atau sabda ~ NGUNDUH KAWRUH WOHING PAKARTI

Rabu, 25 April 2012

sabda

4/201. Ibnu Mas’ud RA mengatakan bahwa Rasulullah SAWbersabda,
إنَّ أوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِي إسْرَائِيلَ أنَّهُ كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ ، فَيَقُولُ : يَا هَذَا، اتَّقِ الله ودَعْ مَا تَصْنَعُ فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ لَكَ ، ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الغَدِ وَهُوَ عَلَى حَالِهِ ، فَلا يَمْنَعُهُ ذلِكَ أنْ يَكُونَ أكِيلَهُ وَشَريبَهُ وَقَعيدَهُ ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذلِكَ ضَرَبَ اللهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ )) ثُمَّ قَالَ : { لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرائيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ تَرَى كَثِيراً مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ } – إِلَى قوله – { فاسِقُونَ } [ المائدة : 78- 81 ] ثُمَّ قَالَ : (( كَلاَّ، وَاللهِ لَتَأمُرُنَّ بالمَعْرُوفِ ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ ، وَلَتَأخُذُنَّ عَلَى يَدِ الظَّالِمِ ، وَلَتَأطِرُنَّهُ عَلَى الحَقِّ أطْراً ، وَلَتَقْصُرُنَّه عَلَى الحَقِّ قَصْراً ، أَوْ لَيَضْرِبَنَّ اللهُ بقُلُوبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ ، ثُمَّ ليَلْعَننكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ ))
Sesungguhnya kerusakan pertama yang terjadi pada Bani Isra’il ialah ketika seseorang bertemu kawannya yang sedang berbuat kejahatan lalu ditegur, ‘Ya fulan! Bertakwalah pada Allah dan tinggalkan perbuatan yang tidak halal itu’. Kemudian pada esok harinya mereka bertemu lagi, sedangkan ia masih berbuat maksiat lagi, maka ia tidak mencegah kemaksiatannya. Bahkan ia menjadi teman makan minum dan teman duduknya. Jika demikian keadaan mereka, maka Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana firman-Nya, ‘Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Isra’il dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, dikarenakan mereka durhaka dan selalu melampui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), tentu tidak menjadikan orang-orang musyrikin sebagai pemimpin, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik’. ” (Qs. Al Maaidah(5): 78-81).
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seperti mereka. Demi Allah! kalian harus menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan menahan kejahatan orang zhalim, dan kalian kembalikan ke jalan yang hak dan kalian batasi dalam hak tersebut. Kalau kalian tidak berbuat demikian, maka Allah akan menutup hati kalian, kemudian melaknat kalian, sebagaimana Allah melaknat mereka.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”) .
Sedangkan lafazh hadits yang diriwayatkan Tirmidzi adalah Rasulullah SAW bersabda,
لَمَّا وَقَعَتْ بَنُو إسْرَائِيلَ في المَعَاصي نَهَتْهُمْ عُلَمَاؤهُمْ فَلَمْ يَنْتَهُوا ، فَجَالَسُوهُمْ في مَجَالِسِهمْ ، وَوَاكَلُوهُمْ وَشَارَبُوهُمْ ، فَضَربَ اللهُ قُلُوبَ بَعضِهِمْ بِبعْضٍ ، وَلَعَنَهُمْ عَلَى لِسانِ دَاوُد وعِيسَى ابنِ مَرْيَمَ ذلِكَ بما عَصَوا وَكَانُوا يَعتَدُونَ )) فَجَلَسَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – وكان مُتَّكِئاً ، فَقَالَ : (( لا ، والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى تَأطِرُوهُمْ عَلَى الحَقِّ أطْراً )) .
Ketika kemaksiatan sudah melanda Bani Isra’il, maka ulama-ulama mereka mencegahnya, tapi mereka tetap melakukannya. Sehingga ulama-ulama mereka ikut serta dalam majelis mereka, dan makan minum bersama, maka Allah menutup hati mereka dan melaknat mereka, dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam, karena kemaksiatan mereka yang melampui batas. Ketika itu Rasulullah duduk bersandar, dan bersabda, ”Tidak, demi Allah yang jiwaku ada ditangan-Nya, kalian harus membelokkan mereka dan menghentikannya kepada yang benar”.
Keterangan:
Hadits ini sanadnya dha’if karena ada Abu Ubaidah bin Abduliah bin Mas’ud; ia tidak mendengar sendiri riwayat hadits tersebut, melainkan dari bapaknya, sebagaimana dijelaskan oleh At-Tirmidzi, sehingga hadits ini ke munqati’ (terputus sanadnya). Ibnu Hibban menegaskan bahwa ia (Abu Ubaidah) sama sekali tidak pernah mendengar sesuatupun dari bapaknya”. Hal ini juga diakui oleh Al Hafizh AI Mazzi (di Tahdzib At-Tahdzib), dan Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani.
Lihat Silsilah Al Ahadits Adh-Dhaifah hadits no. 1105; Dhaif Sunan At-Tirmidzi hadits no. 582; Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 932; Dha ‘if Sunan Ibnu Majah hadits no. 867; Al Misykah hadits no. 5148; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 196, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 196


5/292. Ummu Salamah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
أيُّمَا امْرَأةٍ مَاتَتْ ، وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الجَنَّةَ
”Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “hadits ini hasan”).
Keterangan:
Hadits ini Mungkar, karena didalam sanadnya terdapat dua perawi majhul (tidak dikenal), yaitu Musawir Al Himyari dan ibunya (karena Musawir membawa kabar ini dari ibunya). Ibnu Al Jauzi dalam Al Wahiyat (2/141) berkata, “Musawir dan ibunya adalah majhul.” Adz-Dzahabi berkata dalam Al Mizan, “Dalam sanadnya ada perawi yang majhul dan khabar (hadits) itu munkar”.
Meskipun hadits tersebut dha’if tetapi ada hadits lain yang shahih -yang memberikan makna bahwa ketaatan seorang istri akan mengantarkannya ke surga- yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Bazzar, Nabi SAW bersabda,
Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, puasa selama satu bulan (Ramadhan), menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka ia masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan“. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Al Bazzar; Shahih Al Jami’ hadits no. 660 dan 661).
Lihat Silsilah Al Ahadits Adh-Dhaifah hadits no. 1426. Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 200; Dha’if Sunan Ibnu Majah hadits no. 407; Dha’if Al Jami’ hadits no. 2227; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 286; dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 286


6/337. Salman bin Amir RA dari Nabi SAW, beliau  bersabda,
إِذَا أفْطَرَ أحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطرْ عَلَى تَمْرٍ ؛ فَإنَّهُ بَرَكةٌ ، فَإنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً ، فالمَاءُ ؛ فَإنَّهُ طَهُورٌ )) ، وَقالَ : (( الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ ، وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
‘Jika salah seorang kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena kurma itu berkah. Kalau tidak ada kurma maka dengan air, karena ia suci”. Beliau bersabda, “Sedekah kepada orang miskin berarti hanya sedekah, sedangkan sedekah kepada kaum kerabat mempunyai (pahala) dua; yaitu sedekah dan hubungan persaudaraan.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, Hadits ini hasan ).
Keterangan:
Lafazh hadits Nabi,
إِذَا أفْطَرَ أحَدُكُمْ ، فَلْيُفْطرْ عَلَى تَمْرٍ ؛ فَإنَّهُ بَرَكةٌ ، فَإنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً ، فالمَاءُ ؛ فَإنَّهُ طَهُورٌ
(Jika Salah seorang kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena ‘kurma itu berkah. Kalau tidak ada kurma maka dengan air, karena ia suci) adalah hadits dha’if dari segi sanad dan shahih dilihat dari perbuatan Nabi SAW; yaitu jika berbuka beliau berbuka dengan kurma, dan apabila tidak ada maka dengan air putih. Sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi hadits no. 560, yaitu:
Dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah SAW jika berbuka -sebelum melaksanakan shalat- maka beliau berbuka dengan beberapa buah kurma matang. Jika tidak ada, maka dengan beberapa buah kurma kecil kering. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan meminum air secara sedikit-sedikit.” (HR. At-Tirmidzi)
Lanjutan hadits tersebut yaitu,
الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ ، وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَة
(Sedekah kepada orang miskin berarti hanya sedekah, sedangkan sedekah kepada kaum kerabat mempunyai (pahala) dua; yaitu sedekah dan hubungan persaudaraan) adalah hadits hasan. Matan hadits ini mempunyai syahid pada no. 331.
Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi -dengan ringkasan sanad, nomor 531, dan Shahih Sunan Abu Daud- dengan ringkasan sanad, nomor hadits 2065. Shahih Sunan Ibnu Majah -dengan ringkasan sanad, nomor hadits 1494-, Dha’if Sunan Ibnu Majah, -dengan nomor 374-, dan Irwa ‘ul Ghalil -dengan nomor hadits 922-.


7/347. Abu Usaid Malik bin Rabiah As-Sa’idi RA berkata,
بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – إذ جَاءهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ ،
فَقَالَ : يَا رسولَ اللهِ ، هَلْ بَقِيَ مِنْ برِّ أَبَوَيَّ شَيء أبرُّهُما بِهِ بَعْدَ مَوتِهمَا ؟ فَقَالَ :  نَعَمْ ، الصَّلاةُ عَلَيْهِمَا ، والاسْتغْفَارُ لَهُمَا ، وَإنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِما ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتي لا تُوصَلُ إلاَّ بِهِمَا ، وَإكرامُ صَدِيقهمَا
“Ketika kami duduk di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salimah, ia bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah masih ada jalan untuk berbakti kepada kedua orang tuaku sesudah mereka meninggal?’ Nabi bersabda, ‘Ya, dengan jalan mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat) keduanya, menjalin silaturrahim yang hanya dapat dilakukan dengan keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya”. (HR. Abu Daud)
Keterangan:
Sanad hadits ini dha’if, karena dalam periwayatan hadits ini ada seorang perawi yang bemama Ali bin Ubaid As-Sa’idi, dia adalah orang yang tidak dikenal. Sedangkan perawi lainnya adalah tsiqah (terpercaya).
Lihat dalam kitab Bahjatun-Nazhirin hadits no. 343 oleh Syaikh Salim bin Id Al Hilali; Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 343 oleh Syaikh Syuaib Al Arnauth.


8/360. Maimun bin abi Syabib berkata,
أنَّ عائشة رَضي الله عنها مَرَّ بِهَا سَائِلٌ ، فَأعْطَتْهُ كِسْرَةً ، وَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ عَلَيهِ ثِيَابٌ وَهَيْئَةٌ ، فَأقْعَدَتهُ ، فَأكَلَ ، فقِيلَ لَهَا في ذلِكَ ؟ فقَالتْ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( أنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ )) رواه أبو داود . لكن قال : ميمون لم يدرك عائشة . وقد ذكره مسلم في أول صحيحه تعليقاً فقال : وذكر عن عائشة رضي الله عنها قالت : أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن ننزل الناس منازلهم ، وَذَكَرَهُ الحَاكِمُ أَبُو عبد الله في كتابه (( مَعرِفَة عُلُومِ الحَديث )) وَقالَ : (( هُوَ حديث صحيح )) .
Seorang peminta lewat di depan Aisyah, maka dia memberinya sepotong roti. Kemudian tidak lama datang seorang peminta yang lebih sopan, dipersilakannya duduk dan diberi makan. Ketika Aisyah ditegur tentang perbedaan dalam memperlakukan kedua peminta tersebut, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ”’Tempatkanlah masing-masing orang menurut kedudukannya”.’” (HR. Abu Daud, ia berkata, “Maimun tidak bertemu dengan Aisyah RA”).
Muslim menyebutkan di awal kitab Shahih-nya, secara mu’allaq disebutkan dari Aisyah RA bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk menempatkan setiap orang pada tempatnya”. Al Hakim Abu Abdillah menyebutkan dalam kitab (nya) Ma’rifat Ulum Al Hadits, dia berkata, “Hadits tersebut shahih”.
Keterangan:
Hadits ini sanadnya terputus, yaitu antara Maimunah dengan Aisyah RA. Juga ada seorang perawi yang bemama Habib bin Abu Tsabit, dia seorang mudallis dan meriwayatkan sanad dengan kata “Fulan an fulan. Sedangkan riwayat Muslim di awal kitab Shahih-nya, bahwa syarat perawi yang dipakai Muslim pada hadits tersebut bukan syarat yang ditetapkan pada kitab shahih-nya.. Sedangkan perkataan Al Hakim tidak mempunyai dasar, karena sanad hadits tersebut terputus dan terjadi tadlis di dalamnya.
Lihat Al Misykah hadits no. 4989 Bahjatun-Nadzirin hadits no. 356).
9/363. Anas RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
مَا أكْرَمَ شَابٌّ شَيْخاً لِسِنِّهِ إلاَّ قَيَّضَ الله لَهُ مَنْ يُكْرِمُهُ عِنْدَ سِنِّه
‘Tidaklah seorang pemuda menghormati orang yang lebih tua karena usianya. Kecuali Allah akan mendatangkan untuknya orang yang menghormatinya ketika dia sudah tua. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini gharib”)
Keterangan:
Hadits ini dha’if dan mempunyai dua cacat. Di dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama Yazid bin Bayan Al Muallim Al Uqaili. Adz-Dzahabi mengatakan (dalam Al Mizan) bahwa Ad-Daruquthni berkata, “Dia (Yazid) adalah perawi yang lemah”. Al Bukhari berkata, “Dalam sanad hadits itu ada perawi yang perlu diteliti. Begitu juga gurunya Abu Rihal; Abu Hatim berkata tentang dia: dia seorang yang tidak kuat (hafalannya) dan munkar Haditsnya.
Lihat Adh-Dhaifah hadits no. 304 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 359.


10/378.Umar bin Khaththab RA berkata:
اسْتَأذَنْتُ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – في العُمْرَةِ ، فَأذِنَ لِي ، وَقالَ : (( لاَ تَنْسَنا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ )) فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا
وفي رواية : وَقالَ  أشْرِكْنَا يَا أُخَيَّ في دُعَائِكَ
حديث صحيح رواه أَبُو داود والترمذي، وَقالَ:  حديث حسن صحيح
“Aku minta izin kepada Nabi SAW untuk melakukan umrah, dan beliau mengizinkanku. Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Jangan engkau lupakan kami hai saudaraku dalam doamu’.” Umar berkata, “Sungguh, itulah suatu ucapan yang menyenangkan bagiku, daripada aku memiliki dunia ini”.
Dalam riwayat lain: Nabi berpesan, “Sertakanlah (sebutkanlah) kami dalam doa-doamu hai saudaraku”. (An-Nawawi berkata, “Hadits shahih”. Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan shahih)
Keterangan:
Hadits ini sanadnya dha’if karena ada perawi yang bernama Asim bin Ubaidillah, seorang yang dha’if Jadi Imam An-Nawawi menshahihkan hadits ini seakan-akan ia bertaqlid kepada At-Tirmidzi, dimana hadits itu seakan-akan tidak nampak oleh beliau kedha’ifannya.’
Lihat rincian takhrij hadits ini dalam kitab Al Misykah hadits no. 2248 dan Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 264.


11/413. Abu Hurairah RA berkata,
قَالَ : قرأ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – : { يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا } [ الزلزلة : 4 ] ثُمَّ قَالَ : (( أتَدْرونَ مَا أخْبَارهَا )) ؟ قالوا : الله وَرَسُولُهُ أعْلَمُ . قَالَ : (( فإنَّ أخْبَارَهَا أنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلّ عَبْدٍ أَوْ أمَةٍ بما عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا تَقُولُ : عَملْتَ كَذَا وكَذَا في يَومِ كَذَا وكَذَا فَهذِهِ أخْبَارُهَا )) رواه الترمذي ، وَقالَ : (( حديث حسن صحيح ))
“Ketika RasuluHah SAW membaca (ayat) ‘Pada hari itu bumi menceritakan beritanya‘, beliau bersabda, ”Tahukah kalian apakah kabar bumi itu? Sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Nabi SAW bersabda, ”Kabar bumi itu ialah, bumi akan menjadi saksi atas setiap perbuatan manusia, baik laki atau perempuan, sebagaimana yang dikerjakan di atasnya‘. Bumi berkata, “Engkau telah berbuat ini dan itupada hari ini dan hari ini“. Itulah kabar beritanya’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan”)
Keterangan:
Sanad hadits ini dha ‘if. Karena ada perawi yang bernama Yahya bin Abi Sulaiman Al Madani, orang yang lemah dalam periwayatan haditsnya.
Lihat Adh-Dha’ifah hadits no. 4834 dan Takhrij Riyadhush-Shalihin Syu’aib Al Arnauth, hadits no. 408.


