allah, Dia jugalah yang Maha Tahu bahawa aku bersih lentil Anda
akan mempercayainya. Demi Allah! Aku tidak memperoleh sebuah contoh pun
yang paling tepat mengenai peristiwa ini, selain ucapan yang diucapkan Nabi Ya'qub, bapa Nabi Yusuf, katanya
: Sabar jualah yang paling indah, dan hanya Allah sajalah tempat minta
tolong atas segala tuduhan yang dituduhkan mereka." Kemudian aku
berpaling dan berbaring di tempat tidur ku. Kata
'Aisyah selanjutnya, "Demi Allah! Aku benar-benar bersih dari tuduhan
itu, dan aku yakin bahawa Allah Ta'ala akan membersihkan nama baik ku
dari tuduhan itu. Namun sejauh itu demi Allah, aku tidak menduga sama
sekali bahawa Allah akan menurunkan wahyu dalam kaitannya dengan kes
yang sedang ku hadapi ini. Sehingga akhirnya wahyu itu selalu kita baca.
Kerana kes itu sangat cemar terasa oleh ku dibanding dengan keagungan firman
Allah Ta'ala yang selalu kita baca. Tetapi aku berharap semoga
Rasulullah saw. dapat melihat dalam mimpi beliau, di mana Allah Ta'ala
memperlihatkan kepada beliau bahawa aku sungguh-sungguh bersih. Maka
demi Allah, belum lagi Rasulullah saw. meninggalkan tempat duduknya, dan
belum seorang jua pun yang keluar dari rumah kami, Allah Ta'ala
menurunkan wahyu kepada Nabinya. Terlihat Nabi saw. seperti orang yang
keberatan memikul beban berat, sebagai biasanya bila wahyu sedang
diturunkan kepada beliau, sehingga beliau bersimbah peluh. Ketika Wahyu
telah selesai turun, Rasulullah saw. tertawa. Kalimat yang mula-mula diucapkannya ialah: "Gembiralah, wahai 'Aisyah! Allah Ta'ala telah mengatakan bahawa engkau sungguh-sungguh bersih dari tuduhan itu." Lalu berkata
ibu ku kepada ku, "Bangunlah engkau, nak! Mintalah maaf kepada beliau!"
Jawab ku, "Demi Allah! Aku tidak perlu minta maaf kepada beliau. Aku
hanya wajib memuji Allah, kerana Dialah yang menurunkan wahyu yang
menyatakan bahawa aku memang bersih dari tuduhan kotor itu. Wahyu itu
tersebut turun dalam Al Quran, surat An Nur sebanyak sepuluh ayat:
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong ini adalah dari
golongan kamu juga (lihat An Nur, 24 : 11 20). Kata
'Aisyah selanjutnya, "Selama ini Misthah dibelanjai oleh (bapa ku) Abu
'Bakar Siddiq sebagai keluarga dekat bapa. Semenjak kes itu terjadi,
bapa ku bersumpah akan menghentikan bantuannya kepada Misthah untuk
selama-lamanya. Maka turun pula wahyu yang melarang penghentian bantuan
itu: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan
di antara kamu bersumpah bahawa mereka tidak akan memberi bantuan kepada
kaum kerabatnya....sampai dengan...Apakah kamu tidak ingin bahawa Allah
mengampuni mu?" (An Nur, 24:22). Berkata Hibhan bin Musa, kata Abdullah bin Muharak. "Inilah ayat yang istimewa di dalam kitab Allah." Maka berkata
Abu Bakar, "Demi Allah! Aku lebih suka mendapat ampunan Allah Ta'ala."
Maka nafkah untuk Misthah diteruskannya kembali. Dan aku tidak pernah
menghentikan nafkah untuk Misthah sepeninggal beliau."
|
| 7 |
Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1475.
Dari Ibnu Abbas r.a., katanya:
Mula-mula perempuan yang mengambil (memakai) ikat pinggang, ialah ibu
Nabi Ismail, diambilnya ikat pinggang supaya hilang jejaknya oleh Sarah.