12/486. Abu Amru (Utsman) bin Affan RA mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda,
لَيْسَ لاِبْنِ آدَمَ حَقٌّ في سِوَى هذِهِ الخِصَالِ : بَيْتٌ يَسْكُنُهُ ، وَثَوْبٌ يُوارِي عَوْرَتَهُ ، وَجِلْفُ الخُبز وَالماء )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث صحيح ))
Tiada hak bagi seorang manusia (anak turun Adam) dalam semua hal kehidupan ini, selain rumah (tempat tinggal), pakaian yang menutup auratnya, roti kering serta air“. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini shahih’).
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bernama Harits bin As-Sa’ib, sebagaimana Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Al Muntakhab (10/1/2) dari Hambal, dia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Al Imam Ahmad) tentang Harits bin As-Salb, maka dia berkata, ‘Tidak ada halangan terhadapnya, melainkan dia meriwayatkan hadits munkar, (dikatakan hadits dari Utsman, dari Nabi SAW, padahal tidak dari Nabi SAW), untuk hadits tersebut’”. Qatadah juga meriwayatkan dan ia menyelisihinya, yaitu ia meriwayatkan dari Al Hasan, dari Hamran, dan dari seorang ahli kitab.
Lihat Adh-Dhaifah hadits no. 1063 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 482.
13/488. Abdulah bin Mughaffal RA berkata,
قَالَ رجل للنبي – صلى الله عليه وسلم – :
يَا رسولَ الله ، وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ ، فَقَالَ : (( انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ ؟ )) قَالَ : وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ ، ثَلاَثَ مَرَّات ، فَقَالَ : (( إنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تِجْفَافاً ، فإنَّ الفَقْرَ أسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّني مِنَ السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))
“Seorang berkata kepada Nabi SAW, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, aku cinta kepadamu’. Nabi menjawab, ‘Perhatikan, apa yang kamu katakan itu” Orang tersebut berkata lagi, ‘Demi Allah, aku cinta kepadamu, ya Rasulullah. Kata-kata tersebut diulanginya sampai tiga kali. Lalu Nabi SAW bersabda, “Jika engkau memang benar-benar cinta kepadaku, maka bersiap-siaplah engkau menghadapi kemiskinan sebagai perisai kehidupan, karena kemiskinan lebih cepat datangnya kepada orang yang cinta kepadaku, melebihi kecepatan banjir yang mengalir ke dalam jurang”.‘ (Riwayat At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan gharib”).
Keterangan:
Hadits ini dha’if karena ada dua perawi yang bernama Syidad bin Thalhah Ar-Rasibi dan Abul-Wazi’, mereka berdua dha’if Matan (redaksi) haditsnya mungkar. Banyak riwayat hadits shahih yang menjelaskan dan memuji harta yang halal ketika harta itu berada di tangan orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, Nabi SAW bersabda,
“Tidak dianggap suatu hasad jika seseorang iri dalam dua hal, orang yang diberi pemahaman oleh Allah dalam Al Qur’an, dan ia menegakkannya sepanjang malam dan siang, dan seorang yang diberi harta oleh Allah. Lalu ia bersedekah dengan harta itu sepanjang malam dan siang”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 409; Bahjatun-Nazhirin hadits no. 484; Takhrij Riyadhush-Shalihin no hadits 484 oleh Syaikh Syu’aib Al Amauth.


56. Bab: Keutamaan Lapar dan Kesederhanaan dalam Hidup, Baik Berupa Makanan, Minuman, Pakaian, Maupun Hal yang Lain
14/524. Asma’ binti Yazid RA berkata,
كَانَ كُمُّ قَمِيصِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الرُّصْغِ . رواه أَبو داود والترمذي ، وقال : حديث حسن
“Lengan baju Rasulullah SAW panjangnya sampai pergelangan tangan”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan)
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bemama Syahar bin Husyaib. Al Hafizh berkata (dalam kitab At-Taqrib), “la orang yang jujur (Shaduq), tetapi banyak meriwayatkan hadits secara mursal(periwayatan yang disandarkan langsung kepada Nabi SAW). la juga banyak meriwayatkan dengan periwayatan yang meragukan”. Aku katakan (Al Albani), “Syahar adalah orang yang lemah riwayatnya dan buruk hafalannya.”
Lihat Adh-Dhai’fah hadits no. 2458 dan Bahjatun no . hadits 519.

 Mengingat Kematian dan Mengurangi Angan-angan

15/583
. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda,
بادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعاً ، هَلْ تَنْتَظِرُونَ إلاَّ فَقراً مُنسياً ، أَوْ غِنىً مُطغِياً ، أَوْ مَرَضاً مُفسِداً ، أَوْ هَرَماً مُفْنداً ، أَوْ مَوتاً مُجْهزاً ، أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ ، أَوْ السَّاعَةَ فالسَّاعَةُ أدهَى وَأَمَرُّ
Segeralah beramal sebelum datangnya tujuh macam keadaan: apakah yang kamu nantikan selain kemiskinan yang dapat melalaikan, atau kekayaan yang dapat membuat orang sombong, atau suatu penyakit yang dapat merusak badan, atau masa tua yang melelahkan, atau datangnya kematian dengan cepat, atau kedatangan dajjal sejahat-jahat yang dinantikan, atau hari kiamat padahal hari kiamat itu sangat pedih dan dahsyat“. (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan

 Disunnahkan Ziarah Kubur Bagi Laki-laki dan berdoa ketika berziarah

16/589
. Ibnu Abbas RA berkata,
مرَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بِقُبورٍ بالمدِينَةِ فَأقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ ، فَقَالَ : السَّلامُ عَلَيْكُمْ يَا أهْلَ القُبُورِ ، يَغْفِرُ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ ، أنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحنُ بالأثَرِ )) رواه الترمذي ، وقال : حديث حسن )) .
“Nabi SAW berjalan di kuburan Madinah, lalu beliau menghadap ke kuburan tersebut sambil berdoa, ‘Selamat sejahtera kepada kalian hai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian telah mendahului kami dan kami berikutnya’.” (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bernama Qabus bin Abi Zhabyan. An-Nasa’i berkata, la (Qabus) tidak kuat hafalannya.” Ibnu Hibban berkata, “la buruk hafalannya dan ia sendiri yang meriwayatkannya dari bapaknya, yang tidak mempunyai sandaran untuknya”. Mungkin At-Tirmidzi mengatakan Hadits tersebut hasan karena ada pertimbangan bahwa hadits tersebut ada Syawahidnya (hadits-hadits lain yang semakna, yang memperkuatnya). Makna hadits tersebut shahih, kecuali matan (redaksi) hadits yang berbunyi: فَأقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ (maka Nabi SAW menghadap ke kuburan tersebut) periwayatan matan ini mungkar, karena Qabus meriwayatkan sendiri dari bapaknya. Hadits shahih yang semakna dengan hadits tersebut antara lain:
“Buraidah RA berkata, “Nabi SAW mengajarkan sahabatnya jika pergi ke kuburan supaya membaca, ‘Selamat sejahtera bagimu penduduk kaum mukminin dan muslimin, dan kami insya Allah akan mengikuti kalian. Aku memohon pengampunan kepada Allah untuk kami dan kalian’.” (HR. Muslim).
Lihat Ahkamul-Jana’iz halaman 197 dan Bahjatun-Nazhirin hadits no. 584.

 Wara’ (kesederhanaan) dan Menjauhi Syubhat
17/601. Athiyah bin Urwah Assa’di RA berkata, Rasullullah SAW bersabda,
لاَ يَبْلُغُ الْعَبدُ أنْ يَكُونَ منَ المُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأسَ بِهِ ، حَذَراً مِمَّا بِهِ بَأسٌ
رواه الترمذي ، وقال : حديث حسن .
“‘Seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat takwa yang sempurna, hingga ia meninggalkan apa-apa yang tidak dilarang karena khawatir terjerumus ke dalam hal yang dilarang (diharamkan)’‘ (Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Keterangan:
Hadits ini dha’if, karena ada perawi yang bemama Abdullah bin Yazid, ia di-dha’if-kan oleh jumhur ulama hadits. Al Hafizh berkata (di dalam At-Taqrib) “la adalah orang yang lemah dalam periwayatan hadits”. Meskipun hadits ini dha’if tetapi maknanya mempunyai dasar yang menjiwai tentang wara’ (kesederhanaan) dan menjauhi syubhat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:
An-nu’man bin Basyir RA mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda,
‘Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram juga telah jelas, dan diantara keduanya ada hal-hal yang menyerupai (meragukan), tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Jadi siapa yang berhati-hati dari syubhat maka akan terjaga agama dan kehormatannya, dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat maka akan terjerumus ke dalam yang haram“. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Lihat kitab Takhrij Al Halal wal Haram hadits no. 178 Bahjatun-Nazhirin hadits no. 596

 Tentang Dajjal dan Tanda-tanda – Hari Kiamat

63/1841
. Abu Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
(( إنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا ، وَحَدَّ حُدُوداً فَلاَ تَعْتَدُوهَا ، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا ، وَسَكَتَ عَنْ أشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا )) حديث حسن . رواه الدارقطني وغيره
Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah menetapkan beberapa kewajiban, maka jangan kalian abaikan, dan menetapkan beberapa hukum, maka jangan kalian langgar, dan menetapkan beberapa yang haram, maka jangan kalian langgar. Sedangkan mendiamkan beberapa hal dikarenakan adanya kasih sayang untuk kalian bukan dikarenakan hal itu terlupakan, maka jangan kalian mencari-carinya (menyelidiki lebih dalam)” (HR. Ad-Daruquthni dan lainnya, hadits hasan).
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat), sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab di dalam kitab Syarah Al Arba’in An-Nawawiyah (halaman 200, sebagai berikut:
  • Sebenarnya perawi yang bernama Makhul tidak mendengar dari Abu Tsa’labah.
  • Meskipun benar dia mendengar dari Abu Tsa’labah, tetapi ia melakukan dan meriwayatkannya secara mu’an’an dari Abu Tsa’labah.
  • Adanya perselisihan pendapat ahli hadits tentang kedudukan haditsnya yang disandarkan kepada Abu Tsa’labah,
Riwayat hadits tersebut ada syahidnya lewat dua jalur periwayatan dari Abu Ad-Darda seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni:
Apa saja yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitab-Nya maka menjadi halal, apa yang diharamkannya maka ia menjadi haram, dan apa yang didiamkannya darinya maka itu termaafkan. Jadi kalian terimalah apa yang dimaafkannya, karena sesungguhnya Allah tidak lalai akan segalanya.” Kemudian Nabi SAW membacakan ayat yang berbunyi, ”Tidaklah Tuhanmu menjadi lupa” (Surah Maryam ayat 64); (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni)
Namun hadits ini lemah sekali karena pada jalur periwayatan Ath-Thabrani ada perawi yang bernama Ashram bin Hausyib, dia seorang pendusta Jalur periwayatan dari Ad-Daruquthni ada perawi yang bernama Nahsyal Al Khurasani, yang juga seorang pendusta.
Namun ada riwayat hadits hasan dari riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang memberikan makna seperti hadits tersebut, ketika Nabi SAW ditanya tentang hukum samin (lemak) dan jubn (keju), maka Nabi SAW menjawab,
Yang halal sudah ditetapkan kehalalannya oleh Allah di dalam kitab-Nya, yang haram sudah ditetapkan keharamannya di dalam kitab-Nya, dan apa saja yang didiamkannya maka itu perkara yang di maafkan-Nya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 1410)
Lihat Ghayatul Maram fi Takhrij Ahadits Halal wal Haram hadits no. 4, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1832, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1832

 Larangan Mendatangi Dukun dan Ahli Nujum
58/1679. Qabishah bin Al Mukhariq RA mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,
(( العِيَافَةُ ، وَالطِّيَرَةُ ، والطَّرْقُ ، مِنَ الجِبْتِ )) . رواه أبو داود بإسناد حسن .
Corat-coret (menggaris menebak nasib) atau menebak nasib dengan burung atau melempar burung supaya terbang; kalau terbang ke arah kanan bertanda baik, sedangkan kalau ke kiri bertanda sial, merupakan perbuatan tukang ramal.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang hasan)
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya) yaitu Hayyan bin Al Alla, walaupun demikian, ada hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan tentang syiriknya perbuatan meramal, khurafat, atau yang lainnya, diantaranya adalah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,
‘Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, dan shafar”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan tambahan: dan tidak ada na’u serta ghul”.
Adwa: penjangkitan atau penularan penyakit. Sabda Nabi SAW bermaksud menolak anggapan masyarakat jahiiiyah, bahwa penyakit berjangkit atau menular tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dengan kehendak dan takdir Allah SWT.
Thiyarah‘. merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.
Hamah’. burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial jika melihatnya. Jika burung hantu hinggap di suatu rumah, maka mereka berkeyakinan bahwa akan ada berita kematian dirinya atau anggota keluarganya.
Shafar: orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan shafar akan membawa kesialan atau mendatangkan hal-hal yang tidak menguntungkan.
Na’u’ tenggelam atau terbitnya suatu bintang: Masyarakat jahiliyah menisbatkan kepada bintang dalam suatu urusan, misalnya turunnya hujan (kepada suatu bintang)
Ghul‘. makhluk halus (hantu/salah satu makhluk jenis jin). Masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa hantu tersebut (dengan perubahan bentuk maupun warna) dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Padahal anggapan tersebut dalam Islam tidak benar, karena celakanya seseorang atau lainnya berasal dari kekuasaan Allah SWT.
Lihat Ghayatul Maram hadits no. 301, Dha’if Sunan Abu Daud hadits no. 842, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1670, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1670.


Kewajiban Jihad
43/1343. Uqbah bin Amir Al Juhani RA berkata,
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالرَّامِيَ بِهِ وَمُنْبِلَهُ وَارْمُوا وَارْكَبُوا وَأَنْ تَرْمُوا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا لَيْسَ مِنْ اللَّهْوِ إِلَّا ثَلَاثٌ تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتُهُ أَهْلَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ تَرَكَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَهَا
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam surga karena satu panah. Pembuatnya dengan niat kebaikan dalam membuatnya; orang yang memberikan anak panah kepada orang yang melemparkannya, dan orang yang melemparkannya. Untuk itu berlatihlah melempar dan menunggang. Menurutku berlatih melempar akan lebih baik daripada hanya menunggang. Siapa yang meninggalkan kepandaian melempar setelah ia lihai karena rasa jemu, berarti ia meninggalkan suatu nikmat atau mengabaikannya’ (Riwayat Abu Daud).
Keterangan:
Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada dua illat (cacat). Pertama, dalam sanadnya ada dua orang perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya), yaitu Khalid bin Zaid dan Abdullah bin Al Azraq. Kedua, dalam sanadnya idhtirab yaitu yang berlawanan cara-cara periwayatannya, menyelisihi periwayatan Syaikh Abu Salam, sebagaimana dijelaskan oleh Al Hafizh Al Iraqi di dalam Takhrij Al Ihya’. Lihat Takhrij Albani di dalam Takhrij Fiqhus-Sirah (halaman 225), Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1335, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1335.

 Tentang Doa-doa

48/1495
. Imran bin Al Hushain RA berkata,
أنَّ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَّمَ أبَاهُ حُصَيْناً كَلِمَتَيْنِ يَدْعُو بهما : (( اللَّهُمَّ ألْهِمْني رُشْدِي ، وأعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسي )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))
Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri nafsi’”. (Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari kejahatan diriku). (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

Keterangan:

Sanad hadits tersebut dha’if, bahkan At-Tirmidzi sendiri mendha’ifkannya hadits tersebut pada kesempatan lainnya, dengan mengatakan, Hadits gharib, yaitu dha ‘if karena ada perawi yang bernama Syabib bin Syaibah, orang yang jujur tapi banyak kebimbangan pada dirinya (wahm) dalam periwayatan suatu hadits, begitu ada perawi lainnya pada hadits tersebut (yaitu Al Hasan), ia melakukan tadlis (hadits yang disembunyikan cacat sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya. -Peny.) Ia juga meriwayatkan hadits tersebut dengan mu’an’an (hadits yang disanadkan dengan kata ‘an Namun ada riwayat hadits dengan jalur lain yang sanadnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim, yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Nabi SAW mengajarkan doa:
Ya Allah, jauhkan kejahatan pada diriku dan tetapkan bagiku segala kebenaran untuk urusanku”. (HR. Imam Ahmad)
Begitu pula hadits dengan jalur lain yang sanadnya Jayyid, Nabi SAW mengajarkan doa:
“Ya Allah, ampunilah aku akan dosaku, kesalahanku, dan perbuatanku yang disengaja. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk-Mu, agar segala kebenaran ada pada urusanku, dan aku mohon perlindungan-Mu dari segala kejahatan yang ada pada diriku”. (HR. Imam Ahmad).
Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 690, Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4098, Al Misykah hadits no. 2476, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1487, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1487.



HASIL CARIAN BAGI PERKATAAN/FRASA sabda ajak arah cakap firman ujar hadis kata perintah pidato seru suruh syarah ucap BERJAYA MENCAPAI 2223 HADIS DARI KOLEKSI SAHIH BUKHARI SAHIH MUSLIM SUNAN AN-NASAI SUNAN IBNU MAJJAH
( madah titah tiada dalam koleksi )

1  
Hadis Sunan An-Nasai Jilid 1. Hadis Nombor 0437.
Kata Yazid bin Abi Malik: "Anas bin Malik pernah bercerita pada kami: "Pada suatu kali Rasulullah saw bersabda: "Telah didatangkan padaku seekor binatang yang besarnya hampir sama dengan, kuda, langkah binatang itu sejauh mata memandang. Aku dipersilakan naik diatasnya, kemudian aku diajak pergi oleh Jibril. Ketika tiba disuatu tempat, maka aku disuruh turun dan disuruh mengerjakan solat. Setelah aku laksanakan, maka Jibril bertanya: "Tahukah kamu dimanakah tadi kamu solat?, Tempat ini adalah Madinah, tempat ini akan menjadi tempat hijrahmu". Kemudian aku melanjutkan perjalanan. Setelah itu Jibril memerintahkan aku turun dan memerintahkan aku mengerjakan solat. Kemudian Jibril memberitahu bahawa tempat ini Thur Shina, di tempat inilah Allah pernah berfirman pada Musa. Tidak lama setelah kami melanjutkan perjalanan kami, maka Jibril menyuruh aku untuk mengerjakan solat. Kemudian Jibril memberitahu bahawa tempat itu adalah Bethlehem, di tempat ini Isa as dilahirkan. Ketika aku sampai di Baitul Maqdis, aku dapatkan para Nabi as telah berkumpul di tempat itu. Aku diperintahkan Jibril untuk menjadi imam solat dengan para Nabi. Kemudian aku diajak menuju ke langit dunia, iaitu langit pertama. Di langit pertama aku menemui Adam as. Selanjutnya aku diajak meneruskan perjalanan hingga ke langit kedua. Di langit kedua aku menemukan Isa dan Yahya as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga ke langit ke tiga. Di langit ke tiga aku menemui Yusuf as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga langit ke empat. Di langit ke empat ini aku menemui Harun as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga langit ke lima. Di langit kelima ini aku bertemu dengan Idris as. Kemudian aku diajak melanjutkan perjalanan hingga langit keenam. Dilangit keenam aku menemui Musa as. Dan akhirnya aku diajak melanjutkan perjalanan hingga dilangit ke tujuh. Di langit yang ketujuh aku bertemu dengan Ibrahim as. Setelah itu aku diajak melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi hingga sampai di Sidratil Munthaha. Di tempat ini aku diliputi oleh awan. Kemudian aku bersujud. Di saat itulah Allah berfirman: "Sejak Aku jadikan langit dan bumi, Aku telah menetapkan bagimu dan umatmu 50 kali solat fardhu. Kerana itu kerjakanlah olehmu dan umatmu". Ketika aku melalui di tempat Nabi Ibrahim, aku tidak mendapat pertanyaan apapun dari Ibrahim. Ketika aku melalui tempat Musa, maka Musa bertanya: "Berapa solat yang difardhukan Tuhanmu bagi umatmu?" Kata Musa :"Sesungguhnya kewajiban itu terlalu berat bagimu dan umatmu, kerana itu kembalilah pada Tuhanmu dan mohonlah keringanan". Ketika aku kembali pada Tuhanku untuk memohon keringanan, maka tuhanku memberi keringanan 10. Setelah aku kembali pada Musa, maka oleh Musa aku dianjurkan untuk kembali pada Tuhanku guna memohon keringanan lagi. Demikianlah seterusnya hingga diringankan bagiku hingga menjadi 5 kali solat. Ketika aku beritahukan pada Musa, maka Musa berkata: "Kembalilah pada Tuhanmu dan mohonlah keringanan sekali lagi. Sesungguhnya telah diwajibkan atas Bani Israil hanya 2 kali solat, akan tetapi mereka tidak mampu mengerjakannya". Ketika aku kembali pada Tuhanku untuk memohon keringanan. Maka Allah berfirman: "Sejak Aku jadikan langit dan bumi telah Aku tetapkan bagimu dan umatmu 50 kali solat. Kini telah Aku ringankan menjadi 5 kali solat. Solat 5 kali itu Aku samakan dengan 50 kali solat, kerana itu terimalah kewajiban ini dan kerjakan dengan sebaiknya." Setelah aku tahu bahawa ketetapan Tuhanku tidak dapat dirobah, maka aku kembali pada Musa. Ketika Musa menganjurkan aku untuk mohon keringanan kembali, maka aku katakan bahawa: "Ketetapan akhir yang sudah ditetapkan tak akan diubah lagi oleh Tuhanku."
2  
Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1255.
Dari Miswar bin Makhramah dan Marwan r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. ke luar dalam masa peperangan Hudaibiyah. Ketika telah sampai di suatu jalan, Nabi s.a.w. bersabda:"Sesungguhnya Khalid bin Walid di Ghamim dalam pasukan berkuda orang Quraisy menjadi pengintip, maka ambillah jalan ke sebelah kanan". Demi Allah, Khalid tiada mengetahui. sehingga ketika dalam debu tentera berangkatlah Khalid memacu kudanya untuk memberi peringatan kepada orang Quraisy. Dan Nabi s.a.w. terus berjalan, hingga ketika beliau berada di puncak bukit yang akan dituruni menghadap mereka. Unta beliau bersimpuh (berhenti). Orang banyak berkata: "Hal, hal!" (ucapan menghalau unta). Unta itu tiada mahu berjalan. Mereka berkata: "Qashwa mogok, Qashwa mogok!" Nabi berkata:" Qashwa bukan mogok, dan itu bukan sifatnya. Melainkan ia ditahan oleh yang menahan gajah (yang datang untuk meruntuh Kaabah)". Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: "Demi Tuhan yang diri ku di tanganNya, setiap mereka minta pada ku satu rencana buat membesarkan kehormatan Tuhan, selalu aku berikan kepada mereka." Kemudian beliau mengherdik unta beliau, lalu ia melompat. Kata Rawi (yang meriwayatkan hadis): Kemudian beliau berpaling dari mereka sehingga berhenti di tengah padang Hudaibiyah. Di situ ada lobang yang berisi sedikit air. Orang banyak menyauknya sedikit-sedikit dan tinggal di situ, sehingga mereka menghabiskan air itu. Maka diadukanlah kehausan kepada Rasulullah s.a.w. Lalu beliau mengambil anak panah dari tabungnya, kemudian beliau suruh mereka mencacakkannya dalam lobang itu. Maka demi Allah, memancarlah air dengan derasnya sehingga mereka kembali. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Budail bin Warqa' Al Khuzai dalam satu rombongan dengan kaumnya suku Khuzaah. Mereka adalah kepercayaan Rasulullah s.a.w. di antara penduduk Tihamah. Kata Budail: "Saya meninggalkan Kaab bin Luai dan Amir bin Luai, berhenti di tempat-tempat air Hudaibiyah dan dengan mereka ada unta yang masih menyusukan anaknya. Mereka akan memerangi dan melarang tuan untuk mengunjungi Baitullah. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bahawa sesungguhnya kami datang bukanlah untuk memerangi seseorang, akan tetapi kami datang untuk mengerjakan 'umrah. Sesungguhnya orang Quraisy itu telah dilemahkan dan dirusak oleh peperangan. Kalau mereka menghendaki, saya beri tempoh kepada mereka dan mereka dibiarkan tidak perang antara saya dan mereka, biarpun saya akan menang. Kalau mereka hendak masuk ke dalam apa yang dimasuki orang banyak, iaitu perang, mereka boleh melakukannya! Kalau tidak, maka mereka dapat berehat. Kalau mereka tiada mahu, maka Tuhan yang, diri ku di tanganNya, mereka akan saya perangi atas dasar tugas , sampai leher saya putus. Sesungguhnya Tuhan akan melaksanakan pekerjaanNya". Budail berkata: "Nantilah saya sampaikan kepada mereka apa yang tuan katakan itu". Kata Rawi: Lalu ia berjalan hingga ditemuinya orang Quraisy. Katanya: "Bahawa sesungguhnya kami datang kepada mu dari laki-laki itu (Nabi Muhammad s.a.w.) dan kami dengar beliau mengucapkan sabdanya. Kalau kamu menghendaki supaya kami sampaikan kepada mu, kami lakukan". Orang-orang bodoh di antara mereka berkata: "Satu pun tidak perlu bagi kami untuk engkau khabarkan sabdanya itu". Orang cerdas di antara mereka berkata: "Terangkanlah apa katanya yang engkau dengar! Jawab Budak: "Saya dengar beliau bersabda begini dan begitu". Terus diceritakannya kepada mereka semua yang disabdakan Nabi s.a.w. Urwah bin Masuud lalu berdiri, katanya: "Hai kaumku! Bukankah kamu sebagai bapa?" Jawab mereka: "Ya!" Katanya: "Bukankah saya sebagai anak?" Jawab mereka: "Ya!" Katanya: "Kamu curigaikah saya'!" Jawab mereka: "Tidak!" Katanya: "Bukanlah kamu telah mengetahui bahawa saya meminta bantuan kepada penduduk 'Ukaz tatkala mereka tiada membantu saya, lalu saya datang kepada mu bersama-sama dengan keluarga, anak dan orang yang mengikut saya'? "Mereka menjawab:"Benar!" Seterusnya ia berkata: "Orang itu (Nabi Muhammad s.a.w.) sebenarnya telah memberikan rencana yang benar untuk kamu; hendaklah kamu terima dan biarkanlah saya datang menghadap beliau!" Jawab mereka: "Datanglah menghadapnya.". Lalu ia datang menghadap Nabi . berunding dengan Nabi s.a.w. sebagaimana sabda beliau kepada Budak!. Waktu itu "Urwah berkata: "Hai Muhammad! Bagaimana pendapat tuan jika tuan hapuskan 'kebiasaan kaum tuan'? Adakah tuan dengar seseorang di antara orang Arab yang telah menghapuskan keluarganya'! Kalau sekiranya terjadi, maka sesungguhnya, demi Allah, saya tiada akan melihat pemimpin-pemimpin, dan sesungguhnya saya lihat percampuran dari orang banyak, bahawa mereka akan lari dan meninggalkan tuan". Abu Bakar berkata kepadanya: "Hisaplah kemaluan Lata. Adakah kami akan lari ,meninggalkan beliau'!" Tanya 'Urwah: "Siapakah ini'!" Orang banyak menjawab: "Abu bakar!" Katanya: "Demi Tuhan yang diri ku ditanganNya! Kalau tidaklah kerana jasa-jasa engkau kepada saya yang tiada terbalas. nescaya saya jawab".Kata Rawi: Dan ia terus berunding dengan Nabi s.a.w. Setiap kali ia berbicara dijangkaunya janggut Nabi, sedangkan Mughirah bin Syuubah berdiri di belakangnya dengan memegang pedang dan bertopi waja. Setiap 'Urwah menghulurkan tangannya ke janggut Nabi s.a.w., Mughirah memukul tangannya dengan ujung sarung pedangnya, katanya: "Jauhkan tangan engkau dari janggut Rasulullah s.a.w." 'Urwah mengangkat kepalanya lalu bertanya: "Siapakah ini?" . Orang banyak menjawab: "Mughirah bin Syuubah!" Kata Urwah: 'Hai penipu! Bukankah saya telah berusaha menolak tipuan engkau? Mughirah pada masa jahiliyah bersahabat dengan suatu kaum, maka ia membunuh dan mengambil harta mereka. kemudian ia datang kepada Nabi s.a.w., lalu ia masuk Islam". Waktu itu Nabi s.a.w. bersabda: "Adapun untuk masuk Islam, saya terima. Adapun harta, itu bukan urusan saya". Sesudah itu 'Urwah menatap sahabat-sahabat Nabi s.a.w. dengan kedua matanya. Kata 'Urwah: "Demi Allah, kalau Rasulullah s.a.w.meludah dan jatuh di telapak tangan seseorang di antara mereka, digosokkannya ke muka dan kulitnya. Apabila beliau memberi perintah, mereka cepat melakukan perintah itu. Apabila beliau berwuduk, hampir-hampir mereka berkelahi berebutan air bekas wuduk beliau. Apabila beliau bersabda, mereka merendahkan suara di sisi beliau dan mereka tiada menunjukkan pandangan pada beliau kerana membesarkannya. Kemudian 'Urwah kembali kepada kawan-kawan lalu berkata:"Hai kawan-kawanku! Demi Allah. saya pernah menjadi utusan menemui raja-raja dan pernah menjadi utusan menemui Kaisar (Raja rom). Kisra (Raja Parsi),dan Najasi (Raja Habsyah). Demi Allah, belum pernah saya lihat sekali pun seorang raja yang dibesarkan oleh sahabat-sahabatnya (pengikutnya) sebagaimana Muhammad s.a.w. dibesarkan oleh sahabat-sahabat beliau. Demi Allah, jika Rasulullah s.a.w. meludah dan jatuh di telapak tangan seseorang di antara mereka, mereka menggosokkannya ke muka dan kulitnya. Apabila beliau memberi perintah kepada mereka, dengan cepat mereka melakukan perintah itu. Apabila beliau berwuduk, hampir-hampir mereka berkelahi berebut air bekas wuduk beliau. Apabila beliau bersabda, mereka merendahkan suara di sisi beliau dan mereka tiada menujukan pandangan kepada beliau kerana membesarkan beliau. Dan sesungguhnya beliau telah memberikan kepada kamu satu usul yang , maka terimalah!" Seorang laki-laki dari Bani Kinanah berkata: "Biarkanlah saya menemui beliau!" Mereka menjawab: "Temuilah!" Setelah ia berada dekat Nabi s.a.w. dan sahabat-sahabat, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Si Anu ini dari kalangan kaum yang membesarkan (memuliakan) unta. Bawalah unta korban itu kepadanya!" Lalu dibawa unta itu, dan orang banyak pun menyambutnya sambil mengucapkan ucapan selamat datang. Setelah dilihatnya hal demikian itu, ia berkata: "Subhanallah, tiada sepantasnya mereka ini dihalangi mengunjungi Bait (Kaabah) . Setelah ia kembali kepada kawan-kawannya, ia berkata: "Saya lihat unta korban telah diberi kalung dan diberi tanda. Saya berpendapat jangan mereka diha1angi mengunjungi Bait (Kaabah)" Seorang laki-laki di antara mereka yang bernama fdikraz bin Hafs berdiri, lalu berkata: "Biarkanlah saya menemui beliau! Kata mereka: "Temuilah!" Setelah dia hampir tiba, Nabi s.a.w. bersabda: Ini Mikraz! Dia seorang laki-laki yang jahat! Lalu dia berunding dengan Nabi s.a.w. Ketika dia berunding dengan beliau itu tiba-tiba Suhail bin Amr datang. Maamar berkata: Maka Ayyub menceritakan kepada saya tentang Ikrimah, bahawa ketika Suhail bin 'Amr datang, Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya telah mudah semua pekerjaan kamu!" Maamar berkata lagi: Zuhri mengatakan dalam hadisnya: Maka datanglah Suhail bin 'Amr dan berkata: "Marilah kita membuat sebuah surat perjanjian antara kami dan kamu". Kemudian Nabi s.a.w. memanggil seorang penulis, maka disabdakan oleh Nabi s.a.w.: "Bismillahir Rahmanir Rahim". (Dengan nama Allah yang pemurah dan penyayang). Kata Suhail: "Adapun Rahman, maka demi Allah, saya tiada mengerti apakah itu? Akan tetapi tulislah "Bismikallahumma" (Dengan nama Engkau, hai Allah) sebagaimana yang biasa engkau tulis". Kata orang-orang Islam: "Demi Allah, kami tiada akan menuliskan melainkan "Bismillahir Rahmanir Rahim". Nabi s.a.w. bersabda: "Tulislah Bismikallahumma!" Kemudian beliau bersabda: "Inilah yang telah diputuskan oleh Muhammad Rasullullah". Kata Suhail : "Demi Allah. kalau kami mewakili tuan Rasullullah, tiadalah kami akan melarang tuan mengunjungi Baitullah dan tiada pula kami akan memerangi tuan. Akan tetapi tulislah "Muhammad bin Abdullah", Nabi s.a.w. bersabda: "Demi Allah, bahawa sesungguhnya saya Rasulullah, tetapi kalau sekiranya kamu mendustakan saya, tulislah "Muhammad bin Abdullah". Kata al-Zuhri: Dan hal itu mengingat sabda Nabi: "Kalau mereka minta kepada ku garis untuk membesarkan agama Allah nescaya aku berikan". Seterusnya Nabi s.a.w. bersabda: "Kamu jangan menghalangi kami mengunjungi Bait, supaya kami dapat tawaf di situ". Kata Suhail: "Jangan-jangan nanti orang-orang Arab menceritakan bahawa kami ditekan (mundur). maka yang demikian itu baiklah dilakukan pada tahun di muka". Lalu dituliskan. Kata Suhail: "Dan lagi kalau seseorang di antara kami datang kepada tuan, walaupun ia memeluk agama tuan, hendaklah tuan kembalikan kepada kami". Kata orang-orang Islam: "Subhanallah! Mengapa dia dikembalikan kepada orang Musyrik, sedangkan dia datang sebagai orang Islam?" Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin Amr dalam keadaan terbelenggu. la keluar dari hilir Mekah sehingga sampai di hadapan orang Islam. Kata Suhail: "inilah hai Muhammad! Buat pertama kali, apa yang saya Minta untuk tuan, kembalikan kepada saya", Nabi s.a.w. bersabda: '.Sesungguhnya kita belum lagi selesai membuat perjanjian". Kata Suhail: "Demi Allah! Kalau begitu selamanya saya tidak mahu berdamai dengan tuan dalam hal apa jua pun;'. Nabi s.a.w. bersabda: "Biarkanlah ia bersama saya!" Katanya: "Saya tiada akan membiarkannya bersama tuan". Sabda beliau: "Ya, mesti engkau lakukan!" Jawabnya: "Saya tidak akan melakukan". Kata Mikraz: "Baiklah kami biarkan dia bersama tuan", Kata Abu Jandal: "Hai kaum Muslimin, akan dikembalikankah saya kepada orang-orang musyrik, sedangkan saya datang untuk masuk agama Islam! Bukankah telah kamu ketahui apa yang saya derita?" Dan dia disingkir kerana agama Allah dengan seksa yang hebat. Kata Rawi: Umar bin Khattab berkata:Lalu saya datang menghadap Nabi s.a.w. Kata saya: "Bukankah tuan sebenarnya Nabi Allah?" Jawab beliau: "Ya". Kata saya: "Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita menurut yang batil'?" Jawab beliau: "Ya!" Kata saya: "Kalau begitu apakah tuan masukkan yang kurang baik dalam ugama kita?" Jawab beliau: "Sesungguhnya saya Rasulullah dan saya tidak pernah mendurhakaiNya, Dialah yang menolong saya". Kata saya: "Bukankah tuan pernah menceritakan pada kami, bahawa sesungguhnya kita akan mengunjungi Baitullah dan kita tawaf di situ'!" Jawab beliau: "Ya! Adakah saya mengkhabarkan kepada mu bahawa kita akan mengunjunginya tahun ini'?" Jawab saya: "Tidak!" Umar berkata: "Lalu saya datang menemui Abu Bakar. kata saya: "Hai Abu Bakar! Bukankah orang ini sebenarnya Nabi Allah? Jawabnya: "Ya!" Kata saya: "Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita menurut yang batil?" Jawabnya: "Ya!" Kata saya:"Kalau begitu, mengapa kita datangkan yang kurang baik dalam agama kita?" Kata Abu Bakar: "Hai Umar! Sesungguhnya beliau sebenarnya Rasulullah s.a.w. dan beliau tiada mendurhakai Allah. Dialah yang menolong beliau. Maka peganglah (patuhilah) perintah beliau! Demi Allah! Sesungguhnya beliau atas yang benar!" Kata saya: "Bukankah beliau pernah menceritakan kepada kita. bahawa sesungguhnya kita akan mengunjungi Baitullah dan tawaf di situ?" Katanya: "Ya! Adakah beliau mengkhabarkan kepada engkau bahawa engkau akan mengunjungi tahun ini?" Kata saya: "Tidak !" Katanya: "Sesungguhnya engkau akan mengunjunginya lain tahun. Kata Rawi: Setelah selesai membuat surat perjanjian, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabat :"Berdirilah (siaplah Dan sembelihlah korbanmu, kemudian ,bercukurlah" Kata Rawi: Demi Allah! Tiada seorang pun di antara mereka yang berdiri, sehingga beliau ulang ucapan yang demikian sampai tiga kali. Tatkala tidak ada seorangpun di antara mereka yang berdiri, beliau lalu masuk ke tempat Ummu Salamah, lantas beliau khabarkan kepadanya apa yang ditemuinya (dialaminya)dari orang banyak. Kata Ummu Salamah: "Hai Nabi Allah! Adakah tuan menghendaki yang demikian? Keluarlah tuan. kemudian janganlah tuan berkata sepatah juapun terhadap seseorang di antara mereka melainkan tuan sendiri lebih dahulu menyembelih korban tuan, dan tuan panggil tukang cukur untuk mencukur rambut tuan". Beliau lalu ke luar dan tiada berkata sepatah pun terhadap seseorang di antara mereka, sehingga beliau melakukan yang demikian itu. Beliau sembelih korban beliau dan beliau panggil tukang cukur, lalu dicukurnya rambut beliau. Setelah mereka melihat yang demikian itu, mereka pun berdiri lalu menyembelih korbannya dan sebahagian mereka mencukur yang lain, sehingga hampir-hampir sebahagian mereka membunuh kawannya, kerana cemas (takut terlambat) menurut perintah. Setelah itu, perempuan-perempuan yang beriman datang menghadap Rasulullah. Tuhan yang Maha Tinggi menurunkan ayat. yang ertinya: "Hai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan yang beriman datang kepada kamu berpindah (meninggalkan negerinya), hendaklah mereka kamu uji"- sampai dengan - "perempuan yang tiada beriman" (Al Quran surat Al Mumtahanah, 10). Waktu itu Umar menceraikan dua orang isterinya yang telah ada pada waktu syirik (mempersekutukan Tuhan). Kemudian seorang di antaranya dikahwini oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, dan yang seorang lagi oleh Safwan bin Umaiyah. Sesudah itu Nabi s.a.w. kembali ke Madinah. Abu Basil' salah seorang di antara orang Quraisy datang kepada beliau, dia beragama Islam. Lalu kaum Quraisy menyuruh dua orang laki-laki untuk mencarinya. Kata perutusan itu kepada Nabi: "Penuhilah janji yang telah dibuat antara tuan dan kami!" Beliau lalu menyerahkan Abu Basir kepada dua orang laki-laki tadi. Keduanya lalu berangkat bersama-sama dengan dia sehingga sampai di Zulhulaifah. Lalu mereka berhenti dan makan kurma. Kata Abu Basir kepada salah seorang yang berdua tadi: "Demi Allah, .sesungguhnya saya lihat pedang engkau ini amat bagus!" Laki-laki itu lalu menghunuskannya, katanya: "Ya, demi Allah, sesungguhnya amat bagus, telah banyak kali saya cuba". Kata Abu Basil': "Perlihatkanlah kepada saya supaya dapat saya perhatikan!" Lalu diberikannya. Abu Basil' lalu menetaknya dengan pedang itu sehingga ia mati. Yang seorang lagi terus lari ke Madinah, dan sampai di Madinah ia berlari masuk masjid. Ketika Rasulullah s.a.w. melihatnya, beliau bersabda: Sesungguhnya orang ini ketakutan". Setelah ia sampai menghadap Nabi s.a.w. ia berkata: "Demi Allah, ia telah membunuh kawan saya dan saya akan dibunuhnya pula". Dalam pada itu Abu Basil' datang lalu berkata: "Hai Nabi Allah! Demi- Allah! Tuhan telah menyempurnakan janji tuan! Sesungguhnya tuan telah mengembalikan saya kepada mereka. kemudian Tuhan melepaskan saya dari mereka". Nabi s.a.w. bersabda: "Wahai celaka! Sumber api peperangan! Kalau begitu. perlu seorang pembantu". Tatkala didengarnya yang demikian itu, mengertilah ia bahawa sesungguhnya beliau akan mengembalikannya kepada mereka. Lalu ia keluar sehingga sampai di pantai laut. Kata Rawi: Abu Jandal bin Suhail menghilang, lalu berhubungan dengan Abu Basir. Dan seterusnya di antara orang Quraisy yang telah Islam keluar (pergi) dari Mekah terus berhubung dengan Abu Basir sehingga mereka berkumpul menjadi satu golongan. Kalau mereka mendengar khabar keberangkatan rombongan kafilah orang Quraisy pergi ke Syam (Syria), mereka merampas, membunuh dan mengambil harta mereka. Maka dikirimlah utusan oleh orang Quraisy menghadap Nabi s.a.w. bermohon kerana Allah dan kerana pertalian keluarga, membawa pesan. bahawa siapa yang datang kepada Nabi. bahawa dia dinyatakan aman (tidak dikembalikan ke Mekah). Nabi s.a.w. mengutus orang memanggil mereka. Lalu Tuhan Yang Maha Tinggi menurunkan ayat yang ertinya: "Dialah yang telah mencegah tangan mereka terhadap kamu, dan tangan kamu terhadap mereka di tengah kota Mekah. Sesudah dia memenangkan kamu di atas mereka sampai dengan kesombongan itu ialah kesombongan (kebencian) masa jahiliyah". (Surat Al Fath, 24 - 26). Kesombongan jahiliyah itu ialah kesombongan mereka yang menyebabkan tiada mahu mengakui Muhammad Rasul Allah dan tidak mahu mengakui Tuhan yang Pemurah lagi Penyayang serta menghalangi orang Islam mengunjungi Baitullah (Kaabah).
3  
Hadis Sahih Muslim Jilid 1. Hadis Nombor 0005.
Dari Anas bin Malik r.a., katanya: "Kami dilarang Rasulullah saw. bertanya sesuatu kepadanya. Kerana itu kami mengharapkan kedatangan orang dusun yang cerdas yang hendak bertanya kepada beliau, sehingga kami dapat mendengarkannya. Lantas, pada suatu ketika datang seorang lelaki penduduk dusun. Dia berujar, "Ya, Muhammad telah datang kepada kami utusan Anda. Dia mengatakan kepada kami, bahawa Anda utusan Allah." Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Tanya orang itu, "Siapa yang menjadikan langit?" Jawab Nabi saw.,"Allah!" Dia bertanya pula, "Siapa yang menjadikan bumi?" Jawab Nabi saw., "Allah!" Tanyanya lagi, "Siapakah yang memasakkan gunung-gunung ini, dan yang menjadikan segala isinya?" Jawab Nabi saw., "Allah!" Ujar orang itu, "Demi Yang menjadikan langit dan bumi, dan Yang memasakkan gunung-gunung ini, sungguhkah Allah yang mengutus Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Kata orang itu pula, "Utusan Anda mengatakan, kami wajib solat lima kali sehari semalam." Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Ujar orang itu, "Demi Yang telah mengutus Anda, sungguhkah Allah yang memerintahkan kepada Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Kata orang itu pula, "Utusan Anda mengatakan, bahawa kami wajib membayar Zakat harta kami." Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Kata orang itu, "Demi Yang telah mengutus Anda, sungguhkah Allah yang memerintahkan kepada Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar!" Ujar orang itu pula, "Utusan Anda mengatakan, bahawa kami wajib puasa sebulan Ramadhan setiap tahun." Jawab Nabi saw. "Ya, benar!" Kata orang itu, "Demi Yang mengutus Anda, sungguhkah Allah yang memerintahkannya kepada Anda?" Jawab Nabi saw., "Ya, benar" Kata orang itu pula, "Utusan Anda juga mengatakan, bahawa kami wajib Haji ke Baitullah, apabila kami sanggup melaksanakannya." Jawab Nabi saw., "Ya,benar!" Kata Anas, "Sesudah itu, orang itu pun berlalu sambil berujar: Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, aku tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi semuanya." Maka bersabda Nabi saw., "Jika apa yang dikatakannya itu benar-benar ditepatinya, nescaya dia masuk syurga."
4  
Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis Nombor 0005.
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahawa Abu Sufyan bin Harb bercerita kepadanya, bahawa Heraelius berkirim surat kepada Abu Sufyan menyuruh ia datang ke Syam bersama khalifah saudagar Quraisy. Waktu itu Rasulullah saw. sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan dengan orang-orang kafir Quraisy. Mereka datang menghadap Heraelius di Ilia terus masuk ke dalam majlisnya, dihadapi oleh pembesar-pembesar Rumawi. Kemudian Heraelius memanggil orang-orang Quraisy itu beserta Jurubahasanya. Heraelius berkata, Siapa di antara Anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku dirinya Nabi itu?" Jawab Abu Sufyan. "Saya ! Saya keluarga terdekat dengannya." Berkata Heraelius (kepada jurubahasanya), "Suruh dekat dekatlah dia kepada ku. Dan suruh pula para sahabatnya duduk di belakangnya." Kemudian berkata Heraelius kepada Jurubahasanya, "Katakan kepada mereka bahawa saya akan bertanya kepada orang ini (Abu Sufyan). Jika dia berdusta, suruhlah mereka mengatakan bahawa dia dusta." Pertanyaannya yang pertama, "Bagaimanakah turunannya di kalanganmu?" Aku jawab, "Dia turunan bangsawan di kalangan kami." Heraelius, "Pernahkah orang lain sebelumnya mengumandangkan apa yang telah dikumandangkannya?" Jawab ku, "Tidak pernah." Heraelius, "Adakah di antara nenek moyangnya yang menjadi raja?" Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa?" Jawab ku, "Hanya terdiri dari orang-orang biasa." Heraelius, "Apakah pengikutnya semakin bertambah atau berkurang?" Heraelius, "Adakah di antara mereka yang murtad, kerana mereka benci kepada agama yang dipeluknya itu?" Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Apakah kamu menaruh curiga kepadanya dia berdusta sebelum dia mengumandangkan ucapan yang diucapkannya sekarang? Jawab ku, "Tidak!" Heraelius, "Pernahkah dia melanggar janji?" Jawab ku, "Tidak! Dan sekarang, kami sedang dalam perjanjian damai dengan dia. Kami tidak tahu apa yang akan diperbuatnya dengan perjanjian itu." Kata Abu Sufyan menambahkan, "Tidak dapat aku menambahkan kalimat lain agak sedikit pun selain kalimat itu." Heraelius, "Pernahkah kamu berperang dengannya?" Jawab ku, "Pernah." Heraelius, "Bagaimana peperanganmu itu?" Jawab ku, "Kami kalah dan menang silih berganti. Dikalahkannya kami dan kami kalahkan pula dia." Heraelius, "Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian?" Kata Heraelius kepada jurubahasanya, "Katakan kepadanya (Abu Sufyan), saya tanyakan kepada mu tentang turunannya (Muhammad), kamu jawab dia bangsawan tinggi. Begitulah Rasul-rasul yang terdahulu, diutus dari kalangan bangsawan tinggi kaumnya." Saya tanyakan, "Adakah salah seorang di antara kamu yang pernah mengumandangkan ucapan sebagai yang diucapkannya sekarang?" Jawabmu, "Tidak!" Kalau ada seseorang yang pernah, mengumandangkan ucapan yang diucapkannya sekarang, nescaya aku katakan, "Dia meniru-niru ucapan yang diucapkan orang dahulu itu." Saya tanyakan, "Adakah di antara nenek moyangnya yang jadi raja?" Jawabmu, "Tidak ada!" Kalau ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, nescaya ku katakan, "Dia hendak menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya." Saya tanyakan, "Adakah kamu menaruh curiga kepadanya bahawa ia dusta, sebelum ia mengucapkan apa yang diucapkannya sekarang?" Jawabmu, "Tidak!" Saya yakin, dia tidak akan berdusta, terhadap manusia apa lagi kepada Allah. Saya tanyakan, "Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa?" Jawabmu, "Orang-orang biasa." Memang, mereka jugalah yang menjadi pengikut Rasul-rasul. Saya tanyakan, "Apakah pengikutnya makin bertambah banyak atau semakin kurang?" Jawabmu, "Mereka bertambah banyak." Begitulah halnya iman hingga sempurna. Saya tanyakan, "Adakah di antara mereka yang murtad kerana benci kepada agama yang dipeluknya, setelah mereka masuk ke dalamnya?" Kamu jawab, "Tidak." Begitulah iman, apabila ia telah berdarah daging sampai ke jantung hati. Saya tanyakan, "Adakah ia melanggar janji?" Kamu jawab, "Tidak." Begitu jugalah segala Rasul-rasul yang terdahulu, mereka tidak suka melanggar janji. Saya tanyakan, "Apakah yang disuruhkannya kepada kamu sekalian?" Kamu jawab, "Ia menyuruh menyembah Allah semata-mata, dan melarang mempersekutukanNya. Dilarangnya pula menyembah berhala, disuruhnya menegakkan solat, berlaku jujur dan sopan (teguh hati)." Jika yang kamu terangkan itu betul , semuanya, nescaya dia akan memerintah sampai ke tempat aku berpijak di kedua telapak kaki ku ini. Sesungguhnya aku telah tahu bahawa ia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahawa dia akan lahir di antara kamu sekalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, akan ku cuci kedua telapak kakinya. Kemudian Heraelius meminta surat Rasulullah saw. yang diantarkan oleh Dihyah kepada pembesar negeri Bushra, yang kemudian diteruskannya kepada Heraelius. Lalu dibacanya surat itu, yang isinya sebagai berikut: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Heraelius, Kaisar Rumawi. Kesejahteraan kiranya untuk orang yang mengikut petunjuk. Kemudian, sesungguhnya saya mengajak Anda memenuhi panggilan Islam. Islamlah! Pasti Anda selamat. Dan Allah akan memberi pahala Anda dua kali lipat. Tetapi jika anda enggan, nescaya anda menanggung dosa seluruh rakyat. Hai, Ahli Kitab! Marilah kita dalam satu kalimah prinsip sama antara kita, iaitu supaya tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan janganlah sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain menjadi Tuhan selain daripada Allah. Apabila Anda enggan menuruti ajakan ini, akuilah bahawa kami ini Muslim! Kata Abu Sufyan, "Selesai ia mengucapkan perkataannya dan membaca surat itu, ruangan menjadi heboh dan hiruk pikuk; kami pun disuruh orang keluar. Sampai di luar, aku berkata kepada kawan. "Sungguh menjadi masalah besar urusan Anak Abu Kabsyah. Sehingga raja bangsa kulit kuning itu pun takut kepadanya. Aku yakin, Muhammad pasti menang hingga oleh kerananya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku." Ibnu Nathur, pembesar negeri Ilia, sahabat Heraelius dan Uskup(kepala pendeta) Nasrani di Syam, dia menceritakan, "Ketika Heraelius datang ke Ilia, ternyata fikirannya sedang kacau. Oleh sebab itu banyak di antara para pendeta yang berkata: "Kami sangat hairan melihat sikap Anda." Selanjutnya kata Ibnu Nathur, "Heraelius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang- bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya. Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat Raja Khithan telah lahir. Siapakah di antara umat ini yang telah dikhatan?" Jawab para pendeta itu. "Yang berkhatan hanyalah orang Yahudi. Janganlah Anda risau kerana orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan Anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri itu dibunuh." Ketika itu dihadapkan kepada Heraelius seorang utusan Raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah saw. Setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraelius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhatan atau tidak. Setelah diperiksa, ternyata memang dia berkhatan. Lalu diberitahukan orang kepada Heraelius. Heraelius bertanya kepada orang itu tentang orang-orang Arab lainnya, "Dikhatankah mereka atau tidak?" Jawabnya, "Orang-orang Arab itu dikhatan semuanya." Heraelius berkata, "Inilah raja umat. Sesungguhnya dia telah lahir." Kemudian Heraelius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Rome, yang ilmunya setaraf dengan Heraelius (menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw.). Dan sementara itu ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hims. Tetapi sebelum dia sampai di Hims, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba lebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraelius bahawa Muhammad telah lahir dan beliau memang seorang Nabi. Heraelius mengundang para pembesar Rome supaya datang ke tempatnya di Hims. Setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraelius memerintahkan supaya mengunci setiap pintu. Kemudian dia berkata, "Wahai, bangsa Rome! Mahukah Anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mahu, akuilah Muhammad itu sebagai Nabi!" Mendengar ucapan itu mereka lari bagaikan keldai melihat keadaan demikian, padahal semua pintu telah terkunci. Heraelius jadi putus harapan yang mereka akan iman (percaya kepada Nabi Muhammad saw.). Lalu diperitahkannya supaya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi, hanya sekedar menguji keteguhan hati Anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu. Lalu mereka sujud di hadapan Heraelius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraelius.
5  
Hadis Sahih Muslim Jilid 2. Hadis Nombor 1188.
Dari Ja'far bin Muhammad r.a., dari bapanya, katanya: "Kami datang ke rumah Jabir bin 'Abdullah r.a., lalu dia menanyai kami satu persatu, siapa nama kami masing-masing. Sampai giliranku ku sebutkan nama ku Muhammad bin Ali bin Husein. Lalu dibukanya kancing baju ku yang atas dan yang bawah. Kemudian diletakkannya tapak tangannya antara kedua susu ku. Ketika itu aku masih muda belia. Lalu dia berkata, "Selamat datang wahai anak saudara ku! Tanyakanlah apa yang hendak engkau tanyakan. Lalu aku bertanya kepadanya. Dia telah buta. Ketika waktu solat tiba, dia berdiri di atas sehelai sejadah yang selalu dibawanya. Tiap kali sejadah itu diletakkannya ke bahunya, pinggirnya selalu lekat padanya kerana kecilnya sejadah itu. Aku bertanya kepadanya, "Terangkanlah kepada ku bagaimana caranya Rasulullah saw. melakukan ibadah haji." Lalu dia bicara dengan isyarat tangannya sambil memegang sembilan buah anak jarinya. Katanya, "Sembilan tahun lamanya beliau menetap di Madinah, namun beliau belum haji. Kemudian beliau memberitahukan bahawa tahun kesepuluh beliau akan naik haji. Kerana itu berbondong-bondonglah orang datang ke Madinah, hendak ikut bersama-sama Rasulullah saw. untuk beramal seperti amalan beliau. Lalu kami berangkat bersama-sama dengan beliau. Ketika sampai di Zulhulaifah, Asma' binti 'Umais melahirkan puteranya, Muhammad bin Abu Bakar. Dia menyuruh tanyakan kepada Rasulullah saw. apa yang harus dilakukannya (kerana melahirkan itu). Sabda Rasulullah saw. "Mandi dan pakai kain pembalut mu. Kemudian pakai pakaian ihram mu kembali." Rasulullah saw. solat dua rakaat di masjid Zulhulaifah, kemudian beliau naiki untanya yang bernama Qashwa. Setelah sampai di Baida', ku lihat sekeliling ku, alangkah banyaknya orang yang mengiringkan beliau, yang berkenderaan dan yang berjalan kaki, di kanan kiri dan di belakang beliau. Ketika itu turun Al-Quran (wahyu), di mana Rasulullah saw. mengerti maksudnya, iaitu sebagai petunjuk amal yang harus kami amalkan. Lalu beliau teriakkan bacaan talbiyah: "Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika; innal hamda wan ni'mata laka, wal mulka la syarika laka labbaika." Maka talbiyah pula orang ramai seperti talbiyah Nabi saw. itu. Rasulullah saw. tidak melarang mereka membacanya, bahkan sentiasa membacanya terus menerus. Niat kami hanya untuk mengerjakan haji, dan kami belum mengenal 'umrah. Setelah sampai di Bait Allah, beliau cium salah satu sudutnya (hajar aswad), kemudian beliau tawaf, lari-lari kecil tiga kali dan berjalan biasa empat kali. Kemudian beliau terus menuju ke maqam Ibrahim 'alaihis salam. Lalu beliau baca ayat: "Jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat solat.." (Al Baqarah:125). Lalu ditempatkannya maqam itu di antaranya dengan Bait. Sementara itu ayah ku berkata bahawa Nabi saw. membaca dalam solatnya "Qul huwallahu ahad..." (Al Ikhlas: 1-4) dan "Qul ya ayyuhal kafirun " (Al Kafirun: 1-6). Kemudian beliau kembali ke sudut Bait (hajar aswad) lalu di ciumnya pula. Kemudian melalui pintu beliau pergi ke Safa. Setelah dekat ke bukit Safa beliau membaca ayat: "Sesungguhnya saai antara Safa dan Marwah termasuk lambang-lambang kebesaran agama Allah." (Al Baqarah: 158). Kemudian mulailah dia melaksanakan perintah Allah. Maka dinaikinya bukit Safa. Setelah kelihatan Baitullah, lalu dia menghadap ke kiblat seraya mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya. Ujarnya : "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syaiin qadir. La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa'dahu wa nashara 'abdahu wa hazamal ahzaba wahdahu." Kemudian beliau mendoa. Ucapan tahlil itu diulangnya sampai tiga kali. Kemudian beliau turun ke Marwah. Ketika sampai di lembah, beliau berlari-lari kecil. Dan sesudah itu beliau menuju bukit Marwah, sambil berjalan kembali. Setelah sampai di puncak bukit Marwah, beliau perbuat apa yang diperbuatnya di bukit Safa. Tatkala beliau mengakhiri saainya di bukit Marwah, beliau berujar: "Kalau aku belum lakukan apa yang telah ku perbuat, nescaya aku tidak membawa hadiah,dan menjadikannya umrah." Lalu bertanya Suraqah bin Malik bin Ju'syum, katanya: "Ya, Rasulullah! Apakah untuk tahun ini saja ataukah untuk selama-lamanya?" Rasulullah saw. memperpancakan jari-jari tangannya yang satu ke jari-jari tangannya yang lain seraya berkata: Memasukkan 'umrah ke dalam haji? (2x) Tidak! Bahkan untuk selama-lamanya." Sementara itu 'Ali datang dari Yaman membawa haiwan korban Nabi saw. didapatinya Fatimah termasuk orang yang tahallul; dia mengenakan pakaian bercelup dan bercelak mata. Ali melarangnya berbuat demikian. Jawab Fatimah, "Ayahku sendiri yang menyuruh ku berbuat begini." Kata 'Ali, "Aku pergi menemui Rasulullah saw. minta fatwa beliau terhadap perbuatan Fatimah itu. Ku jelaskan kepada beliau bahawa aku mencegahnya berbuat demikian." Sabda beliau, "Fatimah benar! Fatimah benar!" Kemudian tanya beliau, "Apa yang engkau baca ketika hendak melakukan haji?" Jawab 'Ali, aku membaca "Wahai Allah! Aku niat menunaikan ibadah haji seperti yang dicontohkan Rasul Engkau." Tanya 'Ali, "Tetapi aku membawa haiwan korban, bagaimana itu?" Jawab beliau, "Engkau jangan tahallul." Kata Ja'far, "Jumlah hadiah yang dibawa Ali dari yaman dan yang dibawa Nabi saw., ada seratus ekor. Para jemaah telah tahallul dan bercukur semuanya, melainkan Nabi saw. dan orang-orang yang membawa hadiah beserta beliau. Ketika hari Tarwiyah (8 Zulhijah) tiba, mereka berangkat menuju Mina untuk melakukan ibadah haji. Rasulullah saw. menunggang kenderaannya. Di sana beliau solat Zohor, Asar, Maghrib, Isyak, dan Subuh. Kemudian beliau menanti sebentar hingga terbit matahari; sementara itu beliau menyuruh orang lebih dahulu ke Namirah untuk mendirikan khemah di sana. Sedangkan orang Quraisy mengira bahawa beliau tentu akan berhenti di Masy'aril Haram (sebuah bukit di Muzdalifah). sebagaimana biasanya orang-orang jahiliyah. Tapi ternyata beliau terus saja menuju 'Arafah. Sampai ke Namirah didapatinya khemah-khemah telah didirikan orang. Lalu beliau berhenti untuk istirehat di situ. Ketika matahari telah condong, beliau menaiki untanya meneruskan perjalanan. Sampai di tengah-tengah lembah beliau berpidato. Sabdanya: "Sesungguhnya menumpahkan darah dan merampas harta sesama mu haram, sebagaimana haramnya berperang pada hari ini, Pada bulan ini, dan di negeri ini. Ketahuilah! Semua yang berbau jahiliyah telah dihapuskan di bawah undang-undang ku, termasuk tebusan darah masa jahiliyah. Tebusan darah yang pertama-tama ku hapuskan ialah tebusan darah Ibnu Rabi'ah bin Harits yang disusukan oleh Bani Sa'ad, lalu ia dibunuh oleh Huzail. Begitu pula telah ku hapuskan riba jahiliyah; yang mula-mula ku hapuskan ialah riba yang ditetapkan 'Abbas bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya riba itu ku hapuskan semuanya. Kemudian jagalah diri mu terhadap wanita. Kamu boleh mengambil mereka sebagai amanah Allah dan mereka halal bagi mu dengan mematuhi peraturan-peraturan Allah. Setelah itu kamu punya hak atas mereka, iaitu supaya mereka tidak membolehkan orang lain menduduki tikar mu. Jika mereka melanggar, pukullah mereka dengan cara yang tidak membahayakan. Sebaliknya mereka punya hak terhadap mu. Iaitu nafkah dan pakaian yang patut. Ku wariskan kepada mu sekalian suatu undang-undang yang jika kamu pegang teguh, kamu tidak akan tersesat sepeninggal ku, iaitu Kitabullah! Kamu semua akan ditanya mengenai diri ku. Apakah akan jawab mu?" Jawab mereka, "Kami menjadi saksi bahawa engkau telah menyampaikan risalah ini kepada kami, telah menunaikan tugas mu dan telah memberi nasihat kepada kami." Lalu beliau bersabda sambil mengangkat telunjuknya ke langit, dan menunjuk kepada orang ramai. "Wahai Allah! Saksikanlah!" (3x). Sesudah itu beliau azan, kemudian qamat lalu solat Zohor, kemudian qamat lagi, lalu solat Asar tanpa solat sunat antara keduanya. Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan menuju ke tempat wukuf. Sampai di sana, dihentikannya unta Qashwa di tempat berbatu-batu dan orang-orang yang berjalan kaki berada di hadapannya. Beliau menghadap ke kiblat dan sentiasa wukuf sampai matahari terbenam dan mega merah hilang. Kemudian beliau teruskan pula perjalanan dengan membonceng Usamah di belakangnya, sedang beliau sendiri memegang kendali. Beliau tarik tali kekang unta Qashwa, sehingga kepalanya hampir menyentuh bantal palana. Beliau bersabda dengan isyarat tangannya, "Hai, orang ramai! Tenang! Tenang!" Tiap-tiap beliau sampai ke pinggang bukit dikendurkannya tali unta sedikit untuk memudahkannya mendaki. Sampai di Muzdalifah beliau solat Maghrib dan Isyak dengan satu kali azan dan dua qamat, tanpa solat sunat antara keduanya. Kemudian beliau tidur hingga terbit fajar. Setelah tiba waktu Subuh, beliau solat Subuh dengan satu azan dan satu qamat. Kemudian beliau tunggangi pula Qashwa meneruskan perjalanan sampai ke Masy'aril Haram. Sampai di sana beliau menghadap ke kiblat, mendoa, takbir, tahlil dan membaca kalimah tauhid. Beliau wukuf di sana hingga langit kekuning-kuningan dan berangkat sebelum matahari terbit sambil membonceng Fadhal Ibnu 'Abbas. Fadhal seorang lelaki berambut indah dan berwajah putih. Ketika beliau berangkat, berangkat pulalah orang-orang besertanya. Fadhal menengok kepada mereka, lalu mukanya ditutup Rasulullah dengan tangannya. Tetapi Fadhal menoleh ke arah lain untuk melihat. Rasulullah saw. menutup pula mukanya dengan tangan yang lain, sehingga Fadhal mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Sampai di tengah lembah Muhassir, dipercepatnya untanya melalui jalan tengah yang langsung menembus ke Jumratul Kubra. Sampai di Jumrah yang dekat dengan sebatang pohon, beliau melempar dengan tujuh buah batu kerikil sambil membaca takbir pada setiap lemparan. Kemudian beliau terus ke tempat penyembelihan korban. Di sana beliau menyembelih enam puluh tiga haiwan korban dengan tangannya dan sisanya diserahkannya kepada 'Ali untuk menyembelihnya, iaitu sebagai haiwan korban bersama-sama dengan anggota jemaah yang lain. Kemudian beliau suruh ambil dari setiap haiwan korban itu sepotong kecil, lalu disuruhnya masak dan kemudian beliau makan dagingnya serta beliau minum kuahnya. Sesudah itu beliau naiki kenderaan beliau menuju ke Baitullah untuk tawaf. Beliau solat Zohor di Mekah. Sesudah itu beliau datangi Bani 'Abdul Muththalib yang sedang menimba sumur Zamzam. Beliau bersabda kepada mereka, "Hai Bani Abdul Muththalib! Berilah kami minum! Kalaulah orang ramai tidak akan salah tanggap, tentu akan ku tolong kamu menimba bersama-sama. Lalu mereka timbakan seember, dan beliau minum daripadanya."