Kemudian Nabi Ibrahim a.s. membawa Ibu Ismail dan anaknya yang masih
menyusu, lalu di tempatkannya dekat perumahan Bait (Kaabah), di bawah
pohon Dauhah di tepi bakal sumur Zamzam, di perumahan masjid. Waktu itu
tidak ada seorang pun yang tinggal di Mekah dan di situ air pun tidak
ada. Nabi Ibrahim lalu menempatkan keduanya di sana dan diletakkannya di
sisi keduanya sebuah tempat makanan yang berisi kurma dan sebuah tempat
minum yang berisi air. Kemudian Nabi Ibrahim berangkat. Ibu Ismail lalu
mengikutinya sambil berkata: "Hai
Ibrahim! Tuan hendak kemana? Sampai hatikah tuan meninggalkan kami di
lembah yang tidak ada manusia dan tidak pula ada sesuatunya di sini". Diucapkannya perkataan itu berulang-ulang. Nabi Ibrahim tiada menoleh. Kata ibu Ismail kepadanya: "Tuhankah yang menyuruh tuan berbuat begini?" Jawab Ibrahim: "Ya!" Katanya:
"Jika begitu, Tuhan tiada akan mensia-siakan kami'. Kemudian ibu Ismail
kembali dan Ibrahim pun terus berjalan. Ketika ia berada di Saniah, di
tempat yang kira-kira tidak kelihatan oleh ibu Ismail, Ibrahim menghadap
ke arah Bait, kemudian ia berdoa dengan
beberapa kalimat, sambil mengangkat kedua tangannya. Doanya: "Wahai
Tuhan kami! Sesungguhnya aku menempatkan sebahagian dari turunanku di
lembah yang tiada mempunyai tanam-tanaman, di dekat Rumah Suci Engkau.
Wahai Tuhan kami! Supaya mereka tetap mengerjakan solat. Sebab itu,
jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, dan belilah buah-buahan,
menjadi rezeki mereka, mudah-mudahan mereka berterima kasih!" Kemudian
ibu Ismail menyusukan anaknya dan meminum air yang disediakan itu.
Ketika air yang dalam tempat air itu habis, ia dan anaknya merasa haus.
Ketika ia memandang anaknya membalik-balik, ia pun pergi kerana tak
sampai hati melihat anaknya. Maka dilihatnya bukit Safa paling dekat
kepadanya. Lalu ia berdiri ke sana dan menghadap ke lembah, kalau-kalau
ada orang. Tetapi ia tidak melihat seorang juapun. Ia turun dari Safa.
Ketika ia di lembah, diangkatnya tepi bajunya, kemudian ia berjalan
cepat-cepat seperti perjalanan orang kecemasan, sampai ia melalui
lembah. Kemudian ia tiba di Marwah, lalu ia berdiri di situ dan melihat
kalau-kalau ada orang. Tetapi ia tiada melihat seorang jua pun.
Dilakukannya yang demikian sampai tujuh kali. Ibnu Abbas berkata: Nabi s.a.w. bersabda:
"Kerana itulah , orang haji mengerjakan Saai di antara Safa dan
Marwah". Ketika Ibu Ismail berada di Marwah, ia mendengar suara, lalu ia
berkata kepada dirinya sendiri: "Dengarlah!" Kemudian ia berhati-hati mendengarkannya, maka didengarnya pula suara itu. Ia berkata:
"Sesungguhnya engkau telah memperdengarkan suara, adalah kiranya
pertolongan dari sisi engkau". Tiba-tiba di situ ada malaikat dekat
tempat Zamzam lalu ia menggali dengan tumitnya atau dengan sayapnya
sehingga keluarlah air. Ibu Ismail lalu membendungnya dengan tangannya
begini: Ia menyauk air itu untuk mengisi tempat airnya, dan air itu pun
terus menyembur sesudah disauk. Ibnu Abbas berkata: Nabi s.a.w. bersabda:
"Mudah-mudahan Tuhan mengasihi ibu Ismail! Jika dibiarkannya Zamzam,
atau tidak disauknya air itu, sesungguhnya akan menjadi mata air yang
mengalir." Sabda beliau: "Ibu Ismail lalu minum dan menyusukan anaknya. Malaikat berkata
kepadanya: "Janganlah engkau takut akan binasa! Sesungguhnya di sini
Baitullah yang bakal dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan
sesungguhnya Tuhan tiada akan menyia-nyiakan penduduk tempat ini." Dan
tinggi Baitullah itu dari tanah sebagai longgokan tanah, yang dilanda
oleh banjir di sebelah kanan dan kirinya. Demikianlah keadaan perempuan
itu, sehingga lalulah serombongan dari suku Jurhum yang datang dari
jalan Kada', lalu mereka itu berhenti di hilir Mekah. Mereka melihat
burung berputar-putar di udara, lalu mereka berkata:
"Burung ini berputar di atas air". Sebenarnya kita di lembah ini
menemui tempat yang di situ ada air. Mereka lalu mengirim seorang atau
dua orang utusan. Tiba-tiba utusan itu menemui air, segera mereka
kembali dan terus dikhabarkannya pada mereka (kawannya) bahawa di situ
ada air. Lalu mereka berkata: "Adakah engkau mengizinkan kami tinggal di tempatmu?" Jawab perempuan itu: "Ya, tetapi kamu tiada berhak atas air itu!" Kata
mereka: "Ya, baiklah!" Ibu Ismail menerimanya dengan baik, kerana dia
ingin ada orang lain bersama dia. Mereka lalu tinggal di situ
bersama-sama dengan keluarga mereka, sehingga terjadilah beberapa rumah
tangga mereka, sedang Ismail telah agak besar (hampir dewasa). Ia
mempelajari bahasa Arab dari mereka. Ia amat dikasihi mereka. Ismail
amat menarik dan mengagumkan mereka, ketika itu umurnya hampir dewasa.
Mereka mengahwinkan Ismail dengan seorang perempuan di antara mereka,
dan ibu Ismail pun meninggal. Sesudah Ismail kahwin, datanglah Nabi
sesudah Ismail kahwin, datanglah Nabi Ibrahim melihat anak isteri yang
ditinggalkannya, tetapi beliau tiada menemui Ismail. Ibrahim lalu
bertanya pada isteri Ismail dari hal keadaannya. Kata isteri Ismail: "Ia pergi mencari keperluan kami". Kemudian Ibrahim menanyakan dari hal penghidupan dan keadaan mereka. Kata
perempuan itu: "Kami dalam keadaan sengsara, kami dalam kesempitan dan
kesusahan". Ia mengadukan halnya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata: "Apabila datang suami engkau, sampaikanlah salam kepadanya dan katakanlah
baginya supaya diubahnya bingkai pintunya". Setelah Ismail datang,
seolah-olah ia merasakan sesuatu, lalu ia bertanya: "Adakah orang yang
datang kepadamu?" Jawabnya: "Ya, ada orang tua datang kepada kami, lalu
saya bercerita kepadanya. Ditanyakannya bagaimana penghidupan kita
lantas saya ceritakan bahawa sesungguhnya kita dalam kepayahan dan
kesusahan". Kata Ismail: "Adakah ia memesankan sesuatu kepada engkau?" Jawabnya: "Ya, disuruhnya saya menyampaikan salam kepada engkau dan dikatakannya: "Ubahlah bingkai pintumu!" Kata Ismail: "Itulah ayahku! Sebenarnya ia menyuruh
saya supaya menceraikan engkau. Kembalilah engkau kepada keluarga
engkau!" Ismail pun mentalaknya. Kemudian ia kahwin dengan perempuan
lain. Setelah beberapa lama Ibrahim datang kembali, tetapi tidak juga
menemui Ismail. Ia lalu masuk ke rumah isteri Ismail, dan ditanyakannya
dari hal Ismail. Kata perempuan itu: "Ia pergi mencari keperluan kami!" Kata
Ibrahim: "Bagaimana keadaanmu?" Ditanyakannya hal penghidupan dan
keadaan mereka. Jawabnya: "Kami dalam keadaan baik dan lapang". Dan
perempuan itu pun memuji Tuhan. Tanya Ibrahim: "Apakah makananmu?"
Jawabnya: "Daging". Tanya beliau: "Apakah minumanmu?" Jawabnya: "Air".
Doa Ibrahim:"Wahai Tuhan, berilah kiranya keberkatan untuk mereka mengenai daging dan air!" Nabi s.a.w bersabda: "Ketika itu belum ada di situ tanaman yang berbiji. Sekiranya mereka mempunyai, nescaya Nabi Ibrahim mendoakan keberkatannya. Maka yang dua itu (daging dan air) di negeri lain dari Mekah biar pun ada, tetapi tidak sesuai untuk jadi makanan pokok. Kata Nabi Ibrahim: "Apabila datang suami engkau, sampaikanlah salam kepadanya, dan suruhlah
ia supaya menetapkan bingkai pintunya!" Ketika Ismail datang, ia
bertanya: "Adakah seorang yang datang kepadamu?" Jawab isterinya: "Ada!
Datang kepada kami seorang tua yang baik keadaannya". Dan perempuan itu
pun memujinya. "Ia menanyakan tuan pada saya dan menanyakan bagaimana
kehidupan kita, lalu saya ceritakan, bahawa sesungguhnya kita dalam
keadaan baik". Kata Ismail: "Adakah ia memesankan sesuatu kepada engkau'?" Jawabnya: "Ada! Disuruhnya sampaikan salam kepada tuan dan disuruhnya supaya menetapkan bingkai pintu tuan". Kata Ismail: "Itulah ayahku dan engkaulah yang dikatakan bingkai pintu. Beliau menyuruh
saya supaya tetap beristerikan engkau". Beberapa masa kemudian sesudah
itu Ibrahim datang kembali dan didapatinya Ismail sedang meruncing anak
panahnya di bawah pohon Dauhah, tidak jauh dari Zamzam. Setelah ia
melihat ayahnya, ia berdiri menemuinya. Keduanya lalu berpelukan
sebagaimana diperbuat seorang ayah dengan anaknya dan anak dengan
ayahnya. Kemudian Nabi Ibrahim berkata: "Hai Ismail! Sesungguhnya Tuhan memerintahkan satu perintah kepada saya" Jawab Ismail: "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan itu!" Kata Ibrahim: "Mahukah engkau menolong saya?" Jawab Ismail: "Saya bersedia menolong ayah". Kata Ibrahim: "Sesungguhnya Tuhan memerintahkan
kepada saya supaya saya mendirikan Baitullah di sini", Ia menunjuk
kepada tumpukan tanah yang tinggi di sekelilingnya. Sesudah itu keduanya
meninggikan (memasang) asas Bait (Kaabah). Nabi Ismail membawa batu dan
Nabi Ibrahim memasangnya. Setelah pasangan itu tinggi Ismail membawa
batu (untuk berpijak Ibrahim). Ibrahim lalu berdiri di atasnya untuk
memasang dan Ismail menunjukkan batu. Kata Nabi: Keduanya meneruskan pembangunan sampai selesai, lalu berputar sekeliling Kaabah, mengucapkan: "Wahai Tuhan kami! Terimalah kerja kami. Sesunguhnya Engkau mendengar lagi mengetahui!"