6  
Hadis Sahih Muslim Jilid 4. Hadis Nombor 2377.
Dari 'Aisyah r.a., isteri Nabi saw. katanya: "Biasanya apabila Rasulullah saw. hendak melakukan suatu perjalanan jauh, beliau mengadakan undian di antara para isteri beliau. Siapa yang menang undiannya dialah yang berhak ikut mendampingi Rasulullah saw. dalam perjalanan itu. Pada suatu ketika Rasulullah saw. mengundi kami untuk ikut mendampingi beliau dalam suatu peperangan yang dipimpin beliau sendiri. Aku beruntung, kerana undian ku lah yang keluar sebagai pemenang. Kerana itu akulah yang berhak pergi bersama beliau. Peristiwa ini terjadi sesudah turunnya Ayat Hijab (lihat surat Ahzab, 33:53-59). Lalu aku dinaikkan ke dalam sebuah sekedup dan diturunkan dalam setiap perhentian (tanpa aku keluar tetapi sekedupnya yang diturun naikkan). Setelah selesai perang, Rasulullah saw. serta rombongan pulang kembali ke Madinah (membawa kemenangan). Hampir sampai ke Madinah, beliau memberi izin seluruh pasukan istirehat malam. Ketika istirehat itu, aku keluar dari sekedup dan berjalan menjauhi pasukan untuk buang hajat. Setelah selesai buang hajat aku segera kembali ke pasukan. Ketika aku menyentuh dada ku terasa kalung ku yang terbuat dari permata zhafar buatan Yaman telah putus. Kerana itu aku kembali mencari kalung ku sehingga aku terlambat kembali ke pasukan. Sedangkan para pengawal yang bertugas menjaga ku selama dalam perjalanan telah mengangkat sekedup ku dan menaikkannya ke punggung unta yang ku kenderai (tanpa memeriksa lebih dahulu apakah aku ada di dalam atau tidak) lalu mereka berangkat. Mereka menyangka bahawa aku berada dalam sekedup. Ketika itu berat badan ku sangat ringan. Sehingga kalaupun aku berada dalam sekedup, para pengawal tidak akan merasa lebih berat bila mereka mengangkat sekedup itu. Dan ketika itu aku masih merupakan wanita muda usia. Mereka terus berjalan menggiring unta ku (tanpa aku). Aku mendapatkan kalung ku kembali setelah pasukan berjalan agak jauh. Ketika aku sampai di tempat peristirahatan, ku dapati di sana telah sepi. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di tempat ku semula. Kerana aku berpendapat, bila rombongan tidak menemukan ku tentu mereka akan kembali mencari ku. Ketika aku duduk menunggu mereka di tempat itu, aku mengantuk dan tertidur. Kebetulan Shafwan bin Mu'aththal As Sulami ketinggalan pula oleh rombongan kerana dia tertidur. Ketika terbangun dia segera menyusul mereka dan lewat di dekat tempat ku menunggu. Ketika dia terlihat sesusuk tubuh sedang tidur, dia menghampiri dan mengenali ku, dia memang sudah pernah melihat ku sebelum ayat hijab turun. Aku terbangun ketika dia dengan terkejut mengucapkan kalimah istirja' (inna lillaahi wa inna ilaihi raji'un) setelah dia mengenali ku. Dan aku segera menutup muka ku dengan jilbab (kain penutup muka). Demi Allah! Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kalimat pun kepada ku selain kalimah istirja' yang menyebabkan aku terbangun. Dia segera menyuruh untanya menunduk, dan aku disilakannya menaiki kenderaan itu. Sedangkan dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai induk pasukan tersusul oleh kami sesudah mereka berhenti berehat dari terik panas tengah hari. Tetapi sungguh celakalah orang yang sengaja membuat fitnah terhadap diri ku mengenai peristiwa itu, yang diikhtiarkan oleh pemimpin mereka 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Setelah kami sampai di Madinah aku jatuh sakit sebulan lamanya. Sementara itu dalam masyarakat telah meluas khabar bohong mengenai diri ku. Sedangkan aku tidak tahu berita itu telah meluas sedemikian rupa kerana aku sedang sakit. Tetapi ada suatu hal yang membimbangkan ku, ialah sikap Rasulullah saw. yang tidak memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya kalau aku sedang sakit. Beliau pernah datang menengok ku sekali, setelah memberi salam beliau bertanya, "Bagaimana keadaan mu?" Itulah yang membimbangkan ku. Aku tidak mengetahui sama sekali heboh mengenai diri ku, sampai pada suatu hari setelah aku agak sembuh, aku pergi bersama Ummu Misthah ke lapangan di pinggir kota untuk buang hajat. Kerana memang di sanalah tempat kami buang hajat. Dan kami tidak pergi ke sana kecuali hanya pada malam hari saja. Yang demikian itu ialah sebelum kami membuat tempat tertutup di sekitar rumah kami. Memang sudah menjadi kebiasaan orang Arab pada masa dahulu, kalau buang hajat pergi ke lapangan di pinggir kota. Kerana mereka merasa jijik membuat tempat tertutup di sekitar rumah mereka. Ummu Misthah (nama aslinya Salma), ialah anak perempuan Abu Ruhma bin Muththalib bin Abdu Manaf. Sedangkan ibunya ialah anak perempuan Shakhar bin Amir bibi Abu Bakar Siddiq. Anak lelakinya ialah Misthah Ibnu Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Ketika kami pulang setelah selesai buang hajat, Ummu Misthah tersandung sandalnya lalu dia menyumpah: "Celaka si Misthah." katanya. Maka ku tegur dia, "Tidak baik berkata begitu. Bukanlah engkau memaki orang yang ikut dalam peperangan Badar?" Jawab Ummu Misthah, "Alangkah bodohnya engkau! Apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakannya?" Tanya ku, "Apa yang dikatakannya?" Dia menghabarkan kepada ku omongan tukang-tukang fitnah (yang memburuk-burukkan diri mu)." Semenjak aku mendengar berita Ummu Misthah itu, sakit ku semakin menjadi-jadi. Ketika Rasulullah saw. datang ke rumah ku, beliau memberi salam, lalu dia bertanya, "Bagaimana keadaan sakit mu?" Lalu aku bertanya kepada beliau, "Sudikah Tuan mengizinkan aku pulang ke rumah orang tua ku?" Kata 'Aisyah, "Sebenarnya aku ingin hendak menanyakan kepada orang tua ku kebenaran berita yang disampaikan Ummu Misthah kepada ku." Ternyata Rasulullah saw. mengizinkan ku, lalu aku pulang ke rumah orang tua ku dah bertanya kepada ibu ku, "Wahai ibu! Benarkah ada berita buruk yang dipercakapkan orang mengenai diri ku?" Jawab ibu, "Wahai anak ku sayang! Jangan engkau hiraukan. Demi Allah, jarang sekali wanita cantik yang disayangi suaminya, padahal dia mempunyai banyak madu yang tidak diomongi orang." "Subhanallah!" kata ku. "Kalau begitu, memang benarlah kiranya orang banyak mempercakapkan ku." Malam itu aku menangis semalam-malaman sampai Subuh. Air mata ku mengalir tak dapat ditahan dan aku tak dapat tidur kerananya. Sementara itu Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk bermusyawarah dengan mereka - kerana waktu itu wahyu terhenti - Beliau bermusyawarah dengan keduanya apakah beliau harus menceraikan ku atau tidak. Usamah bin Zaid menyatakan pendapatnya, bahawa dia tahu benar para isteri Rasulullah saw. semuanya suci (setia) dan dia tahu benar mereka semuanya mencintai Rasulullah saw. Katanya, "Mereka adalah para isteri Anda. Aku yakin benar bahawa semuanya adalah para isteri yang setia." Adapun 'Ali bin Thalib berkata, "Allah Ta'ala tidak akan mempersulit Anda. Masih banyak wanita selain dia ('Aisyah). Tika Anda menghendaki seorang gadis, tidak seorang pun yang akan menolak Anda." Kemudian beliau panggil pula Barirah (pembantu rumah tangga 'Aisyah), lalu beliau bertanya, "Hai Barirah! Adakah engkau melihat sesuatu yang mencurigakan mengenai diri 'Aisyah?" Jawab Barirah, "Demi Allah yang mengutus Anda dengan agama yang benar. Sungguh, aku tidak melihat sedikit pun yang mencemarkan dirinya, selain hanya dia itu seorang wanita muda yang manja, yang pergi tidur meninggalkan adonan kuih, lalu datang haiwan peliharaan (kucing atau kambing) memakan adonan itu." Kemudian Rasulullah saw. berpidato di mimbar, menyatakan keberatannya atas tuduhan yang diprarasai Abdullah bin Ubay bin Salul." Sabda beliau di mimbar, "Hai kaum muslimin! Siapakah di antara tuan-tuan yang setuju dengan penolakan ku atas tuduhan yang telah mencemarkan nama baik keluarga ku? Demi Allah, aku yakin keluarga ku bersih dari tuduhan kotor yang tidak benar itu. Mereka juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki (Shafwan bin Mu'aththai As Sulami) yang aku yakin bahawa dia itu orang baik. Dia tidak pernah masuk ke rumah ku kecuali bersama ku." Maka berdirilah Sa'ad bin Mu'adz Al Anshari, lalu dia berkata, "Aku membela Anda dalam masalah ini, ya Rasulullah! Jika tuduhan itu datang dari suku Aus, kami penggal lehernya. Dan jika datangnya dari saudara-saudara kami suku Khazraj, kami menunggu perintah Anda. Apa yang Anda perintahkan segera kami laksanakan." Maka berdiri pula Sa'ad bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj dan seorang yang soleh tetapi diperdayakan oleh rasa kesukuan. Lalu dia berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz, "Engkau bohong! Demi Allah, engkau tidak boleh membunuhnya dan memang engkau tidak sanggup melakukannya." Maka bangun pula Usaid bin Hudhair, anak pakcik Sa'ad bin Mu'adz. Katanya kepada Sa'ad bin Ubadah, "Engkaulah yang bohong! Demi Allah! Bila saja dan di mana saja kami sanggup membunuhnya! Engkau munafik, kerana engkau membela orang-orang munafik!" Pertengkaran antara suku Aus dan Khazraj itu menjadi hangat, sehingga hampir terjadi perkelahian antara mereka. Tetapi Rasulullah saw. yang masih berdiri di mimbar dapat menenangkan mereka sehingga mereka diam. Kata Aisyah selanjutnya, "Sehari-harian kerja ku hanya menangis dan menangis siang malam. Sehingga kedua orang tua ku cemas, kalau-kalau jantung ku pecah kerana menangis. Selama aku menangis, kedua orang tua ku selalu berada di samping ku. Tiba-tiba seorang perempuan Ansar minta izin hendak bertemu dengan ku, lalu ku izinkan dia masuk. Setelah dia masuk, dia pun menangisi ku (menambah kesedihan ku). Sementara itu Rasulullah saw. pun datang. Beliau memberi salam, lalu duduk di samping ku. Sejak berita bohong itu tersiar, beliau tidak pernah duduk di samping ku. Dan sudah sebulan wahyu tidak turun kepada beliau. Iaitu semenjak peristiwa ku ini. Ketika beliau duduk di samping ku, mula-mula beliau membaca tasyahhud. Kemudian beliau bersabda: "Hai 'Aisyah! Telah sampai kepada ku berita mengenai diri mu begini dan begitu. Jika engkau bersih dari tuduhan itu maka Allah Ta'ala akan membebaskanmu. Jika engkau memang berdosa, Minta ampunlah kepada Allah Ta'ala dan taubatlah kepadaNya. Kerana apabila seorang hamba sadar bahawa dia telah berdosa, kemudian dia taubat, nescaya Allah menerima taubatnya." Setelah ucapan beliau itu selesai diucapkannya, air mata ku mengambang dan tak tertahankan oleh ku dia jatuh berderai. Aku berkata kepada bapa ku. "Pak, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah." Jawab bapa ku, "Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus ku ucapkan kepada Rasulullah." Kemudian ku minta ibu ku, "Ibu, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah sebentar ini." Jawab ibu ku, "Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan kepada Rasulullah." Maka terpaksalah aku sendiri yang harus menjawabnya. Kata ku, "Aku ini adalah seorang wanita muda usia yang belum banyak mengetahui isi Al Quran. Demi Allah! Sekarang aku telah tahu bahawa Anda telah mendengar berita mengenai tuduhan terhadap diri ku, sehingga tuduhan itu tertanam dalam diri Anda dan nampaknya Anda seperti membenarkan berita itu. Walaupun aku mengatakan kepada Anda aku bersih dari tuduhan itu - demi Allah, hanya Allah sajalah yang maha tahu bahawa aku memang bersih Anda tentu tidak akan mempercayai ku juga. Dan seandainya aku mengatakan bahawa aku telah bersalah dan berbuat dosa, - demi Allah, Dia jugalah yang Maha Tahu bahawa aku bersih lentil Anda akan mempercayainya. Demi Allah! Aku tidak memperoleh sebuah contoh pun yang paling tepat mengenai peristiwa ini, selain ucapan yang diucapkan Nabi Ya'qub, bapa Nabi Yusuf, katanya : Sabar jualah yang paling indah, dan hanya Allah sajalah tempat minta tolong atas segala tuduhan yang dituduhkan mereka." Kemudian aku berpaling dan berbaring di tempat tidur ku. Kata 'Aisyah selanjutnya, "Demi Allah! Aku benar-benar bersih dari tuduhan itu, dan aku yakin bahawa Allah Ta'ala akan membersihkan nama baik ku dari tuduhan itu. Namun sejauh itu demi Allah, aku tidak menduga sama sekali bahawa Allah akan menurunkan wahyu dalam kaitannya dengan kes yang sedang ku hadapi ini. Sehingga akhirnya wahyu itu selalu kita baca. Kerana kes itu sangat cemar terasa oleh ku dibanding dengan keagungan firman Allah Ta'ala yang selalu kita baca. Tetapi aku berharap semoga Rasulullah saw. dapat melihat dalam mimpi beliau, di mana Allah Ta'ala memperlihatkan kepada beliau bahawa aku sungguh-sungguh bersih. Maka demi Allah, belum lagi Rasulullah saw. meninggalkan tempat duduknya, dan belum seorang jua pun yang keluar dari rumah kami, Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabinya. Terlihat Nabi saw. seperti orang yang keberatan memikul beban berat, sebagai biasanya bila wahyu sedang diturunkan kepada beliau, sehingga beliau bersimbah peluh. Ketika Wahyu telah selesai turun, Rasulullah saw. tertawa. Kalimat yang mula-mula diucapkannya ialah: "Gembiralah, wahai 'Aisyah! Allah Ta'ala telah mengatakan bahawa engkau sungguh-sungguh bersih dari tuduhan itu." Lalu berkata ibu ku kepada ku, "Bangunlah engkau, nak! Mintalah maaf kepada beliau!" Jawab ku, "Demi Allah! Aku tidak perlu minta maaf kepada beliau. Aku hanya wajib memuji Allah, kerana Dialah yang menurunkan wahyu yang menyatakan bahawa aku memang bersih dari tuduhan kotor itu. Wahyu itu tersebut turun dalam Al Quran, surat An Nur sebanyak sepuluh ayat: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong ini adalah dari golongan kamu juga (lihat An Nur, 24 : 11 20). Kata 'Aisyah selanjutnya, "Selama ini Misthah dibelanjai oleh (bapa ku) Abu 'Bakar Siddiq sebagai keluarga dekat bapa. Semenjak kes itu terjadi, bapa ku bersumpah akan menghentikan bantuannya kepada Misthah untuk selama-lamanya. Maka turun pula wahyu yang melarang penghentian bantuan itu: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahawa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya....sampai dengan...Apakah kamu tidak ingin bahawa Allah mengampuni mu?" (An Nur, 24:22). Berkata Hibhan bin Musa, kata Abdullah bin Muharak. "Inilah ayat yang istimewa di dalam kitab Allah." Maka berkata Abu Bakar, "Demi Allah! Aku lebih suka mendapat ampunan Allah Ta'ala." Maka nafkah untuk Misthah diteruskannya kembali. Dan aku tidak pernah menghentikan nafkah untuk Misthah sepeninggal beliau."