|
| 8 |
Hadis Sahih Muslim Jilid 2. Hadis Nombor 0978.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saW., sabdanya: "Ada seorang lelaki berkata,
"Aku hendak bersedekah malam ini." Lalu dia keluar membawa sedekahnya
dan disedekahkannya kepada perempuan lacur. Esok pagi orang banyak mempercakapkan bahawa tadi malam ada pelacur yang diberi orang sedekah. Orang itu berujar,
"Wahai, Allah! Segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan sedekahku
jatuh kepada pelacur. Aku akan bersedekah lagi." Dia pergi pula membawa
sedekahnya, lalu diberikannya kepada orang kaya. Pagi-pagi orang banyak
mempercakapkannya pula, bahawa tadi malam ada orang memberi sedekah kepada orang kaya. Lalu orang yang bersedekah itu berkata,
"Wahai, Allah! Untuk Mulah segala puji, kerana Engkau telah menjadikan
sedekahku jatuh kepada orang kaya. Aku akan bersedekah lagi." Dia pergi
pula membawa sedekahnya, dan diberikannya kepada si pencuri. Pagi-pagi
orang banyak mempercakapkannya pula, bahawa tadi malam ada orang bersedekah kepada pencuri. Orang yang bersedekah itu pun berujar
pula, "Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh
kepada pelacur, kepada orang kaya, dan kepada pencuri.' Kemudian orang
itu didatangi malaikat seraya katanya
:"Sedekah anda sudah diterima baik oleh masing-masing orang yang anda
beri sedekah. Adapun perempuan lacur, semoga dia berhenti dari perbuatan
melacur; kepada si kaya, semoga dia menyedari dirinya dan bersedekah
pula; dan untuk si pencuri, semoga dia berhenti mencuri."
|
| 9 |
Hadis Sunan Ibnu Majjah Jilid 1. Hadis Nombor 0833.
Mewartakan kepada kami Ahmad bin Budail; mewartakan kepada kami Hafsh
bin Ghiyats; mewartakan kepada kami 'Ubaidullah, dari Nafi' dari Ibnu
'Umar, dia berkata: "Adalah Nabi Saw. membaca dalam solat maghrib: Surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas." Note: As-Sindiy berkata: Hadis
ini, menurut pendapatku, dari Az-Zawa-id dan apa yang dikemukakan
olehnya. Dan sesuatu yang menunjukkan/menguatkan apa yang telah saya
sebutkan adalah perkataan Al-Hafizh dalam Syarah
Al-Bukhariy: Aku tidak melihat ada hadis marfu' yang berisi nash atas
bacaan dari surat-surat mufashshal yang pendek dalam solat, melainkan
hadis Ibnu Majah dari Ibnu 'Umar, yang menerangkan dalil atas (surat
Al-Kafirun dan Al-Iklas) dalam solat. Isnad hadis ini lahirnya Shahih,
hanya saja ada cacatnya. Ad-Daruquthniy berkata: "Salah seorang perawi hadis ini ada yang keliru."
|
| 10 |
Hadis Sahih Muslim Jilid 4. Hadis Nombor 2376.
Dari Ka'ab bin Malik r.a.. dia menceritakan tentang dirinya ketika dia
tertinggal (tidak ikut berperang) dari Rasulullah saw. dalam peperangan
Tabuk. Kata Ka'ab bin Malik. "Aku tidak
pernah tertinggal dari Rasulullah saw. dalam setiap peperangan yang
dipimpin sendiri oleh beliau, kecuali dalam peperangan Tabuk. Selain
dari itu, aku memang tertinggal pula dalam peperangan Badar. Tetapi
tidak seorang pun dapat disalahkan bila tertinggal ketika itu, kerana
Rasulullah saw. pergi dengan maksud hendak mencegat kafilah Quraisy.
Namun Allah Ta'ala telah menghadapkan mereka dengan musuh tanpa diduga
lebih dahulu. Dan aku telah baiat bersama Rasulullah saw. pada malam
Aqabah di mana kami telah bersumpah setia untuk Islam. Dan aku tidak
suka seandainya malam Bai'at Aqabah itu ditukar dengan perang Badar.
Sekalipun Badar lebih terkenal dari Aqabah di kalangan orang banyak.
Cerita mengenai sebabnya aku tertinggal dari Rasulullah saw. dalam
perang Tabuk ialah : "Sesungguhnya aku belum pernah sedikit jua pun
merasa diri ku lebih kuat dan lebih senang dan keadaan ku ketika
tertinggal dalam peperangan itu. Demi Allah, aku belum pernah menyiapkan
dua kenderaan kecuali untuk peperangan itu. Rasulullah saw.
merencanakan penyerangan pada musim panas yang terik, menempuh
perjalanan jauh serta menghadapi jumlah musuh yang banyak. Kerana itu
Rasulullah saw. menjelaskan kepada kaum muslimin tugas berat yang bakal
mereka hadapi, agar mereka bersiap-siap dengan sungguh-sungguh
menghadapi peperangan tersebut dan Rasulullah memberitahukan
sasaran yang dituju. Kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah saw.
ketika itu cukup banyak, tetapi tidak ada suatu daftar yang mencatat
nama-nama dan jumlah mereka. Kerana itu, bila sewaktu waktu seseorang
ingin menghilang (tidak ikut berperang), hal itu boleh saja terjadi.
Kerana dia mengira bahawa Rasulullah saw. tidak akan mengetahuinya,
selama tidak ada wahyu memberitahu beliau.
Rasulullah saw. mengadakan penyerangan dalam peperangan itu dalam musim
buah-buahan dan cuaca berawan. Sebenarnya hati ku lebih condong hendak
turut berperang. Rasulullah saw. dan kaum muslimin telah siap-siap
hendak berangkat. Aku berencana akan berkemas bersama-sama mereka besok
pagi. Setelah aku pulang ternyata aku tidak berbuat apa-apa, sambil berkata
dalam hati ku, "Aku sanggup menyelesaikannya sewaktu-waktu." Ternyata
hal itu berkelanjutan sedemikian rupa, sedangkan orang banyak
sungguh-sungguh telah siap. Besok Subuh Rasulullah dan kaum muslimin
berangkat pagi-pagi sekali, sedangkan aku belum berkemas juga. Kerana
itu aku segera pulang hendak berkemas, tetapi sampai di rumah aku tidak
berbuat apa-apa, sehingga pasukan berangkat seluruhnya
menuju medan perang. Aku bermaksud hendak menyusul mereka, tetapi apa
boleh buat yang demikian tidak ditakdirkan Allah bagi ku. Ketika aku
mulai berkemas dan keluar hendak menyusul Rasulullah saw. alangkah
sedihnya hati ku, kerana tidak seorang jua pun teman yang kelihatan oleh
ku kecuali orang-orang munafik atau orang-orang lemah yang telah
dimaafkan Allah Ta'ala tidak ikut berperang. Rasulullah saw. tidak
menyebut-nyebut nama ku hingga sampai di Tabuk. Setelah sampai, ketika
beliau duduk di tengah-tengah kaum muslimin, barulah beliau menanyakan,
"Apa kerja Ka'ab bin Malik?" Seorang lelaki dari Bani Salamah menjawab,
"Ya, Rasulullah! Dia terhalang kerana merasa sayang pada selimutnya."
Maka berkata Mu'adz bin Jabal, "Jahat sekali ucapan
mu itu! Demi Allah, ya Rasulullah! Setahu kami selama ini dia adalah
orang baik." Rasulullah saw. diam saja. Beliau melihat samar-samar
bayangan seseorang berpakaian putih lalu hilang ditelan fatamorgana.
Maka berkata Rasulullah saw., "Engkau Abu
Khaitsamah!" Kiranya dia memang Abu Khitsamah Al Anshari yang pernah
bersedekah segantang kurma, lalu diejek oleh orang-orang munafik. Cerita
Ka'ab bin Malik selanjutnya: "Tatkala aku mendengar berita bahawa
Rasulullah saw. telah berangkat dari Tabuk hendak pulang ke Madinah,
timbullah rasa takut ku kerana kesalahan ku tidak turut berperang. Oleh
sebab itu aku berusaha mencari jalan agar aku terhindar dari kemarahan
beliau. Lalu aku minta pendapat-pendapat keluarga ku. Tetapi tatkala
aku mendengar bahawa beliau telah tiba, maka hilanglah dari ingatan ku
segala fikiran buruk itu. Aku mengerti benar bahawa aku tidak akan lepas
sedikit jua pun dari hukuman, walaupun dengan berbagai alasan. Kerana
itu aku bertekad hendak mengaku terus terang atas kesalahan ku.