7  
Hadis Sahih Bukhari Jilid 3. Hadis Nombor 1475.
Dari Ibnu Abbas r.a., katanya: Mula-mula perempuan yang mengambil (memakai) ikat pinggang, ialah ibu Nabi Ismail, diambilnya ikat pinggang supaya hilang jejaknya oleh Sarah. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. membawa Ibu Ismail dan anaknya yang masih menyusu, lalu di tempatkannya dekat perumahan Bait (Kaabah), di bawah pohon Dauhah di tepi bakal sumur Zamzam, di perumahan masjid. Waktu itu tidak ada seorang pun yang tinggal di Mekah dan di situ air pun tidak ada. Nabi Ibrahim lalu menempatkan keduanya di sana dan diletakkannya di sisi keduanya sebuah tempat makanan yang berisi kurma dan sebuah tempat minum yang berisi air. Kemudian Nabi Ibrahim berangkat. Ibu Ismail lalu mengikutinya sambil berkata: "Hai Ibrahim! Tuan hendak kemana? Sampai hatikah tuan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak pula ada sesuatunya di sini". Diucapkannya perkataan itu berulang-ulang. Nabi Ibrahim tiada menoleh. Kata ibu Ismail kepadanya: "Tuhankah yang menyuruh tuan berbuat begini?" Jawab Ibrahim: "Ya!" Katanya: "Jika begitu, Tuhan tiada akan mensia-siakan kami'. Kemudian ibu Ismail kembali dan Ibrahim pun terus berjalan. Ketika ia berada di Saniah, di tempat yang kira-kira tidak kelihatan oleh ibu Ismail, Ibrahim menghadap ke arah Bait, kemudian ia berdoa dengan beberapa kalimat, sambil mengangkat kedua tangannya. Doanya: "Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya aku menempatkan sebahagian dari turunanku di lembah yang tiada mempunyai tanam-tanaman, di dekat Rumah Suci Engkau. Wahai Tuhan kami! Supaya mereka tetap mengerjakan solat. Sebab itu, jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, dan belilah buah-buahan, menjadi rezeki mereka, mudah-mudahan mereka berterima kasih!" Kemudian ibu Ismail menyusukan anaknya dan meminum air yang disediakan itu. Ketika air yang dalam tempat air itu habis, ia dan anaknya merasa haus. Ketika ia memandang anaknya membalik-balik, ia pun pergi kerana tak sampai hati melihat anaknya. Maka dilihatnya bukit Safa paling dekat kepadanya. Lalu ia berdiri ke sana dan menghadap ke lembah, kalau-kalau ada orang. Tetapi ia tidak melihat seorang juapun. Ia turun dari Safa. Ketika ia di lembah, diangkatnya tepi bajunya, kemudian ia berjalan cepat-cepat seperti perjalanan orang kecemasan, sampai ia melalui lembah. Kemudian ia tiba di Marwah, lalu ia berdiri di situ dan melihat kalau-kalau ada orang. Tetapi ia tiada melihat seorang jua pun. Dilakukannya yang demikian sampai tujuh kali. Ibnu Abbas berkata: Nabi s.a.w. bersabda: "Kerana itulah , orang haji mengerjakan Saai di antara Safa dan Marwah". Ketika Ibu Ismail berada di Marwah, ia mendengar suara, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: "Dengarlah!" Kemudian ia berhati-hati mendengarkannya, maka didengarnya pula suara itu. Ia berkata: "Sesungguhnya engkau telah memperdengarkan suara, adalah kiranya pertolongan dari sisi engkau". Tiba-tiba di situ ada malaikat dekat tempat Zamzam lalu ia menggali dengan tumitnya atau dengan sayapnya sehingga keluarlah air. Ibu Ismail lalu membendungnya dengan tangannya begini: Ia menyauk air itu untuk mengisi tempat airnya, dan air itu pun terus menyembur sesudah disauk. Ibnu Abbas berkata: Nabi s.a.w. bersabda: "Mudah-mudahan Tuhan mengasihi ibu Ismail! Jika dibiarkannya Zamzam, atau tidak disauknya air itu, sesungguhnya akan menjadi mata air yang mengalir." Sabda beliau: "Ibu Ismail lalu minum dan menyusukan anaknya. Malaikat berkata kepadanya: "Janganlah engkau takut akan binasa! Sesungguhnya di sini Baitullah yang bakal dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan sesungguhnya Tuhan tiada akan menyia-nyiakan penduduk tempat ini." Dan tinggi Baitullah itu dari tanah sebagai longgokan tanah, yang dilanda oleh banjir di sebelah kanan dan kirinya. Demikianlah keadaan perempuan itu, sehingga lalulah serombongan dari suku Jurhum yang datang dari jalan Kada', lalu mereka itu berhenti di hilir Mekah. Mereka melihat burung berputar-putar di udara, lalu mereka berkata: "Burung ini berputar di atas air". Sebenarnya kita di lembah ini menemui tempat yang di situ ada air. Mereka lalu mengirim seorang atau dua orang utusan. Tiba-tiba utusan itu menemui air, segera mereka kembali dan terus dikhabarkannya pada mereka (kawannya) bahawa di situ ada air. Lalu mereka berkata: "Adakah engkau mengizinkan kami tinggal di tempatmu?" Jawab perempuan itu: "Ya, tetapi kamu tiada berhak atas air itu!" Kata mereka: "Ya, baiklah!" Ibu Ismail menerimanya dengan baik, kerana dia ingin ada orang lain bersama dia. Mereka lalu tinggal di situ bersama-sama dengan keluarga mereka, sehingga terjadilah beberapa rumah tangga mereka, sedang Ismail telah agak besar (hampir dewasa). Ia mempelajari bahasa Arab dari mereka. Ia amat dikasihi mereka. Ismail amat menarik dan mengagumkan mereka, ketika itu umurnya hampir dewasa. Mereka mengahwinkan Ismail dengan seorang perempuan di antara mereka, dan ibu Ismail pun meninggal. Sesudah Ismail kahwin, datanglah Nabi sesudah Ismail kahwin, datanglah Nabi Ibrahim melihat anak isteri yang ditinggalkannya, tetapi beliau tiada menemui Ismail. Ibrahim lalu bertanya pada isteri Ismail dari hal keadaannya. Kata isteri Ismail: "Ia pergi mencari keperluan kami". Kemudian Ibrahim menanyakan dari hal penghidupan dan keadaan mereka. Kata perempuan itu: "Kami dalam keadaan sengsara, kami dalam kesempitan dan kesusahan". Ia mengadukan halnya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata: "Apabila datang suami engkau, sampaikanlah salam kepadanya dan katakanlah baginya supaya diubahnya bingkai pintunya". Setelah Ismail datang, seolah-olah ia merasakan sesuatu, lalu ia bertanya: "Adakah orang yang datang kepadamu?" Jawabnya: "Ya, ada orang tua datang kepada kami, lalu saya bercerita kepadanya. Ditanyakannya bagaimana penghidupan kita lantas saya ceritakan bahawa sesungguhnya kita dalam kepayahan dan kesusahan". Kata Ismail: "Adakah ia memesankan sesuatu kepada engkau?" Jawabnya: "Ya, disuruhnya saya menyampaikan salam kepada engkau dan dikatakannya: "Ubahlah bingkai pintumu!" Kata Ismail: "Itulah ayahku! Sebenarnya ia menyuruh saya supaya menceraikan engkau. Kembalilah engkau kepada keluarga engkau!" Ismail pun mentalaknya. Kemudian ia kahwin dengan perempuan lain. Setelah beberapa lama Ibrahim datang kembali, tetapi tidak juga menemui Ismail. Ia lalu masuk ke rumah isteri Ismail, dan ditanyakannya dari hal Ismail. Kata perempuan itu: "Ia pergi mencari keperluan kami!" Kata Ibrahim: "Bagaimana keadaanmu?" Ditanyakannya hal penghidupan dan keadaan mereka. Jawabnya: "Kami dalam keadaan baik dan lapang". Dan perempuan itu pun memuji Tuhan. Tanya Ibrahim: "Apakah makananmu?" Jawabnya: "Daging". Tanya beliau: "Apakah minumanmu?" Jawabnya: "Air". Doa Ibrahim:"Wahai Tuhan, berilah kiranya keberkatan untuk mereka mengenai daging dan air!" Nabi s.a.w bersabda: "Ketika itu belum ada di situ tanaman yang berbiji. Sekiranya mereka mempunyai, nescaya Nabi Ibrahim mendoakan keberkatannya. Maka yang dua itu (daging dan air) di negeri lain dari Mekah biar pun ada, tetapi tidak sesuai untuk jadi makanan pokok. Kata Nabi Ibrahim: "Apabila datang suami engkau, sampaikanlah salam kepadanya, dan suruhlah ia supaya menetapkan bingkai pintunya!" Ketika Ismail datang, ia bertanya: "Adakah seorang yang datang kepadamu?" Jawab isterinya: "Ada! Datang kepada kami seorang tua yang baik keadaannya". Dan perempuan itu pun memujinya. "Ia menanyakan tuan pada saya dan menanyakan bagaimana kehidupan kita, lalu saya ceritakan, bahawa sesungguhnya kita dalam keadaan baik". Kata Ismail: "Adakah ia memesankan sesuatu kepada engkau'?" Jawabnya: "Ada! Disuruhnya sampaikan salam kepada tuan dan disuruhnya supaya menetapkan bingkai pintu tuan". Kata Ismail: "Itulah ayahku dan engkaulah yang dikatakan bingkai pintu. Beliau menyuruh saya supaya tetap beristerikan engkau". Beberapa masa kemudian sesudah itu Ibrahim datang kembali dan didapatinya Ismail sedang meruncing anak panahnya di bawah pohon Dauhah, tidak jauh dari Zamzam. Setelah ia melihat ayahnya, ia berdiri menemuinya. Keduanya lalu berpelukan sebagaimana diperbuat seorang ayah dengan anaknya dan anak dengan ayahnya. Kemudian Nabi Ibrahim berkata: "Hai Ismail! Sesungguhnya Tuhan memerintahkan satu perintah kepada saya" Jawab Ismail: "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan itu!" Kata Ibrahim: "Mahukah engkau menolong saya?" Jawab Ismail: "Saya bersedia menolong ayah". Kata Ibrahim: "Sesungguhnya Tuhan memerintahkan kepada saya supaya saya mendirikan Baitullah di sini", Ia menunjuk kepada tumpukan tanah yang tinggi di sekelilingnya. Sesudah itu keduanya meninggikan (memasang) asas Bait (Kaabah). Nabi Ismail membawa batu dan Nabi Ibrahim memasangnya. Setelah pasangan itu tinggi Ismail membawa batu (untuk berpijak Ibrahim). Ibrahim lalu berdiri di atasnya untuk memasang dan Ismail menunjukkan batu. Kata Nabi: Keduanya meneruskan pembangunan sampai selesai, lalu berputar sekeliling Kaabah, mengucapkan: "Wahai Tuhan kami! Terimalah kerja kami. Sesunguhnya Engkau mendengar lagi mengetahui!"
8  
Hadis Sahih Muslim Jilid 2. Hadis Nombor 0978.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saW., sabdanya: "Ada seorang lelaki berkata, "Aku hendak bersedekah malam ini." Lalu dia keluar membawa sedekahnya dan disedekahkannya kepada perempuan lacur. Esok pagi orang banyak mempercakapkan bahawa tadi malam ada pelacur yang diberi orang sedekah. Orang itu berujar, "Wahai, Allah! Segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh kepada pelacur. Aku akan bersedekah lagi." Dia pergi pula membawa sedekahnya, lalu diberikannya kepada orang kaya. Pagi-pagi orang banyak mempercakapkannya pula, bahawa tadi malam ada orang memberi sedekah kepada orang kaya. Lalu orang yang bersedekah itu berkata, "Wahai, Allah! Untuk Mulah segala puji, kerana Engkau telah menjadikan sedekahku jatuh kepada orang kaya. Aku akan bersedekah lagi." Dia pergi pula membawa sedekahnya, dan diberikannya kepada si pencuri. Pagi-pagi orang banyak mempercakapkannya pula, bahawa tadi malam ada orang bersedekah kepada pencuri. Orang yang bersedekah itu pun berujar pula, "Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh kepada pelacur, kepada orang kaya, dan kepada pencuri.' Kemudian orang itu didatangi malaikat seraya katanya :"Sedekah anda sudah diterima baik oleh masing-masing orang yang anda beri sedekah. Adapun perempuan lacur, semoga dia berhenti dari perbuatan melacur; kepada si kaya, semoga dia menyedari dirinya dan bersedekah pula; dan untuk si pencuri, semoga dia berhenti mencuri."
9  
Hadis Sunan Ibnu Majjah Jilid 1. Hadis Nombor 0833.
Mewartakan kepada kami Ahmad bin Budail; mewartakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats; mewartakan kepada kami 'Ubaidullah, dari Nafi' dari Ibnu 'Umar, dia berkata: "Adalah Nabi Saw. membaca dalam solat maghrib: Surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas." Note: As-Sindiy berkata: Hadis ini, menurut pendapatku, dari Az-Zawa-id dan apa yang dikemukakan olehnya. Dan sesuatu yang menunjukkan/menguatkan apa yang telah saya sebutkan adalah perkataan Al-Hafizh dalam Syarah Al-Bukhariy: Aku tidak melihat ada hadis marfu' yang berisi nash atas bacaan dari surat-surat mufashshal yang pendek dalam solat, melainkan hadis Ibnu Majah dari Ibnu 'Umar, yang menerangkan dalil atas (surat Al-Kafirun dan Al-Iklas) dalam solat. Isnad hadis ini lahirnya Shahih, hanya saja ada cacatnya. Ad-Daruquthniy berkata: "Salah seorang perawi hadis ini ada yang keliru."
10  
Hadis Sahih Muslim Jilid 4. Hadis Nombor 2376.
Dari Ka'ab bin Malik r.a.. dia menceritakan tentang dirinya ketika dia tertinggal (tidak ikut berperang) dari Rasulullah saw. dalam peperangan Tabuk. Kata Ka'ab bin Malik. "Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah saw. dalam setiap peperangan yang dipimpin sendiri oleh beliau, kecuali dalam peperangan Tabuk. Selain dari itu, aku memang tertinggal pula dalam peperangan Badar. Tetapi tidak seorang pun dapat disalahkan bila tertinggal ketika itu, kerana Rasulullah saw. pergi dengan maksud hendak mencegat kafilah Quraisy. Namun Allah Ta'ala telah menghadapkan mereka dengan musuh tanpa diduga lebih dahulu. Dan aku telah baiat bersama Rasulullah saw. pada malam Aqabah di mana kami telah bersumpah setia untuk Islam. Dan aku tidak suka seandainya malam Bai'at Aqabah itu ditukar dengan perang Badar. Sekalipun Badar lebih terkenal dari Aqabah di kalangan orang banyak. Cerita mengenai sebabnya aku tertinggal dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk ialah : "Sesungguhnya aku belum pernah sedikit jua pun merasa diri ku lebih kuat dan lebih senang dan keadaan ku ketika tertinggal dalam peperangan itu. Demi Allah, aku belum pernah menyiapkan dua kenderaan kecuali untuk peperangan itu. Rasulullah saw. merencanakan penyerangan pada musim panas yang terik, menempuh perjalanan jauh serta menghadapi jumlah musuh yang banyak. Kerana itu Rasulullah saw. menjelaskan kepada kaum muslimin tugas berat yang bakal mereka hadapi, agar mereka bersiap-siap dengan sungguh-sungguh menghadapi peperangan tersebut dan Rasulullah memberitahukan sasaran yang dituju. Kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah saw. ketika itu cukup banyak, tetapi tidak ada suatu daftar yang mencatat nama-nama dan jumlah mereka. Kerana itu, bila sewaktu waktu seseorang ingin menghilang (tidak ikut berperang), hal itu boleh saja terjadi. Kerana dia mengira bahawa Rasulullah saw. tidak akan mengetahuinya, selama tidak ada wahyu memberitahu beliau. Rasulullah saw. mengadakan penyerangan dalam peperangan itu dalam musim buah-buahan dan cuaca berawan. Sebenarnya hati ku lebih condong hendak turut berperang. Rasulullah saw. dan kaum muslimin telah siap-siap hendak berangkat. Aku berencana akan berkemas bersama-sama mereka besok pagi. Setelah aku pulang ternyata aku tidak berbuat apa-apa, sambil berkata dalam hati ku, "Aku sanggup menyelesaikannya sewaktu-waktu." Ternyata hal itu berkelanjutan sedemikian rupa, sedangkan orang banyak sungguh-sungguh telah siap. Besok Subuh Rasulullah dan kaum muslimin berangkat pagi-pagi sekali, sedangkan aku belum berkemas juga. Kerana itu aku segera pulang hendak berkemas, tetapi sampai di rumah aku tidak berbuat apa-apa, sehingga pasukan berangkat seluruhnya menuju medan perang. Aku bermaksud hendak menyusul mereka, tetapi apa boleh buat yang demikian tidak ditakdirkan Allah bagi ku. Ketika aku mulai berkemas dan keluar hendak menyusul Rasulullah saw. alangkah sedihnya hati ku, kerana tidak seorang jua pun teman yang kelihatan oleh ku kecuali orang-orang munafik atau orang-orang lemah yang telah dimaafkan Allah Ta'ala tidak ikut berperang. Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut nama ku hingga sampai di Tabuk. Setelah sampai, ketika beliau duduk di tengah-tengah kaum muslimin, barulah beliau menanyakan, "Apa kerja Ka'ab bin Malik?" Seorang lelaki dari Bani Salamah menjawab, "Ya, Rasulullah! Dia terhalang kerana merasa sayang pada selimutnya." Maka berkata Mu'adz bin Jabal, "Jahat sekali ucapan mu itu! Demi Allah, ya Rasulullah! Setahu kami selama ini dia adalah orang baik." Rasulullah saw. diam saja. Beliau melihat samar-samar bayangan seseorang berpakaian putih lalu hilang ditelan fatamorgana. Maka berkata Rasulullah saw., "Engkau Abu Khaitsamah!" Kiranya dia memang Abu Khitsamah Al Anshari yang pernah bersedekah segantang kurma, lalu diejek oleh orang-orang munafik. Cerita Ka'ab bin Malik selanjutnya: "Tatkala aku mendengar berita bahawa Rasulullah saw. telah berangkat dari Tabuk hendak pulang ke Madinah, timbullah rasa takut ku kerana kesalahan ku tidak turut berperang. Oleh sebab itu aku berusaha mencari jalan agar aku terhindar dari kemarahan beliau. Lalu aku minta pendapat-pendapat keluarga ku. Tetapi tatkala aku mendengar bahawa beliau telah tiba, maka hilanglah dari ingatan ku segala fikiran buruk itu. Aku mengerti benar bahawa aku tidak akan lepas sedikit jua pun dari hukuman, walaupun dengan berbagai alasan. Kerana itu aku bertekad hendak mengaku terus terang atas kesalahan ku. Pagi-pagi waktu Subuh, Rasulullah tiba. Seperti biasa, apabila beliau tiba dari suatu perjalanan, beliau langsung ke masjid lalu solat dua rakaat, kemudian duduk di tengah-tengah orang banyak. Maka ketika itu datanglah orang-orang yang tidak turut berperang mengemukakan alasan-alasan (uzur) mereka kepada beliau dan bersumpah kepadanya. Semuanya berjumlah lebih kurang lapan puluh orang. Rasulullah saw. menerima alasan atau sumpah-sumpah mereka yang nampak nyata dan memohonkan ampun bagi mereka. Sedangkan hal-hal yang tersembunyi atau yang mereka rahsiakan, beliau serahkan kepada Allah Ta'ala. Kini tibalah giliran ku. Ketika aku memberi salam kepada beliau, beliau menyambut salam ku dengan senyum kecut, senyum kemarahan. Lalu beliau berkata, "Kemari!" Aku datang menghampiri lalu duduk di hadapan beliau. Tanya beliau, "Mengapa kamu tidak turut berperang. Bukankah kamu telah membeli kenderaan?" Jawab ku, "Ya, Rasulullah! Demi Allah, seandainya aku berhadapan dengan orang selain Anda dari penduduk dunia ini, nescaya aku akan mencari jalan keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Tetapi demi Allah! Aku tahu benar, jika aku berdusta kepada Anda sekarang, mungkin Anda menerimanya. Tetapi aku sungguh takut Allah akan sangat murka kepada ku. Dan jika aku berkata benar kepada Anda, tentu Anda akan marah kepada ku. Namun aku masih dapat mengharapkan kemaafan dari Allah Ta'ala. Demi Allah! Aku tidak mempunyai uzur (alasan) suatu apa jua pun. Bahkan aku belum pernah sesihat dan selapang seperti sekarang ini di mana aku tidak turut berperang bersama-sama Anda." Sabda Rasulullah saw., "Betul begitu? Nah, pergilah sampai Allah memutuskan perkara mu." Beberapa orang dari Bani Salamah turut bangkit bersama-sama dengan ku dan mengikuti ku. Kata mereka kepada ku, "Demi Allah! Kami tahu benar bahawa engkau belum pernah salah sekali jua pun sebelum ini. Mengapa engkau tidak minta maaf saja kepada Rasulullah saw. seperti orang-orang lain yang tidak turut berperang itu? Nescaya dosa mu diampun Allah berkat permohonan ampun dari Rasulullah saw. bagi mu." Kata Ka'ab. "Demi Allah! Mereka selalu menyalahkan ku seperti itu sehingga aku berniat hendak kembali kepada Rasulullah saw. dan menarik pengakuan ku semula." Aku bertanya kepada mereka, "Adakah orang lain yang menerima hukuman seperti aku?" Jawab mereka, "Ada! Iaitu dua orang yang mengaku bersalah seperti engkau, lalu keduanya mendapat putusan seperti yang diputuskan kepada mu." Tanya ku, "Siapa mereka?" Jawab mereka, "Murrah bin Rabi'ah Al 'Amid dan Hilal bin Umaiyah Al Waqifi." Mereka mengatakan kepada ku bahawa mereka berdua adalah orang-orang saleh yang turut dalam peperangan Badar, dan orang-orang yang patut dijadikan teladan. Setelah mereka menerangkan hal kedua orang itu, aku pun berlalu. Kata Ka'ab, "Rasulullah saw. melarang kaum muslimin bercakap-cakap dengan kami bertiga yang tidak ikut berperang. Kerana itu orang banyak menjauhi (memboikot) kami. Sikap mereka berubah terhadap kami sehingga aku merasa seperti orang asing di negeri yang ku diami, di mana penduduknya aku kenal selama ini. Hukuman seperti itu ku alami selama lima puluh hari. Kedua orang teman yang senasib dengan ku tetap saja tinggal di rumah mereka dan menangis selalu. Tetapi aku lebih muda dan lebih kuat dari mereka. Aku tetap keluar seperti biasa, menghadiri solat berjemaah dan pergi ke pasar walau tidak seorang jua pun yang mahu berbicara dengan ku. Bahkan aku tetap mendatangi Rasulullah saw. dan memberi salam kepada beliau ketika beliau berada dalam majlis taklim sesudah solat. Aku bertanya dalam hati ku, "Adakah beliau menggerakkan bibir beliau untuk menjawab salam ku, atau tidak?" Aku pun solat berdekatan dengan beliau sambil menjeling kepada beliau. Setelah selesai solat beliau menengok kepada ku, tetapi bila aku menoleh kepadanya beliau membuang muka dari ku. Setelah suasana diboikot kaum muslimin seperti itu berjalan agak lama, pada suatu hari aku pergi ke rumah Abu Qatadah, anak pakcik (saudara sepupu) ku, dan orang yang sangat sayang kepada ku. Aku memberi salam kepadanya. Tetapi demi Allah, dia tidak menjawab salam ku. Lalu aku berkata kepadanya, "Ya, Abu Qatadah! Aku bertanya kepada mu, tidak tahukah kamu bahawa aku tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Dia diam saja. Aku tanya lagi, tetapi dia tetap membisu. Lalu ku tanya lagi. Maka jawabnya, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Air mata ku mengalir mendengar jawapannya, lalu aku berpaling dan terus pulang. Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan di pasar, seorang petani penduduk Syam yang sering menjual makanan di Madinah bertanya, "Siapa yang dapat menunjukkan Ka'ab bin Malik kepada ku?" katanya. Orang banyak menunjuk kepada ku. Petani itu mendatangi ku dan memberikan sepucuk surat berasal dari Raja Ghassan. Aku memang pandai membaca dan menulis. Lalu ku baca surat itu, yang isinya antara lain sebagai berikut : "Amma ba'du. Kami mendengar khabar bahawa Anda diboikot oleh teman-teman Anda. Allah tidak akan membuat Anda terhina dalam negeri dan tidak pula tersia-sia. Temuilah kami, nescaya kami akan membantu Anda dengan segala daya dan yang ada pada kami." Selesai membaca surat itu lalu kata ku, "Ini suatu ujian juga!" Maka ku dekat api lalu ku bakar surat itu. Setelah berlalu empat puluh hari dan wahyu turun kepada Rasulullah saw. maka datanglah seorang utusan beliau kepada ku seraya berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan kamu supaya menjauhi isteri mu!" Tanya ku, "Apakah aku harus meceraikannya atau bagaimana?" Jawabnya, "Tidak! Hanya menjauhinya. Kerana itu jangan kamu dekati dia!" Beliau juga mengutus orang kepada kedua teman yang senasib dengan ku, dengan perintah yang sama. Maka ku katakan kepada isteri ku, "Pulanglah kamu ke rumah orang tua mu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah memberi keputusan terhadap perkara ku ini." Kata Ka'ab, "Isteri Hilal bin Umaiyah datang kepada Rasulullah saw. memohon keringanan kepada beliau, katanya : Ya Rasulullah! Hilal bin Umaiyah sudah tua. Dia akan tersia-sia tanpa khadam (pelayan). Apakah Anda keberatan kalau aku menjadi pelayannya?" Jawab beliau, "Tidak mengapa, asal dia tidak mendekati mu." Kata isteri Hilal, "Demi Allah! Dia tidak mempunyai keinginan apa-apa. Bahkan demi Allah, dia selalu menangis saja sejak menerima hukuman sampai hari ini." Kerana itu sebahagian keluarga ku menyarankan pula kepada ku, "Seandainya engkau minta izin kepada Rasulullah saw. mengenai isteri mu, mungkin beliau memberi izin kepada mu seperti halnya isteri Hilal bin Umaiyah diberi izin oIeh beliau melayani Hilal." Jawab ku, "Aku tidak akan memintakan izin kepada beliau untuk isteri ku. Aku tidak tahu pasti apakah Rasulullah saw. akan memberi izin atau tidak. Aku masih muda dan sanggup mengurus diri sendiri." Keadaan membujang seperti itu telah berlalu pula sepuluh hari. Jadi sudah lima puluh hari sejak hari pertama kami mulai diboikot. Kemudian, sesudah aku solat Subuh di atas loteng rumah kami, pagi-pagi sesudah malam yang kelima puluh, ketika aku memikirkan nasib kami sesuai dengan apa yang diperingatkan Allah kepada kami, di mana bumi ini terasa amat sempit dengan segala kelapangan yang ada, tiba-tiba terdengar oleh ku suara memanggil dengan sekuat-kuatnya, "Ya, Ka'ab bin Malik! Gembiralah, Aku segera sujud, kerana aku yakin kelapangan telah tiba. Rasulullah saw. telah memberi tahu orang banyak, bahawa Allah swt. telah menerima taubat kami ketika solat Subuh. Kerana itu orang banyak datang mengucapkan selamat kepada ku dan sesudah itu mereka pergi pula kepada kedua orang teman ku. Di antara mereka ada yang berlari dan ada pula yang berkenderaan. Bahkan ada seorang teman dari suku Aslam sengaja menemui ku melalui bukit. Suara-suara mengelu-ngelukan ku lebih cepat sampai ke telinga ku dari kuda mereka. Ketika suara ucapan selamat untuk menggembirakan ku dari orang yang pertama-tama sampai ke telinga ku, dengan spontan ku buka baju ku lalu ku berikan kepadanya kerana sangat gembira. Padahal demi Allah, ketika itu aku tidak mempunyai baju selain baju tersebut, sehingga aku terpaksa meminjam (ketika menghadap Rasulullah saw. Aku pergi menghadap Rasulullah saw. Setiap orang yang bertemu dengan ku mengucapkan selamat kerana taubat ku telah diterima Allah swt. Kata mereka, "Bahagialah Anda kerana taubat Anda telah diterima Allah swt." Aku masuk ke masjid. Ku dapati Rasulullah saw. sedang duduk dikelilingi para sahabat. Thalhah bin 'Ubaidillah segera bangkit dan berlari menyambut ku serta menyalami ku sambil mengucapkan selamat. Demi Allah, tidak ada orang Quraisy yang berdiri selain dia. Kerana itu pula aku tidak melupakan Thalhah. Setelah aku memberi salam kepada Rasulullah saw., maka dengan muka berseri-seri kerana gembira beliau berkata, "Gembiralah kamu dengan kebaikan yang kamu terima hari ini, yang belum pernah kamu terima sejak kamu lahir." Tanya ku, "Apakah kebaikan itu datang dari Anda atau dari Allah Ta'ala?" Jawab beliau, "Bahkan dari Allah Ta'ala!" Biasanya apabila Rasulullah saw. gembira, wajah beliau bersinar-sinar bagaikan bulan. Kami tahu benar akan hal itu. Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata kepadanya, "Ya, Rasulullah! Kerana taubat ku diterima Allah, maka aku hendak menyedekahkan harta ku kepada Allah dan Rasul-Nya." Jawab Rasulullah saw., "Tahanlah sebahagian harta mu itu. Itulah yang baik!" Jawab ku, "Aku akan menahan harta yang ku peroleh di Khaibar." Kata ku selanjutnya, "Ya, Rasulullah! Allah telah melepaskan ku kerana berkata benar. Maka untuk kesempurnaan taubat ku, aku tidak akan berkata-kata selamanya melainkan yang benar." Kata Ka'ab selanjutnya, "Aku tidak tahu seorang muslim yang pernah diuji Allah kerana berkata benar, semenjak aku berkata demikian kepada Rasulullah saw. hingga sekarang. Itulah cubaan terbaik yang dilakukan Allah Ta'ala kepada ku. Demi Allah, aku berjanji tidak akan pernah berdusta. Aku berharap kepada Allah semoga Dia memelihara ku sampai akhir hayat ku, Maka turunlah ayat-ayat surat Taubah, 9 :117 - 119, sebagai berikut: "Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang Ansar yang mengikut Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka." (9: 117), "Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (permintaan taubat mereka) hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu sebenarnya tetap luas, dan jiwa pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahawa tidak ada tempat lari dari (seksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka, agar tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (9:118). "Hai, orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar."(9:119). Cerita Ka'ab selanjutnya, "Demi Allah! Belum pernah aku merasakan nikmat pada diri ku sejak aku masuk Islam yang lebih besar daripada ketika aku berkata benar terhadap Rasulullah saw. Seandainya aku berdusta kepada beliau nescaya celakalah aku seperti orang-orang yang pernah berdusta, sebagai dinyatakan dalam firman Allah Ta'ala: "Kelak mereka akan bersumpah kepada mu dengan nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka, kerana sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (9: 95) "Mereka akan bersumpah kepada mu, agar kamu redha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu redha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu." (9:96). Cerita Ka'ab selanjutnya, "Kami bertiga tertinggal, maksudnya tertinggal bertaubat dari mereka-mereka yang telah diterima taubatnya oleh Rasulullah saw. secara lahir (sedang batinnya terserah kepada Allah swt.), serta dimohonkan ampun oleh beliau kepada Allah Ta'ala. Sedangkan terhadap kami bertiga Rasulullah menangguhkannya hingga datang keputusan Allah swt. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala: Dan tiga orang yang tertinggal (9: 118), bukan tertinggal tidak ikut berperang, tetapi penerimaan taubat kami ditangguhkan."

0 komentar:

Posting Komentar