Pagi-pagi waktu Subuh, Rasulullah tiba. Seperti biasa, apabila beliau
tiba dari suatu perjalanan, beliau langsung ke masjid lalu solat dua
rakaat, kemudian duduk di tengah-tengah orang banyak. Maka ketika itu
datanglah orang-orang yang tidak turut berperang mengemukakan
alasan-alasan (uzur) mereka kepada beliau dan bersumpah kepadanya.
Semuanya berjumlah lebih kurang lapan puluh orang. Rasulullah saw.
menerima alasan atau sumpah-sumpah mereka yang nampak nyata dan
memohonkan ampun bagi mereka. Sedangkan hal-hal yang tersembunyi atau
yang mereka rahsiakan, beliau serahkan kepada Allah Ta'ala. Kini tibalah
giliran ku. Ketika aku memberi salam kepada beliau, beliau menyambut
salam ku dengan senyum kecut, senyum kemarahan. Lalu beliau berkata,
"Kemari!" Aku datang menghampiri lalu duduk di hadapan beliau. Tanya
beliau, "Mengapa kamu tidak turut berperang. Bukankah kamu telah membeli
kenderaan?" Jawab ku, "Ya, Rasulullah! Demi Allah, seandainya aku
berhadapan dengan orang selain Anda dari penduduk dunia ini, nescaya aku
akan mencari jalan keluar dari kemarahannya
dengan berbagai alasan. Tetapi demi Allah! Aku tahu benar, jika aku
berdusta kepada Anda sekarang, mungkin Anda menerimanya. Tetapi aku
sungguh takut Allah akan sangat murka kepada ku. Dan jika aku berkata benar kepada Anda, tentu Anda akan marah
kepada ku. Namun aku masih dapat mengharapkan kemaafan dari Allah
Ta'ala. Demi Allah! Aku tidak mempunyai uzur (alasan) suatu apa jua pun.
Bahkan aku belum pernah sesihat dan selapang seperti sekarang ini di
mana aku tidak turut berperang bersama-sama Anda." Sabda
Rasulullah saw., "Betul begitu? Nah, pergilah sampai Allah memutuskan
perkara mu." Beberapa orang dari Bani Salamah turut bangkit bersama-sama
dengan ku dan mengikuti ku. Kata mereka
kepada ku, "Demi Allah! Kami tahu benar bahawa engkau belum pernah salah
sekali jua pun sebelum ini. Mengapa engkau tidak minta maaf saja kepada
Rasulullah saw. seperti orang-orang lain yang tidak turut berperang
itu? Nescaya dosa mu diampun Allah berkat permohonan ampun dari
Rasulullah saw. bagi mu." Kata Ka'ab.
"Demi Allah! Mereka selalu menyalahkan ku seperti itu sehingga aku
berniat hendak kembali kepada Rasulullah saw. dan menarik pengakuan ku
semula." Aku bertanya kepada mereka, "Adakah orang lain yang menerima
hukuman seperti aku?" Jawab mereka, "Ada! Iaitu dua orang yang mengaku
bersalah seperti engkau, lalu keduanya mendapat putusan seperti yang
diputuskan kepada mu." Tanya ku, "Siapa mereka?" Jawab mereka, "Murrah
bin Rabi'ah Al 'Amid dan Hilal bin Umaiyah Al Waqifi." Mereka mengatakan
kepada ku bahawa mereka berdua adalah orang-orang saleh yang turut
dalam peperangan Badar, dan orang-orang yang patut dijadikan teladan.
Setelah mereka menerangkan hal kedua orang itu, aku pun berlalu. Kata Ka'ab, "Rasulullah saw. melarang kaum muslimin bercakap-cakap
dengan kami bertiga yang tidak ikut berperang. Kerana itu orang banyak
menjauhi (memboikot) kami. Sikap mereka berubah terhadap kami sehingga
aku merasa seperti orang asing di negeri yang ku diami, di mana
penduduknya aku kenal selama ini. Hukuman seperti itu ku alami selama
lima puluh hari. Kedua orang teman yang senasib dengan ku tetap saja
tinggal di rumah mereka dan menangis selalu. Tetapi aku lebih muda dan
lebih kuat dari mereka. Aku tetap keluar seperti biasa, menghadiri solat
berjemaah dan pergi ke pasar walau tidak seorang jua pun yang mahu
berbicara dengan ku. Bahkan aku tetap mendatangi Rasulullah saw. dan
memberi salam kepada beliau ketika beliau berada dalam majlis taklim
sesudah solat. Aku bertanya dalam hati ku, "Adakah beliau menggerakkan
bibir beliau untuk menjawab salam ku, atau tidak?" Aku pun solat berdekatan
dengan beliau sambil menjeling kepada beliau. Setelah selesai solat
beliau menengok kepada ku, tetapi bila aku menoleh kepadanya beliau
membuang muka dari ku. Setelah suasana diboikot kaum muslimin seperti
itu berjalan agak lama, pada suatu hari aku pergi ke rumah Abu Qatadah,
anak pakcik (saudara sepupu) ku, dan orang yang sangat sayang kepada ku.
Aku memberi salam kepadanya. Tetapi demi Allah, dia tidak menjawab
salam ku. Lalu aku berkata kepadanya, "Ya,
Abu Qatadah! Aku bertanya kepada mu, tidak tahukah kamu bahawa aku
tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Dia diam saja. Aku tanya lagi,
tetapi dia tetap membisu. Lalu ku tanya lagi. Maka jawabnya, "Allah dan
Rasul-Nya yang lebih tahu." Air mata ku mengalir mendengar jawapannya,
lalu aku berpaling dan terus pulang. Pada suatu hari ketika aku sedang
berjalan di pasar, seorang petani penduduk Syam yang sering menjual
makanan di Madinah bertanya, "Siapa yang dapat menunjukkan Ka'ab bin
Malik kepada ku?" katanya. Orang banyak
menunjuk kepada ku. Petani itu mendatangi ku dan memberikan sepucuk
surat berasal dari Raja Ghassan. Aku memang pandai membaca dan menulis.
Lalu ku baca surat itu, yang isinya antara lain sebagai berikut : "Amma
ba'du. Kami mendengar khabar bahawa Anda diboikot oleh teman-teman Anda.
Allah tidak akan membuat Anda terhina dalam negeri dan tidak pula
tersia-sia. Temuilah kami, nescaya kami akan membantu Anda dengan segala
daya dan yang ada pada kami." Selesai membaca surat itu lalu kata ku,
"Ini suatu ujian juga!" Maka ku dekat api lalu ku bakar surat itu.
Setelah berlalu empat puluh hari dan wahyu turun kepada Rasulullah saw.
maka datanglah seorang utusan beliau kepada ku seraya berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan
kamu supaya menjauhi isteri mu!" Tanya ku, "Apakah aku harus
meceraikannya atau bagaimana?" Jawabnya, "Tidak! Hanya menjauhinya.
Kerana itu jangan kamu dekati dia!" Beliau juga mengutus orang kepada
kedua teman yang senasib dengan ku, dengan perintah
yang sama. Maka ku katakan kepada isteri ku, "Pulanglah kamu ke rumah
orang tua mu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah memberi
keputusan terhadap perkara ku ini." Kata Ka'ab, "Isteri Hilal bin Umaiyah datang kepada Rasulullah saw. memohon keringanan kepada beliau, katanya
: Ya Rasulullah! Hilal bin Umaiyah sudah tua. Dia akan tersia-sia tanpa
khadam (pelayan). Apakah Anda keberatan kalau aku menjadi pelayannya?"
Jawab beliau, "Tidak mengapa, asal dia tidak mendekati mu." Kata
isteri Hilal, "Demi Allah! Dia tidak mempunyai keinginan apa-apa.
Bahkan demi Allah, dia selalu menangis saja sejak menerima hukuman
sampai hari ini." Kerana itu sebahagian keluarga ku menyarankan pula
kepada ku, "Seandainya engkau minta izin kepada Rasulullah saw. mengenai
isteri mu, mungkin beliau memberi izin kepada mu seperti halnya isteri
Hilal bin Umaiyah diberi izin oIeh beliau melayani Hilal." Jawab ku,
"Aku tidak akan memintakan izin kepada beliau untuk isteri ku. Aku tidak
tahu pasti apakah Rasulullah saw. akan memberi izin atau tidak. Aku
masih muda dan sanggup mengurus diri sendiri." Keadaan membujang seperti
itu telah berlalu pula sepuluh hari. Jadi sudah lima puluh hari sejak
hari pertama kami mulai diboikot. Kemudian, sesudah aku solat Subuh di
atas loteng rumah kami, pagi-pagi sesudah malam yang kelima puluh,
ketika aku memikirkan nasib kami sesuai dengan apa yang diperingatkan
Allah kepada kami, di mana bumi ini terasa amat sempit dengan segala
kelapangan yang ada, tiba-tiba terdengar oleh ku suara memanggil dengan
sekuat-kuatnya, "Ya, Ka'ab bin Malik! Gembiralah, Aku segera sujud,
kerana aku yakin kelapangan telah tiba. Rasulullah saw. telah memberi
tahu orang banyak, bahawa Allah swt. telah menerima taubat kami ketika
solat Subuh. Kerana itu orang banyak datang mengucapkan
selamat kepada ku dan sesudah itu mereka pergi pula kepada kedua orang
teman ku. Di antara mereka ada yang berlari dan ada pula yang
berkenderaan. Bahkan ada seorang teman dari suku Aslam sengaja menemui
ku melalui bukit. Suara-suara mengelu-ngelukan ku lebih cepat sampai ke
telinga ku dari kuda mereka. Ketika suara ucapan
selamat untuk menggembirakan ku dari orang yang pertama-tama sampai ke
telinga ku, dengan spontan ku buka baju ku lalu ku berikan kepadanya
kerana sangat gembira. Padahal demi Allah, ketika itu aku tidak
mempunyai baju selain baju tersebut, sehingga aku terpaksa meminjam
(ketika menghadap Rasulullah saw. Aku pergi menghadap Rasulullah saw.
Setiap orang yang bertemu dengan ku mengucapkan selamat kerana taubat ku telah diterima Allah swt. Kata
mereka, "Bahagialah Anda kerana taubat Anda telah diterima Allah swt."
Aku masuk ke masjid. Ku dapati Rasulullah saw. sedang duduk dikelilingi
para sahabat. Thalhah bin 'Ubaidillah segera bangkit dan berlari
menyambut ku serta menyalami ku sambil mengucapkan
selamat. Demi Allah, tidak ada orang Quraisy yang berdiri selain dia.
Kerana itu pula aku tidak melupakan Thalhah. Setelah aku memberi salam
kepada Rasulullah saw., maka dengan muka berseri-seri kerana gembira
beliau berkata, "Gembiralah kamu dengan
kebaikan yang kamu terima hari ini, yang belum pernah kamu terima sejak
kamu lahir." Tanya ku, "Apakah kebaikan itu datang dari Anda atau dari
Allah Ta'ala?" Jawab beliau, "Bahkan dari Allah Ta'ala!" Biasanya
apabila Rasulullah saw. gembira, wajah beliau bersinar-sinar bagaikan
bulan. Kami tahu benar akan hal itu. Setelah aku duduk di hadapan
beliau, aku berkata kepadanya, "Ya,
Rasulullah! Kerana taubat ku diterima Allah, maka aku hendak
menyedekahkan harta ku kepada Allah dan Rasul-Nya." Jawab Rasulullah
saw., "Tahanlah sebahagian harta mu itu. Itulah yang baik!" Jawab ku,
"Aku akan menahan harta yang ku peroleh di Khaibar." Kata ku selanjutnya, "Ya, Rasulullah! Allah telah melepaskan ku kerana berkata benar. Maka untuk kesempurnaan taubat ku, aku tidak akan berkata-kata selamanya melainkan yang benar." Kata Ka'ab selanjutnya, "Aku tidak tahu seorang muslim yang pernah diuji Allah kerana berkata benar, semenjak aku berkata
demikian kepada Rasulullah saw. hingga sekarang. Itulah cubaan terbaik
yang dilakukan Allah Ta'ala kepada ku. Demi Allah, aku berjanji tidak
akan pernah berdusta. Aku berharap kepada Allah semoga Dia memelihara ku
sampai akhir hayat ku, Maka turunlah ayat-ayat surat Taubah, 9 :117 -
119, sebagai berikut: "Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi,
orang-orang muhajirin, dan orang-orang Ansar yang mengikut Nabi dalam
masa kesulitan, setelah hati segolongan mereka hampir berpaling,
kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka." (9: 117), "Dan terhadap
tiga orang yang ditangguhkan (permintaan taubat mereka) hingga apabila
bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu sebenarnya tetap
luas, dan jiwa pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka
telah mengetahui bahawa tidak ada tempat lari dari (seksa) Allah,
melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar
tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang." (9:118). "Hai, orang-orang yang beriman, takwalah
kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang
benar."(9:119). Cerita Ka'ab selanjutnya, "Demi Allah! Belum pernah aku
merasakan nikmat pada diri ku sejak aku masuk Islam yang lebih besar
daripada ketika aku berkata benar terhadap
Rasulullah saw. Seandainya aku berdusta kepada beliau nescaya celakalah
aku seperti orang-orang yang pernah berdusta, sebagai dinyatakan dalam
firman Allah Ta'ala: "Kelak mereka akan
bersumpah kepada mu dengan nama Allah apabila kamu kembali kepada
mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari
mereka, kerana sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka
jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (9: 95)
"Mereka akan bersumpah kepada mu, agar kamu redha kepada mereka. Tetapi
jika sekiranya kamu redha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak
ridha kepada orang-orang yang fasik itu." (9:96). Cerita Ka'ab
selanjutnya, "Kami bertiga tertinggal, maksudnya tertinggal bertaubat
dari mereka-mereka yang telah diterima taubatnya oleh Rasulullah saw.
secara lahir (sedang batinnya terserah kepada Allah swt.), serta
dimohonkan ampun oleh beliau kepada Allah Ta'ala. Sedangkan terhadap
kami bertiga Rasulullah menangguhkannya hingga datang keputusan Allah
swt. Itulah yang dimaksud dengan firman
Allah Ta'ala: Dan tiga orang yang tertinggal (9: 118), bukan tertinggal
tidak ikut berperang, tetapi penerimaan taubat kami ditangguhkan."
|






0 komentar:
Posting Komentar